وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
Wa fī anfusikum, afalā tubṣirūn(a).
(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?
dan di samping itu, sesungguhnya keagungan Allah juga banyak ditemukan pada dirimu sendiri. Sesudah dipahami semua tanda-tanda itu, maka apakah kamu tetap lalai dan tidak memperhatikan semua yang dapat disaksikan itu?
Ayat ini mengisyaratkan kepada manusia bahwa pada diri manusia terdapat bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah seperti perbedaan kemampuan, perbedaan bahasa, kecerdasan dan banyak macamnya anggota tubuh yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
1. Yahja‘ūn يَهْجَعُوْن (aż-Żāriyāt/51: 17)
Akar kata yang terdiri dari ha'-jim-‘ain menunjukkan arti “tidur pada malam hari.” Ayat ini menjelaskan tentang sifat orang yang bertakwa, yaitu mereka yang sedikit tidur di malam hari. Selebihnya untuk beribadah kepada Allah. Sebagian mufasir mengartikan ayat ini bahwa mereka (muttaqīn) selalu menyisihkan waktu malam untuk melaksanakan salat, baik di awal malam atau di pertengahannya.
2. Al-Maḥrūm الْمَحْرُوْم (aż-Żāriyāt/51: 19)
Akar katanya ḥa'-ra'-mim maknanya berkisar pada arti al-man‘ atau tercegah, terhalangi dan lain sebagainya. Makanan yang haram adalah makanan yang dicegah untuk dimakan. Tanah Mekah disebut tanah haram karena di tanah ini tidak diberbolehkan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kesuciannya. Maḥram adalah orang yang tidak boleh dinikahi. Kata al-maḥrūm pada ayat ini adalah orang yang tidak diberi keluasan rezeki. Sebagian ahli tafsir mengartikannya sebagai orang yang menjaga diri dari meminta-minta, padahal dirinya dalam kekurangan. Sebagian lagi mengartikannya dengan orang yang terkena malapetaka terhadap tanamannya atau hewannya.














































