Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 23 - Surat Aṭ-Ṭūr (Gunung)
الطّور
Ayat 23 / 49 •  Surat 52 / 114 •  Halaman 524 •  Quarter Hizb 53 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

يَتَنَازَعُوْنَ فِيْهَا كَأْسًا لَّا لَغْوٌ فِيْهَا وَلَا تَأْثِيْمٌ

Yatanāza‘ūna fīhā ka'sal lā lagwun fīhā wa lā ta'ṡīm(un).

Di dalam (surga) itu mereka saling mengulurkan gelas (yang isinya) tidak (menimbulkan) ucapan atau sikap yang tidak berfaedah dan tidak pula (menimbulkan) perbuatan dosa.

Makna Surat At-Tur Ayat 23
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Di dalam surga itu mereka bersuka ria dan merasakan kegembiraan yang tiada habis. Mereka saling mengulurkan gelas yang isinya minuman yang tidak memabukkan dan tidak pula menyebabkan munculnya ucapan yang tidak berfaedah ataupun perbuatan dosa seperti halnya minuman keras di dunia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Dalam ayat ini Allah swt menggambarkan tentang kegembiraan mereka di surga yaitu mereka masing-masing mengambil gelas minuman mereka. Mereka duduk sambil bersulang dengan teman-teman mereka, bersenda-gurau seperti terjadi dalam suatu kelompok sahabat, sebagai gambaran be-tapa riang-gembiranya mereka.

Minuman khamar di akhirat tidak memabukkan seperti halnya dengan khamar di dunia, dan tidak pula menyebabkan orang berbicara melantur tak tentu arah atau mabuk seperti peminum di dunia. Allah swt telah menjelaskan dalam ayat lain, yakni tentang khamar di akhirat dan sedap rasa makanan yaitu ayat yang berbunyi dalam firman-Nya:

بَيْضَا ءَ لَذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْن َۚ ٤٦ لَا فِيْهَا غَوْلٌ وَّلَا هُمْ عَنْهَا يُنْزَفُوْنَ ٤٧

(warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada di dalamnya (unsur) yang memabukkan dan mereka tidak mabuk karenanya. (aṣ-Ṣaffāt/37: 46-47)

Dan firman-Nya:

لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَ

Me reka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. (al-Wāqi‘ah/56: 19)

Isi Kandungan Kosakata

1. Alatnāhum أَلَتْنَاهُمْ (aṭ-Ṭūr/52: 21)

“Alatnāhum” atau tepatnya “wa mā alatnāhum” adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau), dari alata-ya‘litu-altan. Kata tersebut artinya sama dengan naqaṣnāhum. Ungkapan wa mā alatnāhum artinya “Kami tidak mengurangi mereka (para ayah).” Yang dimaksud adalah bahwa Allah swt tidak akan mengurangi apapun yang seharusnya diberikan kepada para ayah dengan sebab ada yang harus diberikan-Nya kepada para anak keturunan. Ini berarti Tuhan akan memberikan apa pun berupa balasan kepada para ayah sesuai dengan amalnya. Demikian pula kepada para anak-keturunan diberikan balasannya sesuai amal mereka, dan apa yang diberikan kepada anak-keturunan mereka itu tidak mengganggu atau mengurangi apa yang semesti-nya diberikan kepada para ayah mereka. Jadi, para ayah mempunyai balasan atas amal mereka. Begitu pula para anak akan memperoleh balasannya sendiri dari Allah, sesuai amal mereka sewaktu di dunia.

Kalimat ini menurut qiraat Imam Nafi‘, Abu ‘Amru, Ibn Amir, Imam ‘Aṣim, Imam Hamzah dan Imam al-Kisa'i, dibaca wa mā alatnāhum (dengan hamzah dan fatḥah huruf lam). Sedangkan Imam Ibn Kaṣīr membacanya wa mā alitnāhum (dengan kasrah huruf lām), dan menurut riwayat Ibn Syambużi dari riwayat Qunbul dari Imam Ibn Kaṣīr, ungkapan tersebut dibaca wa ma litnāhum (dengan meniadakan hamzah dan kasrah huruf lām). Abu al-‘Āliyah, Abu Nahik dan Mu‘āż al-Qāri' membacanya dengan meniadakan huruf hamzah dan fatḥah huruf lām: wa mā latnāhum. Ibn al-Samifa` membacanya dengan memanjangkan bunyi huruf hamzah, wa mā ālatnāhum, dan ‘Aṣim al-Jahdariy serta aḍ-Ḍaḥḥak membacanya wa mā walatnāhum (dengan huruf wāw yang fathah, tanpa huruf hamzah dan dengan fathah huruf lam). Sedangkan Ibn Mas‘ūd dan Abu al-Mutawakkil membacanya wa mā alatnāhum (dengan mutakallim waḥdah).

Ungkapan tersebut, baik dibaca wa mā alatnāhum maupun wa mā alattuhum artinya tidak berbeda jauh, yaitu bahwa Tuhan tidak mengurangi apa yang menjadi bagian para ayah dengan sebab Dia memberikan apa yang menjadi bagian para anak-keturunan mereka.

2. Rahīn رَهِيْنٌ (aṭ-Ṭūr/52: 21).

Kata rahīn atau rahīnah diungkap dua kali dalam kitab suci: yaitu dalam surah aṭ-Ṭūr/52: 21 dan dalam surah al-Muddaṡṡir/71: 38. Yang pertama mużakkar dan yang kedua mu'annaṡ berasal dari rahana-yarhanu-rahnan-wa rahīnan. Kata ini artinya tergadai atau terikat (murtahinun). Maksudnya adalah bahwa setiap orang terikat dengan perbuatannya sendiri, dan sese-orang tidak disiksa dengan sebab dosa atau kesalahan orang lain. Masing-masing orang akan dipertemukan dengan hasil amalnya sendiri sewaktu hidup di dunia. Ungkapan serupa ini dinyatakan untuk menyifati secara khusus penghuni neraka, bahwa balasan apapun yang diterima mereka sangat terikat dengan yang mereka lakukan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto