فَمَنَّ اللّٰهُ عَلَيْنَا وَوَقٰىنَا عَذَابَ السَّمُوْمِ
Fa mannallāhu ‘alainā wa waqānā ‘ażābas-samūm(i).
Allah menganugerahkan karunia kepada kami dan menjaga kami dari azab neraka.
Sebagai rahmat dari dari Allah, maka Allah sesuai dengan janji-Nya memberikan karunia surga kepada kami dan senantiasa memelihara kami dari azab neraka yang tidak terkirakan pedihnya.
Kemudian dalam ayat ini Allah swt merinci tanya jawab atas berbagai kesenangan yang mereka nikmati. Mereka berkata bahwa sesung-guhnya mereka sewaktu di dunia, pada waktu itu di tengah-tengah keluarga mereka timbul rasa takut akan azab Allah dan siksanya. Kemudian Allah meng-hilangkan rasa takut itu dengan mengaruniakan nikmat-Nya kepada mereka yaitu mereka terpelihara dari api neraka yang disebut as-samūm.
Perasaan takut mereka di dunia akan azab Allah mendorong mereka mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya meskipun ketika itu berada di tengah-tengah keluarga, mereka memperoleh ketenangan. Diriwayatkan bahwasanya ‘Aisyah berkata, “Andaikata Allah membukakan neraka di bumi ini seujung jari saja, maka akan terbakarlah bumi dan seluruh isinya.”
1. Alatnāhum أَلَتْنَاهُمْ (aṭ-Ṭūr/52: 21)
“Alatnāhum” atau tepatnya “wa mā alatnāhum” adalah fi‘il māḍī (kata kerja lampau), dari alata-ya‘litu-altan. Kata tersebut artinya sama dengan naqaṣnāhum. Ungkapan wa mā alatnāhum artinya “Kami tidak mengurangi mereka (para ayah).” Yang dimaksud adalah bahwa Allah swt tidak akan mengurangi apapun yang seharusnya diberikan kepada para ayah dengan sebab ada yang harus diberikan-Nya kepada para anak keturunan. Ini berarti Tuhan akan memberikan apa pun berupa balasan kepada para ayah sesuai dengan amalnya. Demikian pula kepada para anak-keturunan diberikan balasannya sesuai amal mereka, dan apa yang diberikan kepada anak-keturunan mereka itu tidak mengganggu atau mengurangi apa yang semesti-nya diberikan kepada para ayah mereka. Jadi, para ayah mempunyai balasan atas amal mereka. Begitu pula para anak akan memperoleh balasannya sendiri dari Allah, sesuai amal mereka sewaktu di dunia.
Kalimat ini menurut qiraat Imam Nafi‘, Abu ‘Amru, Ibn Amir, Imam ‘Aṣim, Imam Hamzah dan Imam al-Kisa'i, dibaca wa mā alatnāhum (dengan hamzah dan fatḥah huruf lam). Sedangkan Imam Ibn Kaṣīr membacanya wa mā alitnāhum (dengan kasrah huruf lām), dan menurut riwayat Ibn Syambużi dari riwayat Qunbul dari Imam Ibn Kaṣīr, ungkapan tersebut dibaca wa ma litnāhum (dengan meniadakan hamzah dan kasrah huruf lām). Abu al-‘Āliyah, Abu Nahik dan Mu‘āż al-Qāri' membacanya dengan meniadakan huruf hamzah dan fatḥah huruf lām: wa mā latnāhum. Ibn al-Samifa` membacanya dengan memanjangkan bunyi huruf hamzah, wa mā ālatnāhum, dan ‘Aṣim al-Jahdariy serta aḍ-Ḍaḥḥak membacanya wa mā walatnāhum (dengan huruf wāw yang fathah, tanpa huruf hamzah dan dengan fathah huruf lam). Sedangkan Ibn Mas‘ūd dan Abu al-Mutawakkil membacanya wa mā alatnāhum (dengan mutakallim waḥdah).
Ungkapan tersebut, baik dibaca wa mā alatnāhum maupun wa mā alattuhum artinya tidak berbeda jauh, yaitu bahwa Tuhan tidak mengurangi apa yang menjadi bagian para ayah dengan sebab Dia memberikan apa yang menjadi bagian para anak-keturunan mereka.
2. Rahīn رَهِيْنٌ (aṭ-Ṭūr/52: 21).
Kata rahīn atau rahīnah diungkap dua kali dalam kitab suci: yaitu dalam surah aṭ-Ṭūr/52: 21 dan dalam surah al-Muddaṡṡir/71: 38. Yang pertama mużakkar dan yang kedua mu'annaṡ berasal dari rahana-yarhanu-rahnan-wa rahīnan. Kata ini artinya tergadai atau terikat (murtahinun). Maksudnya adalah bahwa setiap orang terikat dengan perbuatannya sendiri, dan sese-orang tidak disiksa dengan sebab dosa atau kesalahan orang lain. Masing-masing orang akan dipertemukan dengan hasil amalnya sendiri sewaktu hidup di dunia. Ungkapan serupa ini dinyatakan untuk menyifati secara khusus penghuni neraka, bahwa balasan apapun yang diterima mereka sangat terikat dengan yang mereka lakukan.















































