قُلْ اِنْ كَانَ لِلرَّحْمٰنِ وَلَدٌ ۖفَاَنَا۠ اَوَّلُ الْعٰبِدِيْنَ
Qul in kāna lir-raḥmāni walad(un), fa ana awwalul-‘ābidīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, akulah orang pertama yang menyembah (anak itu).
Pada ayat-ayat yang lalu, Allah menggambarkan pengingkaran orang-orang kafir Mekah terhadap kebenaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad. Pada ayat ini, Allah menggambarkan bantahan terhadap kepercayaan mereka bahwa Tuhan mempunyai anak. “Katakanlah, wahai Muhammad, "Jika benar dan terbukti bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, seperti yang kamu duga, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan anak itu." Akan tetapi, ternyata apa yang mereka duga itu tidak terbukti.
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa seandainya ar-Raḥmān, Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak dan mereka dapat membuktikan kebenarannya dengan alasan-alasan yang kuat, maka Nabi Muhammad adalah orang pertama yang mengakui dan mengagungkan-Nya, sebagaimana orang memuliakan anak seorang raja karena memuliakan bapaknya. Pendapat ini berdasar karena bahwa anak tuhan merupakan bagian dari Tuhan, karena itu kedudukan putranya itu sama dengan kedudukan-Nya sendiri.
Pengertian di atas menunjukkan suatu penegasan bahwa hal tersebut sangat mustahil bagi Allah. Firman Allah:
لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ ٤
Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (az-Zumar/39: 4)
1. Awwalul ‘Ābidīn اَوَّلُ الْعَابِدِيْنَ (az-Zukhruf/43: 81)
Dua rangkaian kata dalam ayat ini, awwal dan ‘ābidīn, yang pertama dari akar kata awwalu, jamak awā'ilu, awwalūn, feminin ūlā, jamak uwāl, ūliyāt yang berarti ‘awal,’ ‘pertama,’ ‘mula-mula. “Yang kedua, ‘ābidïn, dari kata kerja (verb) ‘abada, ya‘budu, ‘abdan, harfiah berarti ‘menyembah,’ ‘beribadah,’ dalam arti teknis ‘tunduk kepada Allah dan kehendak-Nya.’ Ayat di atas berarti ‘akulah yang pertama akan menyembahnya.’
Perintah dalam ayat ini ditujukan kepada Rasulullah agar menegaskan kepada kaum musyrik Mekah, bahwa jika anggapan mereka, bahwa Allah punya anak dapat dibuktikan dengan alasan-alasan yang kuat, maka akulah orang pertama yang akan mengakui dan menyembah anak itu. Tetapi semuanya mustahil, karena memang sangat bertentangan dengan tauhid, akidah yang dibawanya sebagai risalah. Ungkapan ini menekankan pada suatu kemustahilan Allah akan punya anak, dan penekanan ini diperkuat oleh ayat-ayat lain (al-Ikhlāṣ/112: 3, az-Zumar/39: 4, al-Anbiyā’/21: 22 dan sekian lagi ayat-ayat senada).
2. Yakhūḍū يَخُوْضُوا (az-Zukhruf/43: 83)
Kata Yakhūḍū adalah fi‘il muḍāri‘ ḍamir jama‘ yang dibuang nūn dibelakangnya, yaitu dari khāḍa-yakhūḍu-khauḍa n yang berarti menyelam, tenggelam, masuk ke dalam air.
Seseorang yang masuk ke air yang dalam, kakinya tidak menyentuh dasar laut atau sungai tempat ia tercebur, sehingga ia tidak dapat berjalan karena ia tidak memiliki pijakan, akhirnya ia tenggelam. Demikianlah keadaan orang musyrik yang melecehkan agama yang disebutkan dalam Surah az-Zukhruf ayat 83, ia berbicara dan bersikap tanpa dasar. Karena itu kata yakhūḍū pada umumnya tidak digunakan kecuali untuk makna pembicaraan dan sikap yang tidak berdasar.
Penggunaan kata yakhūḍū dalam menggambarkan sikap orang-orang musyrik itu mengisyaratkan bahwa kebanyakan pembicaraan mereka tidak berdasar, karena mereka jauh dari ketentuan dan tuntunan agama.















































