Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 8 - Surat Aż-Żāriyāt (Yang Menerbangkan)
الذّٰريٰت
Ayat 8 / 60 •  Surat 51 / 114 •  Halaman 521 •  Quarter Hizb 52.75 •  Juz 26 •  Manzil 7 • Makkiyah

اِنَّكُمْ لَفِيْ قَوْلٍ مُّخْتَلِفٍۙ

Innakum lafī qaulim mukhtalif(in).

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berselisih.701)

Makna Surat Az-Zariyat Ayat 8
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

“Sungguh, wahai orang-orang musyrik kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, tentang Nabi Muhammad dan Al-Qur’an.” Di antara mereka ada yang menganggap beliau sebagai tukang sihir, ada yang mengatakan bahwa ia adalah ahli syair, dan ada pula yang meng-anggapnya gila. Sedang mengenai Al-Qur’an, ada yang menyebutnya sebagai dongeng tentang kisah masa lalu, ada yang menilainya sebagai kitab syair, dan ada pula yang menganggapnya sebagai mantra sihir.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menegaskan tentang isi sumpah tersebut, bahwa sesungguhnya orang-orang musyrik benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat tentang Muhammad saw dan Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang menganggap Muhammad saw sebagai tukang syair, ada pula yang menu-duhnya sebagai seorang tukang sihir atau gila, dan terhadap Al-Qur’an ada yang menuduh sebagai kitab dongengan purbakala, kitab sihir atau pantun.

Perbedaan pendapat yang sangat mencolok itu menjadi bukti yang nyata tentang rusaknya alam pikiran mereka yang penuh dengan syirik.

Isi Kandungan Kosakata

1. Żātil-ḥubuk ذَاتِ الْحُبُكِ (aż-Żāriyāt/51: 7)

Kata żāt berarti yang memiliki. Sedangkan kata al-ḥubuk jamak dari kata al-ḥabku dan al-ḥabikah, sebuah kata jadian dari ḥabaka-yaḥbuku-ḥabkan. Kata ḥabaka memiliki akar makna “mengencangkan jalinan.” Kain yang ditenun dengan rapat dan padat disebut maḥbūk. Darinya diambil kata ḥabikah yang berarti jalur-jalur di atas pasir akibat angin yang bergerak di atasnya. Inilah akar makna kata yang sedang ditafsirkan ini. Ada beberapa riwayat pendapat mengenai makna kata al-ḥubuk ini. Menurut Ibnu ‘Abbas, artinya adalah “yang memiliki keindahan kemegahan, keelokan, dan kokoh.” Demikian pula pendapat Mujāhid, ‘Ikrimah, Sa‘id bin Jubair, Abu Malik, dan lain-lain. Namun, menurut aḍ-Ḍaḥḥāk dan al-Minhal bin ‘Amr, kata ḥubuk berarti garis-garis di atas pasir yang terkena angin. Pada hakikatnya kedua pendapat ini tidak bertentangan, karena kedua sifat ini bisa dikompromikan.

2. Al-Kharrāṣūn الْخَرَّاصُوْن َ (aż-Żāriyāt/51: 10)

Kata al-kharrāṣūn adalah bentuk mubālagah (melebih-melebihkan/ hiperbola) dari kata al-khāriṣ, isim fā‘il yang terbentuk dari kata kharaṣa-yakhruṣu-kharṣ an. Kata kharaṣa memiliki akar makna “menduga-menduga apa yang tidak diyakininya.” Kalimat kharaṣat-tamar berarti menaksir kema-tangan kurma kering. Menaksir kurma disebut kharṣun karena tindakan ini dilakukan atas dasar dugaan, bukan pengetahuan pasti. Selanjutnya kebohongan disebut dengan kata kharṣun karena di dalam dusta itu terdapat unsur praduga yang tidak benar. Makna inilah yang dimaksud dengan ayat ini. Jadi, yang dimaksud dengan kata al-kharraṣūn adalah orang-orang yang berdusta. Ada beberapa riwayat yang berbeda tentang makna kata ini. Ada yang mengatakan mereka itu orang-orang yang ragu, ada yang mengatakan para dukun, dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mengatakan tidak ada kebangkitan setelah mati. Tetapi bila diamati, seluruh pendapat tersebut tidak keluar dari aspek bahasa.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto