وَالْبَحْرِ الْمَسْجُوْرِۙ
Wal-baḥril-masjūr(i).
dan demi lautan yang dipanaskan (di dalamnya ada api),
dan demi lautan yang penuh gelombang yang di dalam tanahnya terdapat api.
Dalam ayat ini Allah bersumpah, Demi al-Baḥrul-Masjūr (laut yang di dalamnya ada api) yakni laut yang tertahan dari banjir karena kalau laut itu dilepaskan, ia akan menenggelamkan semua yang ada di atas bumi sehingga hewan dan tumbuh-tumbuhan semuanya akan habis musnah. Maka rusaklah aturan alam dan tidaklah ada hikmah alam ini dijadikan.
Sebagian ulama berpendapat dan menetapkan bahwa lapisan bumi itu seluruhnya seperti semangka, dan kulitnya seperti kulit semangka, artinya bahwa perbandingan kulit bumi dan api yang ada di dalam kulitnya itu seperti kulit semangka dengan isinya. Sebab itu, sekarang kita sebenarnya berada di atas api yang besar, yakni di atas laut yang di bawahnya penuh dengan api dan laut itu tertutup dengan kulit bumi dari segala penjurunya. Dari waktu ke waktu api itu naik ke atas laut yang tampak pada waktu gempa dan pada waktu gunung berapi meletus; seperti gunung berapi Visofius yang meletus di Italia pada tahun 1909 M yang telah menelan kota Mozaina, dan gempa yang telah terjadi di Jepang pada tahun 1952 M yang memusnahkan kota-kotanya sekaligus.
Menurut Jumhur bahwa yang dimaksud dalam ayat ini ialah laut bumi. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam kata “masjūr” di antara pendapatnya ialah berarti: dinyalakan api di hari Kiamat seperti dalam Al-Qur’an:
وَاِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
Dan apabila lautan dijadikan meluap. (al-Infiṭār/82: 3)
Firman-Nya yang lain:
وَاِذَا الْبِحَارُ سُجِّرَتْ
Dan apabila lautan dipanaskan. (at-Takwīr/81: 6)
1. Aṭ-Ṭūr اَلطُّوْر (aṭ-Ṭūr/52: 1)
Arti kata aṭ-ṭūr sangat beragam di antaranya, sebagai kata benda, yang secara etimologi bukan dari bahasa Arab. Kata aṭ-ṭūr dari kata bahasa Suryani, yang berarti “gunung,” atau memang nama sebuah gunung di Syam. Dalam ayat ini berarti “gunung” secara umum, dengan catatan semua gunung yang ada tumbuhannya, dan secara tidak langsung berarti khusus Gunung Sinai di Madyan (sekarang negara Mesir) tempat Nabi Musa menerima wahyu yang sangat menentukan. Dalam pembukaan surah ini dipakai sebagai sumpah, “Demi Gunung” seperti yang terdapat juga dalam surah at-Tīn, yang sekaligus menyebutkan empat nama sebagai simbol sumpah, tin, zaitun, Gunung Sinai dan kota Makkah. Dalam surah aṭ-Ṭūr hanya disebut satu nama, sebagai isyarat betapa hebatnya ayat-ayat berikutnya sesudah ayat pembukaan itu.
2. Al-Baitul-Ma‘mūr الْبَيْتُ الْمَعْمُوْرُ (aṭ-Ṭūr/52: 4)
Al-Baitul-ma‘mūr, yang secara harfiah berarti rumah atau tempat ibadah yang ramai dikunjungi orang. Ayat ini dapat ditafsirkan, bahwa rumah ibadah yang dimaksud biasanya Ka‘bah yang banyak dikunjungi Muslimin setiap hari dalam melaksanakan salat dan umrah, terutama pada musim haji. Atau mungkin juga rumah ibadah lain secara umum yang digunakan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, rumah (kemah) ibadah orang Yahudi (tabernakel) di daerah gurun, tempat ibadah Nabi Sulaiman (Haikal Sulaiman), rumah tempat Nabi Isa beribadah. Umumnya para ulama mengaitkan ayat ini dengan Ka‘bah setelah dibersihkan oleh Nabi Muhammad dari segala macam berhala seperti disebutkan di atas. Menurut beberapa mufasir juga bermakna, “jantung manusia, tempat segala hasrat dan keinginan yang membara untuk menemukan dan menyembah Allah.”









































