اَمْ يَقُوْلُوْنَ شَاعِرٌ نَّتَرَبَّصُ بِهٖ رَيْبَ الْمَنُوْنِ
Am yaqūlūna syā‘irin natarabbaṣu bihī raibal-manūn(i).
Bahkan, mereka (orang musyrik Makkah) berkata, “Dia (Nabi Muhammad) adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.”
Tidak hanya menuduhmu tukang tenung dan orang gila, bahkan mereka yang kafir itu juga berkata, “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan, seperti musibah atau kematian, menimpanya.”
Dalam ayat ini Allah swt menegaskan kepada Muhammad saw supaya ia mengancam mereka dengan mengajak menunggu hari kehancuran mereka. Muhammad saw juga menyatakan bahwa ia juga menunggu seperti mereka mengenai akan datangnya ketentuan dari Tuhan, supaya mereka mengetahui siapa yang berakhir dengan kebaikan dan siapa pula yang mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat.
Sikap orang-orang kafir yang sombong memang kadang-kadang perlu dihadapi dengan tegas. Apalagi tuduhan mereka memang sudah keterlaluan dengan menyatakan Nabi sebagai tukang tenung, sebagai orang gila dan sebagainya, padahal pendapat-pendapat mereka hanya didasarkan pada prasangka yang tidak berdasar sama sekali. Maka perlu ditegaskan bahwa risalah Nabi adalah dari Allah yang Mahakuasa, oleh karena itu Nabi tidak perlu takut membuktikan semuanya sampai di hari akhirat nanti.
1. Raibal-Manūn رَيْبَ الْمَنُوْن (aṭ-Ṭūr/52: 30).
Raibal-manūn dalam Al-Qur’an disebut hanya sekali, dalam ayat ini, terdiri dari dua kata: raib dan al-manūn. Maksudnya paling kurang terdapat dua macam maksud. Pertama, menurut Ibnu ‘Abbās, maksudnya adalah kematian. Kedua, menurut Mujāhid, maksudnya kejadian-kejadian atau segala musibah yang terjadi di sepanjang masa. Al-manūn menurut Abu Su‘aib artinya masa (ad-dahr). Jadi, raibal-manūn artinya semacam kecelakaan atau musibah yang diharapkan bisa menimpa Nabi Muhammad saw sewaktu-waktu sepanjang hidupnya. Kecelakaan itulah yang ditunggu-tunggu para musuh Nabi yang menuduh beliau sebagai penyair gila, padahal beliau seorang Rasulullah.
2. Taqawwalah تَقَوَّلَهُ (aṭ-Ṭūr/52: 33).
Taqawwalah kata dasarnya qala-yaqūlu-qawl(an), artinya “berkata” atau “perkataan.” Dari ṡulaṡi mujarrad qawala diubah menjadi taqawwala dengan wazan (timbangan) tafa‘‘ala, sehingga taqawwala artinya “berkata dengan dibuat-buat dan perkataan itu mengandung kebohongan.” ”Perkataan” atau “berkata” yang mengandung kebohongan disebut dan diistilahkan “taqawwala.” Orang kafir beranggapan bahwa Al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad tak lebih hanya sebagai at-taqawwul (untaian kata yang dibuat-buat dan mengandung kebohongan). Hal tersebut mereka katakan semata-mata karena mereka tidak beriman pada apa yang disampaikan Nabi Muhammad saw. Anggapan mereka bahwa Al-Qur’an sebagai al-taqawwul tidaklah benar.









































