وَجَعَلُوْا لَهٗ مِنْ عِبَادِهٖ جُزْءًا ۗاِنَّ الْاِنْسَانَ لَكَفُوْرٌ مُّبِيْنٌ ۗ ࣖ
Wa ja‘alū lahū min ‘ibādihī juz'ā(n), innal-insāna lakafūrum mubīn(un).
Mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian dari-Nya.676) Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar (nikmat Tuhan) yang nyata.
Walaupun Allah telah menerangkan kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit dan bumi serta menundukkan hewan ternak untuk manusia, sebagian manusia masih saja mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Dan mereka, yakni orang-orang musyrik, menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya, yang merupakan ciptaan-Nya sebagai bagian dari-Nya, dengan menganggap bahwa malaikat adalah anak-anak Tuhan. Sesungguhnya, manusia yang mempercayai dan mengatakan demikian itu benar-benar pengingkar nikmat Tuhan, yang melampaui batas dalam kekafirannya, lagi yang nyata kesyirikan dan keingkarannya.
Allah menerangkan bahwa sekalipun orang musyrik mengakui bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, namun di samping itu mereka pun menetapkan bahwa Allah mempunyai anak, dan malaikat merupakan anak perempuan-Nya.
Mereka mengatakan, Allah tidak azali seperti makhluk, sama-sama mempuyai anak, malah merendahkan-Nya karena Allah dikatakan mempunyai anak perempuan, sedang mereka mempunyai anak laki-laki. Orang-orang Arab pada waktu itu menganggap bahwa orang yang mempunyai anak perempuan itu hina. Jadi, tidak heran kalau ayat itu ditutup dengan satu ketegasan bahwa manusia benar-benar pengingkar nikmat Tuhan, yang telah dikaruniakan kepada mereka.
Al-Ḥilyah الْحِلْيَةُ (az-Zukhruf/43: 18)
Kata al-ḥilyah berasal dari kata kerja ḥalā-yaḥli, yang artinya menghiasi. Ḥalyan yang merupakan bentuk maṣdar (kata benda) dapat diartikan sebagai perhiasan. Dari kata ini muncul kata al-ḥilyatu yang artinya perhiasan yang dipakai perempuan yang terbuat dari logam (emas, perak, platina, dan lainnya) atau bebatuan, seperti permata, berlian, safir, dan lainnya. Kata al-ḥilyatu juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang ditampakkan dari segi warna, bentuk luarnya, atau geraknya.
Pada ayat ini, al-ḥilyah diartikan sebagai perhiasan yang tujuannya untuk mengungkapkan bahwa jenis manusia yang senang berhias, yaitu kaum perempuan, tidak layak untuk dikatakan sebagai anak Allah. Apalagi kebanyakan kaum ini lebih sering mengikuti penilaian perasaan ketimbang akal mereka. Keadaan ini tentu kadang-kadang berujung pada pertimbangan yang tidak akurat. Lebih dari itu, baik lelaki maupun perempuan dari jenis makhluk memang bukan anak Allah swt. Karena Dia adalah zat yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.















































