يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِّنْ ذَهَبٍ وَّاَكْوَابٍ ۚوَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الْاَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْاَعْيُنُ ۚوَاَنْتُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَۚ
Yuṭāfu ‘alaihim biṣiḥāfim min żahabiw wa akwāb(in), wa fīhā mā tasytahīhil-anfusu wa talażżul-a‘yun(u), wa antum fīhā khālidūn(a).
Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas dan di dalamnya (surga) terdapat apa yang diingini oleh hati dan dipandang sedap oleh mata serta kamu kekal di dalamnya.
Di dalam surga nanti kepada mereka yang beriman dan bertakwa itu diedarkan piring-piring dari emas yang berisi aneka macam makanan yang lezat dan juga gelas-gelas minum yang berisi aneka macam minuman yang lezat, dan di dalamnya, yakni di dalam surga itu terdapat apa saja yang di ingini oleh hati dan segala yang sedap di pandang mata. Dan kamu sekalian, wahai orang-orang yang bertakwa dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, akan menjadi orang-orang yang kekal di dalamnya.
Setelah orang-orang yang beriman beserta keluarga mereka masuk surga, datanglah kepada mereka pelayan-pelayan membawa piring-piring emas yang berisi makanan-makanan yang lezat dan piala-piala yang berisi minuman yang menyegarkan jasmani dan rohani. Di dalam surga itu mereka memperoleh semua yang mereka inginkan, semua yang menyejukkan dan menenteramkan hati mereka, semua yang indah menurut pandangan dan pendengaran mereka. Tidaklah dapat digambarkan keadaan surga itu sebelumnya, karena semuanya itu belum pernah ada contoh dan bandingannya dalam kehidupan duniawi. Dinyatakan pula bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan kekal di dalam surga mengecap kenikmatan hidup di dalamnya.
1. Al-Akhillā’u اَلأَخِلاَّءُ (az-Zukhruf/43: 67)
Kata al-akhillā’u adalah bentuk jamak dari kata khalīl, yaitu teman akrab yang persahabatannya telah masuk ke relung hati masing-masing, atau kekasih. Kata lain yang seasal dengan khalīl disebut 3 kali dalam Al-Qur’an, yakni pada Surah al-Furqān/25: 28, an-Nisā'/4:125 dan al-Isrā’/17: 73.
Kata khalīl berasal dari kata al-khullah yang berarti celah, yakni ruang kosong yang terdapat di antara dua benda, atau yang berarti fakir, yakni orang yang sangat membutuhkan. Seseorang yang mempunyai kebutuhan menunjukkan adanya celah-celah kekosongan dalam hidupnya yang mendorong dia berusaha keras menutupinya, atau membutuhkan orang lain yang dapat membantu untuk menutupinya. Kekosongan di sini adalah kekosongan jasmani dan rohani. Kekosongan jasmani dapat ditutupi dengan materi, sedangkan kekosongan rohani hanya dapat ditutupi dengan siraman rohani, seperti kasih sayang, cinta dan sebagainya. Dari sinilah lahir istilah khalīl yang diartikan sebagai “kekasih.”
Kata khalīl yang diambil dari kata khullah, juga dipergunakan untuk pengertian “kekasih yang sejati”. Kasih seperti ini hanya dimiliki Allah dan orang-orang yang tertentu yang telah mendapat petunjuk dari Allah. Nabi Ibrahim diangkat Allah sebagai khalīl (an-Nisā'/4:125), karena cintanya yang sejati kepada Allah. Karena cinta sejatinya itulah, Nabi Ibrahim berjuang menyiarkan agama tauhid, rela dibakar oleh raja Namrud, bahkan rela mengorbankan anak kandungnya. Cintanya kepada Allah menghapuskan cintanya kepada selain Allah.
2. Biṣiḥāfin بِصِحَافٍ (az-Zukhruf/43: 71)
Kata ṣiḥāf adalah jamak dari ṣaḥfah yang secara literal berarti sesuatu yang terbentang secara lebar dan luas. Karena itu permukaan tanah disebut aṣ-ṣaḥīf. Aṣ-ṣaḥfah juga berarti piring besar, bahkan juga wajah, lembaran atau kertas yang digunakan untuk menulis disebut aṣ-ṣaḥīfah.
Kata ṣiḥaf yang berbentuk jamak dari aṣ-ṣaḥfah disebut satu kali dalam Al-Qur’an, yang berarti piring-piring besar (az-Zukhruf/43: 71). Ayat tersebut berbicara dalam konteks kenikmatan yang diberikan Allah kepada penghuni surga.

















































