Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 24 - Surat Aṭ-Ṭūr (Gunung)
الطّور
Ayat 24 / 49 •  Surat 52 / 114 •  Halaman 524 •  Quarter Hizb 53.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

۞ وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَاَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُوْنٌۚ

Wa yaṭūfu ‘alaihim gilmānul lahum ka'annahum lu'lu'um maknūn(un).

Di sekitar mereka ada anak-anak muda belia berkeliling untuk (melayani) mereka, seakan-akan (anak muda belia) itu bagaikan mutiara yang tersimpan.

Makna Surat At-Tur Ayat 24
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dan di surga itu, di sekitar mereka ada pelayan berupa anak-anak muda yang berkeliling untuk melayani keperluan mereka. Para pemuda itu tampak tampan dan berpakaian rapi seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan di tempat yang terjaga.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menjelaskan bahwa penghuni surga dikelilingi oleh pelayan-pelayan yang muda belia yang membawa minuman. Pelayan-pelayan itu selalu siap diperintah. Mereka tampan dan cantik seperti mutiara yang berkilauan indah dan tersimpan dalam tempat yang tersembunyi. Dalam ayat yang lain yang sama, artinya Allah menjelaskan:

يَطُوْف ُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَ ۙ ١٧ بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَ ۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ ١٨

Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir. (al-Wāqi‘ah/56: 17-18)

Terkait dengan ayat ini Qatadah berkata, “Saya mendengar kabar Rasulullah ditanya tentang pelayan surga yang seperti mutiara, maka bagaimana dengan yang dilayani?” Rasulullah bersabda:

وَالَّذِ نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ فَضْلَ مَا بَيْنَهُمْ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَا ئِرِ الْكَوَاكِبِ. (رواه ابن جرير و ابن المنذر)

“Demi Allah bahwa perbedaan kelebihan antara mereka, seperti kelebihan malam bulan purnama atas semua bintang.” (Riwayat Ibnu Jarīr dan Ibnu Munżir)

Diriwayatkan bahwa derajat yang paling rendah di surga ialah orang yang bilamana ia memanggil pelayannya, maka datanglah seribu pelayan berdiri di pintunya, dengan menjawab. Labbaik, labbaik (ya… ya…).”

Isi Kandungan Kosakata

1. Alatnāhum أَلَتْنَاهُمْ (aṭ-Ṭūr/52: 21)

“Alatnāhum” atau tepatnya “wa mā alatnāhum” adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau), dari alata-ya‘litu-altan. Kata tersebut artinya sama dengan naqaṣnāhum. Ungkapan wa mā alatnāhum artinya “Kami tidak mengurangi mereka (para ayah).” Yang dimaksud adalah bahwa Allah swt tidak akan mengurangi apapun yang seharusnya diberikan kepada para ayah dengan sebab ada yang harus diberikan-Nya kepada para anak keturunan. Ini berarti Tuhan akan memberikan apa pun berupa balasan kepada para ayah sesuai dengan amalnya. Demikian pula kepada para anak-keturunan diberikan balasannya sesuai amal mereka, dan apa yang diberikan kepada anak-keturunan mereka itu tidak mengganggu atau mengurangi apa yang semesti-nya diberikan kepada para ayah mereka. Jadi, para ayah mempunyai balasan atas amal mereka. Begitu pula para anak akan memperoleh balasannya sendiri dari Allah, sesuai amal mereka sewaktu di dunia.

Kalimat ini menurut qiraat Imam Nafi‘, Abu ‘Amru, Ibn Amir, Imam ‘Aṣim, Imam Hamzah dan Imam al-Kisa'i, dibaca wa mā alatnāhum (dengan hamzah dan fatḥah huruf lam). Sedangkan Imam Ibn Kaṣīr membacanya wa mā alitnāhum (dengan kasrah huruf lām), dan menurut riwayat Ibn Syambużi dari riwayat Qunbul dari Imam Ibn Kaṣīr, ungkapan tersebut dibaca wa ma litnāhum (dengan meniadakan hamzah dan kasrah huruf lām). Abu al-‘Āliyah, Abu Nahik dan Mu‘āż al-Qāri' membacanya dengan meniadakan huruf hamzah dan fatḥah huruf lām: wa mā latnāhum. Ibn al-Samifa` membacanya dengan memanjangkan bunyi huruf hamzah, wa mā ālatnāhum, dan ‘Aṣim al-Jahdariy serta aḍ-Ḍaḥḥak membacanya wa mā walatnāhum (dengan huruf wāw yang fathah, tanpa huruf hamzah dan dengan fathah huruf lam). Sedangkan Ibn Mas‘ūd dan Abu al-Mutawakkil membacanya wa mā alatnāhum (dengan mutakallim waḥdah).

Ungkapan tersebut, baik dibaca wa mā alatnāhum maupun wa mā alattuhum artinya tidak berbeda jauh, yaitu bahwa Tuhan tidak mengurangi apa yang menjadi bagian para ayah dengan sebab Dia memberikan apa yang menjadi bagian para anak-keturunan mereka.

2. Rahīn رَهِيْنٌ (aṭ-Ṭūr/52: 21).

Kata rahīn atau rahīnah diungkap dua kali dalam kitab suci: yaitu dalam surah aṭ-Ṭūr/52: 21 dan dalam surah al-Muddaṡṡir/71: 38. Yang pertama mużakkar dan yang kedua mu'annaṡ berasal dari rahana-yarhanu-rahnan-wa rahīnan. Kata ini artinya tergadai atau terikat (murtahinun). Maksudnya adalah bahwa setiap orang terikat dengan perbuatannya sendiri, dan sese-orang tidak disiksa dengan sebab dosa atau kesalahan orang lain. Masing-masing orang akan dipertemukan dengan hasil amalnya sendiri sewaktu hidup di dunia. Ungkapan serupa ini dinyatakan untuk menyifati secara khusus penghuni neraka, bahwa balasan apapun yang diterima mereka sangat terikat dengan yang mereka lakukan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto