Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 64 - Surat Az-Zukhruf (Perhiasan dari Emas)
الزّخرف
Ayat 64 / 89 •  Surat 43 / 114 •  Halaman 494 •  Quarter Hizb 50.25 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

اِنَّ اللّٰهَ هُوَ رَبِّيْ وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

Innallāha huwa rabbī wa rabbukum fa‘budūh(u), hāżā ṣirāṭum mustaqīm(un).

Sesungguhnya Allah, Dialah Tuhanku dan Tuhanmu. Sembahlah Dia! Ini adalah jalan yang lurus.”

Makna Surat Az-Zukhruf Ayat 64
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sungguh Allah yang kamu takuti, taati, dan patuhi itu, Dialah Tuhanku dan Tuhanmu yang telah menciptakan aku dan kamu dan telah memberikan berbagai nikmat kepadaku dan kepadamu, maka sembahlah Dia satu-satunya, jangan menyekutukan Dia dengan yang lain. Ini adalah jalan yang lurus yang dapat menyelamatkan kamu dari siksaan-Nya yang amat pedih.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Nabi Isa menegaskan inti ajaran yang disampaikannya, yaitu bahwa Tuhan hanyalah Allah. Allah adalah Tuhan semua makhluk, Tuhan dia dan Tuhan mereka juga. Konsekuensi mempertuhankan Allah adalah menyembah-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Menyembah Allah adalah mengerjakan ibadah untuk-Nya, dan mengabdi kepada-Nya adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Maka jangan menyembah selain dari Allah, karena hal itu akan membawa manusia kepada kesesatan. Itulah jalan yang lurus, yaitu jalan hidup benar yang menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat. “Jalan lurus” dalam ayat ini adalah tauhid dan perbuatan baik. “Jalan lurus” dalam ayat 61 adalah percaya kepada adanya hari akhirat yang juga menghendaki perbuatan baik. Dengan demikian “jalan yang lurus” dalam kedua ayat itu sama hakikatnya, karena iman kepada Allah menghendaki manusia iman kepada hari akhirat dan berbuat baik, dan iman kepada hari akhirat juga menghendaki manusia iman kepada Allah dan berbuat baik.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaṣiddūn يَصِدُّوْنَ (az-Zukhruf/43: 57)

Kalimat yaṣiddūn merupakan fi‘il muḍāri‘ yang berasal dari akar kata ṣadda-yaṣuddu-ṣaddan yang berarti berpaling dari sesuatu. Arti awalnya adalah tali yang melingkari sesuatu. Dari kata ini kemudian muncul makna penolakan, pencegahan atau menghalang-halangi. Ṣaddahu ‘anil-amr, berarti ia mencegah dan menghalang-halangi untuk melakukan sesuatu. Penolakan juga bisa diungkapkan dengan memalingkan muka karena merasa enggan bertemu (fa anta lahū taṣaddā). Kata ṣadda-yaṣiddu berarti tertawa karena merasa aneh bercampur dengan rasa kaget. Kalimat ṣadda-yaṣiddu ini mengandung arti meremehkan. Iżā qaumuka minhu yaṣiddun berarti ketika kaummu bersorak, merasa kaget dan heran. Kalimat ini juga mengandung arti bertepuk tangan, al-Anfāl/8: 35 (illā mukāan wa taṣdiyah), karena telapak tangan satu sama lainnya saling menghalangi sehingga menimbulkan suara. Aṣ-ṣadīd artinya air nanah yang terdapat antara daging dan kulit yang bercampur dengan darah. Dalam Ibrāhīm/14: 16, dijelaskan bahwa penghuni neraka akan meminum air nanah yang bau. Aṣ-ṣadd juga berarti gunung, karena gunung bisa menghalangi pandangan mata.

Pada ayat ini Allah menjelaskan sikap kaum Quraisy ketika putera Maryam yaitu Isa dijadikan perumpamaan. Ketika Rasulullah membacakan di hadapan kaum Quraisy Surah al-Anbiyā’/21: 98 yang artinya, “Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” Tiba-tiba seorang Quraisy bernama Abdullah ibn Za‘bari menanyakan kepada Rasulullah, seandainya begitu berarti Isa yang disembah kaum Nasrani juga menjadi kayu bakar Jahanam. Seketika Nabi terdiam dan mereka pun menertawakan beliau. Apa yang mereka pertanyakan sebetulnya hanyalah untuk mencari-cari perselisihan dengan Nabi Muhammad.

2. Khaṣimūn خَصِمُوْنَ (az-Zukhruf/43: 58)

Kata ini adalah bentuk jamak dari kata khaṣim yang berasal dari akar kata khaṣama-yakhṣimu-khaṣm an yang berarti bermusuhan, berbantah-bantahan dan pertengkaran. Kata khaṣim bisa digunakan untuk bentuk mufrad, muṡanna atau jama‘. Kata ini mengandung arti pertentangan dan upaya untuk saling mengalahkan. Khāṣama melibatkan dua pihak yang bermusuhan. Rajul khaṣimun artinya seseorang yang suka bertentangan. Al-Khiṣm (dengan kasrah) menandakan permusuhan itu sudah mengakar. Khuṣmu berarti sisi atau sudut, bentuk jamaknya adalah akhṣām. Kata khasim adalah kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Berbeda dengan khaṣīm, khasim adalah yang mengetahui permusuhan walaupun dia tidak memusuhi. Sedangkan khaṣīm (dengan mād) adalah yang memusuhi orang lain. Khaṣama juga berarti memberikan potongan harga, seakan-akan pembeli memotong harga yang ditawarkan penjual.

Kata khaṣim (tanpa alif) menandakan bahwa merekalah yang memulai permusuhan dan pertengkaran. Maksud dari ayat ini sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa kaum Quraisy selain bertanya mengenai posisi Nabi Isa juga menanyakan tentang perbandingan antara Tuhan yang mereka sembah dengan Nabi Isa. Mana yang lebih baik antara keduanya? Tuhan mereka atau Isa. Tentunya apa yang dipertanyakan ini hanyalah akal-akalan mereka untuk membantah ajaran Muhammad. Padahal mereka juga tahu bahwa Isa tidak mengetahui bahwa dia dijadikan sembahan kaum Naṣrani, dan tidak pula rela dijadikan sembahan. Posisi Nabi Isa seperti yang dijelaskan Al-Qur’an hanyalah seorang hamba yang diberikan anugerah kenabian oleh Allah swt, tidak lebih dari itu. Adapun beliau lahir tanpa seorang bapak merupakan bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto