Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 65 - Surat Az-Zukhruf (Perhiasan dari Emas)
الزّخرف
Ayat 65 / 89 •  Surat 43 / 114 •  Halaman 494 •  Quarter Hizb 50.25 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

فَاخْتَلَفَ الْاَحْزَابُ مِنْۢ بَيْنِهِمْ ۚفَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْ عَذَابِ يَوْمٍ اَلِيْمٍ

Fakhtalafal-aḥzābu mim bainihim, fawailul lil-lażīna ẓalamūmin ‘ażābi yaumin alīm(in).

Golongan-golongan di antara mereka (Yahudi dan Nasrani) berselisih. Celakalah orang-orang yang zalim (karena) azab pada hari yang sangat pedih (kiamat).

Makna Surat Az-Zukhruf Ayat 65
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Akan tetapi, golongan-golongan yang ada saling berselisih di antara mereka mengenai pribadi Nabi Isa yang agung dan hamba Allah yang lahir tanpa ayah itu. Maka, celakalah orang-orang yang zalim itu karena perselisihan mereka dan mengingkari Isa sebagai utusan Allah dan menentang ajaran agama yang dibawanya karena azab hari yang amat pedih pada hari Kiamat kelak.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Bani Israil berselisih pendapat mengenai Nabi Isa baik semasa ia hidup maupun setelah meninggal. Yang menjadi ajang perselisihan pada waktu ia masih hidup adalah yang menerimanya sebagai nabi dan manusia suci, ada yang menuduhnya sebagai anak dari hubungan haram yang dilakukan ibunya. Dan setelah ia meninggal ada yang memandangnya anak Tuhan, atau Tuhan itu sendiri, dan ada yang memandangnya manusia biasa yang diutus sebagai rasul.

Perselisihan itu sangat tajam sehingga terbentuk banyak sekali sekte yang berseberangan. Mereka tidak hanya berpecah belah tetapi juga saling membunuh (berperang-perangan). Yang berpandangan salah di antara sekte-sekte itu berpandangan salah mengenai Nabi Isa sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, akan bernasib malang, yaitu azab yang pedih di dalam neraka di hari akhirat.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaṣiddūn يَصِدُّوْنَ (az-Zukhruf/43: 57)

Kalimat yaṣiddūn merupakan fi‘il muḍāri‘ yang berasal dari akar kata ṣadda-yaṣuddu-ṣaddan yang berarti berpaling dari sesuatu. Arti awalnya adalah tali yang melingkari sesuatu. Dari kata ini kemudian muncul makna penolakan, pencegahan atau menghalang-halangi. Ṣaddahu ‘anil-amr, berarti ia mencegah dan menghalang-halangi untuk melakukan sesuatu. Penolakan juga bisa diungkapkan dengan memalingkan muka karena merasa enggan bertemu (fa anta lahū taṣaddā). Kata ṣadda-yaṣiddu berarti tertawa karena merasa aneh bercampur dengan rasa kaget. Kalimat ṣadda-yaṣiddu ini mengandung arti meremehkan. Iżā qaumuka minhu yaṣiddun berarti ketika kaummu bersorak, merasa kaget dan heran. Kalimat ini juga mengandung arti bertepuk tangan, al-Anfāl/8: 35 (illā mukāan wa taṣdiyah), karena telapak tangan satu sama lainnya saling menghalangi sehingga menimbulkan suara. Aṣ-ṣadīd artinya air nanah yang terdapat antara daging dan kulit yang bercampur dengan darah. Dalam Ibrāhīm/14: 16, dijelaskan bahwa penghuni neraka akan meminum air nanah yang bau. Aṣ-ṣadd juga berarti gunung, karena gunung bisa menghalangi pandangan mata.

Pada ayat ini Allah menjelaskan sikap kaum Quraisy ketika putera Maryam yaitu Isa dijadikan perumpamaan. Ketika Rasulullah membacakan di hadapan kaum Quraisy Surah al-Anbiyā’/21: 98 yang artinya, “Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” Tiba-tiba seorang Quraisy bernama Abdullah ibn Za‘bari menanyakan kepada Rasulullah, seandainya begitu berarti Isa yang disembah kaum Nasrani juga menjadi kayu bakar Jahanam. Seketika Nabi terdiam dan mereka pun menertawakan beliau. Apa yang mereka pertanyakan sebetulnya hanyalah untuk mencari-cari perselisihan dengan Nabi Muhammad.

2. Khaṣimūn خَصِمُوْنَ (az-Zukhruf/43: 58)

Kata ini adalah bentuk jamak dari kata khaṣim yang berasal dari akar kata khaṣama-yakhṣimu-khaṣm an yang berarti bermusuhan, berbantah-bantahan dan pertengkaran. Kata khaṣim bisa digunakan untuk bentuk mufrad, muṡanna atau jama‘. Kata ini mengandung arti pertentangan dan upaya untuk saling mengalahkan. Khāṣama melibatkan dua pihak yang bermusuhan. Rajul khaṣimun artinya seseorang yang suka bertentangan. Al-Khiṣm (dengan kasrah) menandakan permusuhan itu sudah mengakar. Khuṣmu berarti sisi atau sudut, bentuk jamaknya adalah akhṣām. Kata khasim adalah kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Berbeda dengan khaṣīm, khasim adalah yang mengetahui permusuhan walaupun dia tidak memusuhi. Sedangkan khaṣīm (dengan mād) adalah yang memusuhi orang lain. Khaṣama juga berarti memberikan potongan harga, seakan-akan pembeli memotong harga yang ditawarkan penjual.

Kata khaṣim (tanpa alif) menandakan bahwa merekalah yang memulai permusuhan dan pertengkaran. Maksud dari ayat ini sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa kaum Quraisy selain bertanya mengenai posisi Nabi Isa juga menanyakan tentang perbandingan antara Tuhan yang mereka sembah dengan Nabi Isa. Mana yang lebih baik antara keduanya? Tuhan mereka atau Isa. Tentunya apa yang dipertanyakan ini hanyalah akal-akalan mereka untuk membantah ajaran Muhammad. Padahal mereka juga tahu bahwa Isa tidak mengetahui bahwa dia dijadikan sembahan kaum Naṣrani, dan tidak pula rela dijadikan sembahan. Posisi Nabi Isa seperti yang dijelaskan Al-Qur’an hanyalah seorang hamba yang diberikan anugerah kenabian oleh Allah swt, tidak lebih dari itu. Adapun beliau lahir tanpa seorang bapak merupakan bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto