Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 82 - Surat Az-Zukhruf (Perhiasan dari Emas)
الزّخرف
Ayat 82 / 89 •  Surat 43 / 114 •  Halaman 495 •  Quarter Hizb 50.25 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

سُبْحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

Subḥāna rabbis-samāwāti wal-arḍi rabbil-‘arsyi ‘ammā yaṣifūn(a).

Maha Suci Tuhan pemilik langit dan bumi, Tuhan pemilik ʻArasy, dari apa yang mereka sifatkan.”

Makna Surat Az-Zukhruf Ayat 82
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Mahasuci Tuhan pemelihara langit dan bumi, Tuhan pemilik ‘Arsy, dari segala kekurangan, Mahasuci Allah Yang Maha Esa dari apa yang mereka sifatkan itu.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menyatakan kesucian Allah dari anggapan orang-orang musyrik itu dengan menyatakan, “Mahasuci Allah yang memiliki langit dan bumi beserta semua yang ada di dalamnya, Dia memiliki ‘Arasy yang agung, mustahil bagi Allah mempunyai seorang anak seperti yang dikatakan mereka.”

Isi Kandungan Kosakata

1. Awwalul ‘Ābidīn اَوَّلُ الْعَابِدِيْنَ (az-Zukhruf/43: 81)

Dua rangkaian kata dalam ayat ini, awwal dan ‘ābidīn, yang pertama dari akar kata awwalu, jamak awā'ilu, awwalūn, feminin ūlā, jamak uwāl, ūliyāt yang berarti ‘awal,’ ‘pertama,’ ‘mula-mula. “Yang kedua, ‘ābidïn, dari kata kerja (verb) ‘abada, ya‘budu, ‘abdan, harfiah berarti ‘menyembah,’ ‘beribadah,’ dalam arti teknis ‘tunduk kepada Allah dan kehendak-Nya.’ Ayat di atas berarti ‘akulah yang pertama akan menyembahnya.’

Perintah dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah agar menegaskan kepada kaum musyrik Mekah, bahwa jika anggapan mereka, bahwa Allah punya anak dapat dibuktikan dengan alasan-alasan yang kuat, maka akulah orang pertama yang akan mengakui dan menyembah anak itu. Tetapi semuanya mustahil, karena memang sangat bertentangan dengan tauhid, akidah yang dibawanya sebagai risalah. Ungkapan ini menekankan pada suatu kemustahilan Allah akan punya anak, dan penekanan ini diperkuat oleh ayat-ayat lain (al-Ikhlāṣ/112: 3, az-Zumar/39: 4, al-Anbiyā’/21: 22 dan sekian lagi ayat-ayat senada).

2. Yakhūḍū يَخُوْضُوا (az-Zukhruf/43: 83)

Kata Yakhūḍū adalah fi‘il muḍāri‘ ḍamir jama‘ yang dibuang nūn dibelakangnya, yaitu dari khāḍa-yakhūḍu-khauḍa n yang berarti menyelam, tenggelam, masuk ke dalam air.

Seseorang yang masuk ke air yang dalam, kakinya tidak menyentuh dasar laut atau sungai tempat ia tercebur, sehingga ia tidak dapat berjalan karena ia tidak memiliki pijakan, akhirnya ia tenggelam. Demikianlah keadaan orang musyrik yang melecehkan agama yang disebutkan dalam Surah az-Zukhruf ayat 83, ia berbicara dan bersikap tanpa dasar. Karena itu kata yakhūḍū pada umumnya tidak digunakan kecuali untuk makna pembicaraan dan sikap yang tidak berdasar.

Penggunaan kata yakhūḍū dalam menggambarkan sikap orang-orang musyrik itu mengisyaratkan bahwa kebanyakan pembicaraan mereka tidak berdasar, karena mereka jauh dari ketentuan dan tuntunan agama.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto