Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 25 - Surat Aṭ-Ṭūr (Gunung)
الطّور
Ayat 25 / 49 •  Surat 52 / 114 •  Halaman 524 •  Quarter Hizb 53.25 •  Juz 27 •  Manzil 7 • Makkiyah

وَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَسَاۤءَلُوْنَ

Wa aqbala ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍiy yatasā'alūn(a).

Sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertegur sapa.

Makna Surat At-Tur Ayat 25
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang-orang bertakwa itu sangat menikmati anugerah Allah, dan sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain untuk bercengkerama dan saling bertegur sapa dalam keriangan.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini Allah swt menerangkan bahwa penghuni surga itu saling mendatangi penghuni yang lain baik antara bapak, ibu dan keluarga mereka yang seiman di dunia dan juga dengan penghuni surga yang lain, bertanya tentang keadaan mereka di dunia dahulu, yaitu meliputi ibadah atau se-putar berbagai upaya nahi munkar karena takutnya mereka akan azab Allah swt ketika hidup di dunia. Kemudian mereka memuji Allah swt yang telah menghilangkan sedih, pilu, duka dan kegelisahan mereka. Mereka di surga tidak lagi merasakan kesusahan dan kesukaran mencari nafkah hidup atau mencari rezeki dan segala hal yang berkenaan dengan kehidupan. Mereka hanya tinggal menikmati berbagai kesenangan saja.

Diriwayatkan bahwa Anas berkata sebagai berikut:

قاَلَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهَ وَسَلَّمَ اِذَا دَخَلَ اَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ اشْتَاقُوْا اِلَى الاِخْوَانِ فَيَجِيْئُ سَرِيْرُ هٰذَا حَتىَّ يُحَاذِيَ سَرِيْرَ هٰذَا فَيَتَحَدَّثَا نِ فَيَتَّكِئُ ذَا وَيَتَّكِئُ ذَا فَيَتَحَدَّثَا نِ بِمَا كَانَا فِى الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ يَا فُلَانُ أَتَدْرِي اَيُّ يَوْمٍ غَفَرَ اللّٰهُ لَنَا؟ اَلْيَوْمَ الَّذِي كُنَّا فِي مَوْضِعِ كَذَا وَكَذَا فَدَعَوْنَا اللّٰهَ فَغَفَرَلَنَا. (رواه البزار)

Rasulullah saw bersabda, “Apabila penghuni surga telah memasuki surga dan mereka rindu kepada kawan-kawan mereka, lalu datanglah sofa seseorang mendekat hingga berhadapanlah dengan sofa yang lainnya keduanya duduk santai sambil bercakap-cakap dan membicarakan amal mereka di dunia dahulu. Maka berkatalah seseorang dari mereka, “Hai fulan, tahukah engkau pada hari apa Tuhan mengampuni kita? Pada hari di tempat, di mana kita berdoa kepada Allah kemudian kita diampuni-Nya.” (Riwayat al-Bazzār)

Isi Kandungan Kosakata

1. Alatnāhum أَلَتْنَاهُمْ (aṭ-Ṭūr/52: 21)

“Alatnāhum” atau tepatnya “wa mā alatnāhum” adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau), dari alata-ya‘litu-altan. Kata tersebut artinya sama dengan naqaṣnāhum. Ungkapan wa mā alatnāhum artinya “Kami tidak mengurangi mereka (para ayah).” Yang dimaksud adalah bahwa Allah swt tidak akan mengurangi apapun yang seharusnya diberikan kepada para ayah dengan sebab ada yang harus diberikan-Nya kepada para anak keturunan. Ini berarti Tuhan akan memberikan apa pun berupa balasan kepada para ayah sesuai dengan amalnya. Demikian pula kepada para anak-keturunan diberikan balasannya sesuai amal mereka, dan apa yang diberikan kepada anak-keturunan mereka itu tidak mengganggu atau mengurangi apa yang semesti-nya diberikan kepada para ayah mereka. Jadi, para ayah mempunyai balasan atas amal mereka. Begitu pula para anak akan memperoleh balasannya sendiri dari Allah, sesuai amal mereka sewaktu di dunia.

Kalimat ini menurut qiraat Imam Nafi‘, Abu ‘Amru, Ibn Amir, Imam ‘Aṣim, Imam Hamzah dan Imam al-Kisa'i, dibaca wa mā alatnāhum (dengan hamzah dan fatḥah huruf lam). Sedangkan Imam Ibn Kaṣīr membacanya wa mā alitnāhum (dengan kasrah huruf lām), dan menurut riwayat Ibn Syambużi dari riwayat Qunbul dari Imam Ibn Kaṣīr, ungkapan tersebut dibaca wa ma litnāhum (dengan meniadakan hamzah dan kasrah huruf lām). Abu al-‘Āliyah, Abu Nahik dan Mu‘āż al-Qāri' membacanya dengan meniadakan huruf hamzah dan fatḥah huruf lām: wa mā latnāhum. Ibn al-Samifa` membacanya dengan memanjangkan bunyi huruf hamzah, wa mā ālatnāhum, dan ‘Aṣim al-Jahdariy serta aḍ-Ḍaḥḥak membacanya wa mā walatnāhum (dengan huruf wāw yang fathah, tanpa huruf hamzah dan dengan fathah huruf lam). Sedangkan Ibn Mas‘ūd dan Abu al-Mutawakkil membacanya wa mā alatnāhum (dengan mutakallim waḥdah).

Ungkapan tersebut, baik dibaca wa mā alatnāhum maupun wa mā alattuhum artinya tidak berbeda jauh, yaitu bahwa Tuhan tidak mengurangi apa yang menjadi bagian para ayah dengan sebab Dia memberikan apa yang menjadi bagian para anak-keturunan mereka.

2. Rahīn رَهِيْنٌ (aṭ-Ṭūr/52: 21).

Kata rahīn atau rahīnah diungkap dua kali dalam kitab suci: yaitu dalam surah aṭ-Ṭūr/52: 21 dan dalam surah al-Muddaṡṡir/71: 38. Yang pertama mużakkar dan yang kedua mu'annaṡ berasal dari rahana-yarhanu-rahnan-wa rahīnan. Kata ini artinya tergadai atau terikat (murtahinun). Maksudnya adalah bahwa setiap orang terikat dengan perbuatannya sendiri, dan sese-orang tidak disiksa dengan sebab dosa atau kesalahan orang lain. Masing-masing orang akan dipertemukan dengan hasil amalnya sendiri sewaktu hidup di dunia. Ungkapan serupa ini dinyatakan untuk menyifati secara khusus penghuni neraka, bahwa balasan apapun yang diterima mereka sangat terikat dengan yang mereka lakukan.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto