فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَ
Fa żarhum yakhūḍū wa yal‘abū ḥattā yulāqū yaumahumul-lażī yū‘adūn(a).
Maka, biarkanlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main (di dunia) sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.
Jika mereka tetap bersikeras dengan kesesatan itu, maka biarkanlah mereka, wahai Nabi Muhammad, tenggelam dalam kesesatannya dan bermain-main dengan kesesatan yang mereka yakini itu sampai mereka menemui hari yang di janjikan kepada mereka, yakni hari Kiamat di mana mereka akan mempertanggungjawabkan semua amal yang telah mereka lakukan.
Karena orang-orang musyrik itu tidak mau mengubah kepercayaan mereka yang batil dan sesat itu, maka Allah menyampaikan pesan kepada Rasulullah, “Ya Muhammad, biarkanlah orang-orang yang membuat dusta tentang Allah dengan mengatakan bahwa Dia mempunyai anak, memperbincangkan kebohongan mereka dan biarkanlah mereka hidup bersenang-senang dalam kekafiran di dunia ini, sampai datang azab yang dijanjikan Allah kepada mereka.
1. Awwalul ‘Ābidīn اَوَّلُ الْعَابِدِيْنَ (az-Zukhruf/43: 81)
Dua rangkaian kata dalam ayat ini, awwal dan ‘ābidīn, yang pertama dari akar kata awwalu, jamak awā'ilu, awwalūn, feminin ūlā, jamak uwāl, ūliyāt yang berarti ‘awal,’ ‘pertama,’ ‘mula-mula. “Yang kedua, ‘ābidïn, dari kata kerja (verb) ‘abada, ya‘budu, ‘abdan, harfiah berarti ‘menyembah,’ ‘beribadah,’ dalam arti teknis ‘tunduk kepada Allah dan kehendak-Nya.’ Ayat di atas berarti ‘akulah yang pertama akan menyembahnya.’
Perintah dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah agar menegaskan kepada kaum musyrik Mekah, bahwa jika anggapan mereka, bahwa Allah punya anak dapat dibuktikan dengan alasan-alasan yang kuat, maka akulah orang pertama yang akan mengakui dan menyembah anak itu. Tetapi semuanya mustahil, karena memang sangat bertentangan dengan tauhid, akidah yang dibawanya sebagai risalah. Ungkapan ini menekankan pada suatu kemustahilan Allah akan punya anak, dan penekanan ini diperkuat oleh ayat-ayat lain (al-Ikhlāṣ/112: 3, az-Zumar/39: 4, al-Anbiyā’/21: 22 dan sekian lagi ayat-ayat senada).
2. Yakhūḍū يَخُوْضُوا (az-Zukhruf/43: 83)
Kata Yakhūḍū adalah fi‘il muḍāri‘ ḍamir jama‘ yang dibuang nūn dibelakangnya, yaitu dari khāḍa-yakhūḍu-khauḍa n yang berarti menyelam, tenggelam, masuk ke dalam air.
Seseorang yang masuk ke air yang dalam, kakinya tidak menyentuh dasar laut atau sungai tempat ia tercebur, sehingga ia tidak dapat berjalan karena ia tidak memiliki pijakan, akhirnya ia tenggelam. Demikianlah keadaan orang musyrik yang melecehkan agama yang disebutkan dalam Surah az-Zukhruf ayat 83, ia berbicara dan bersikap tanpa dasar. Karena itu kata yakhūḍū pada umumnya tidak digunakan kecuali untuk makna pembicaraan dan sikap yang tidak berdasar.
Penggunaan kata yakhūḍū dalam menggambarkan sikap orang-orang musyrik itu mengisyaratkan bahwa kebanyakan pembicaraan mereka tidak berdasar, karena mereka jauh dari ketentuan dan tuntunan agama.















































