وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوْعِۙ
Was-saqfil-marfū‘(i).
demi atap yang ditinggikan (langit),
Dan demi atap,yaitu langit, yang ditinggikan dan kukuh tanpa tiang penyangga,
Dalam ayat ini Allah swt bersumpah dengan atap yang ditinggikan (langit) yaitu alam tinggi yang mempunyai beberapa matahari, beberapa bulan, bintang-bintang tetap, dan bintang-bintang beredar. Di sana juga terletak ‘Arasy dan kursi-Nya; demikian juga malaikat-malaikat-Nya (yang tidak pernah menolak perintah Allah swt dan selalu patuh terhadap apa yang Allah perintahkan kepada mereka). Di sana juga ada benda-benda alam yang tak terhitung banyaknya hanya Allah swt yang mengetahuinya, dan balatentara Allah swt yang kita juga tak mengetahui hakikatnya kecuali Dia yang menciptakannya. Dalam firman Allah swt dijelaskan:
وَمَا يَعْلَمُ جُنُوْدَ رَبِّكَ اِلَّا هُوَ
Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri. (al-Muddaṡṡir/74: 31)
Sufyan aṡ-Ṡaury, Syu‘bah dan Abdul Ahwaṣ meriwayatkan dari Simak dari Harb dari Khalid bin Ar‘arah dari Ali bahwa as-Saqful Marfu‘ artinya ‘langit’. Sufyan membaca firman Allah sebagai berikut:
وَجَعَلْن َا السَّمَاۤءَ سَقْفًا مَّحْفُوْظًا
Da n Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara. (al-Anbiyā'/21: 32)
Maksudnya ialah bahwa langit itu sebagai atap dan yang dimaksud dengan “terpelihara” ialah segala yang berada di langit itu dijaga oleh Allah swt dengan peraturan dan hukum-hukum yang menyebabkan semuanya berjalan dengan teratur dan tertib, sesuai sistem dan hukumnya.
1. Aṭ-Ṭūr اَلطُّوْر (aṭ-Ṭūr/52: 1)
Arti kata aṭ-ṭūr sangat beragam di antaranya, sebagai kata benda, yang secara etimologi bukan dari bahasa Arab. Kata aṭ-ṭūr dari kata bahasa Suryani, yang berarti “gunung,” atau memang nama sebuah gunung di Syam. Dalam ayat ini berarti “gunung” secara umum, dengan catatan semua gunung yang ada tumbuhannya, dan secara tidak langsung berarti khusus Gunung Sinai di Madyan (sekarang negara Mesir) tempat Nabi Musa menerima wahyu yang sangat menentukan. Dalam pembukaan surah ini dipakai sebagai sumpah, “Demi Gunung” seperti yang terdapat juga dalam surah at-Tīn, yang sekaligus menyebutkan empat nama sebagai simbol sumpah, tin, zaitun, Gunung Sinai dan kota Makkah. Dalam surah aṭ-Ṭūr hanya disebut satu nama, sebagai isyarat betapa hebatnya ayat-ayat berikutnya sesudah ayat pembukaan itu.
2. Al-Baitul-Ma‘mūr الْبَيْتُ الْمَعْمُوْرُ (aṭ-Ṭūr/52: 4)
Al-Baitul-ma‘mūr, yang secara harfiah berarti rumah atau tempat ibadah yang ramai dikunjungi orang. Ayat ini dapat ditafsirkan, bahwa rumah ibadah yang dimaksud biasanya Ka‘bah yang banyak dikunjungi Muslimin setiap hari dalam melaksanakan salat dan umrah, terutama pada musim haji. Atau mungkin juga rumah ibadah lain secara umum yang digunakan beribadah kepada Allah Yang Maha Esa, rumah (kemah) ibadah orang Yahudi (tabernakel) di daerah gurun, tempat ibadah Nabi Sulaiman (Haikal Sulaiman), rumah tempat Nabi Isa beribadah. Umumnya para ulama mengaitkan ayat ini dengan Ka‘bah setelah dibersihkan oleh Nabi Muhammad dari segala macam berhala seperti disebutkan di atas. Menurut beberapa mufasir juga bermakna, “jantung manusia, tempat segala hasrat dan keinginan yang membara untuk menemukan dan menyembah Allah.”
















































