وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ
Wa akhrajatil-arḍu aṡqālahā.
bumi mengeluarkan isi perutnya,
dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandung-nya, baik kekayaan yang ada di dalamnya atau mayat-mayat yang terkubur,
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa pada hari terjadi keguncangan itu, karena dahsyatnya, bumi menghamburkan isi perutnya yang terpendam berupa logam, harta simpanan, dan mayat-mayat dari kubur. Dalam ayat lain, Allah berfirman:
وَاِذَا الْاَرْضُ مُدَّتْۙ ٣ وَاَلْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْۙ ٤
Dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. (al-Insyiqāq/84: 3-4)
Contohnya, sebagaimana terjadi dengan letusan gunung Krakatau pada tahun 1883, gempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004, lumpur panas di Sidoarjo Jawa Timur sejak tahun 2006, dan lain-lain yang begitu dahsyat sehingga mengeluarkan lava dan isi perut bumi. Guncangan pada hari kiamat jauh lebih dahsyat lagi.
Zilzālahā زِلْزَالَهَا (az-Zalzalah/99: 1)
Kata zilzālahā terdiri dari kata: zilzāl dan hā yang digandengkan dengannya, maknanya adalah guncangannya, yang terambil dari kata zalzala-yuzalzilu-zalzalatan wa zilzālan, yang berarti mengguncangkan. Maksud zilzālahā dalam Surah az-Zalzalah ayat 1 tersebut adalah bahwa pada awal terjadinya hari Kiamat, bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.
Kata zilzāl dan yang serumpun dengannya disebutkan 6 kali dalam Al-Qur’an, antara lain dua kali disebutkan dalam Surah az-Zalzalah ayat 1 dan semuanya berarti guncangan.

