Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 66 - Surat Az-Zukhruf (Perhiasan dari Emas)
الزّخرف
Ayat 66 / 89 •  Surat 43 / 114 •  Halaman 494 •  Quarter Hizb 50.25 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Hal yanẓurūna illas-sā‘ata an ta'tiyahum bagtataw wa hum lā yasy‘urūn(a).

Tidaklah mereka (orang-orang kafir) menunggu, kecuali hari Kiamat yang datang kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadari(-nya).

Makna Surat Az-Zukhruf Ayat 66
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dengan pembangkangan mereka untuk mengakui Nabi Isa sebagai rasul Allah dan pengingkaran mereka terhadap ajaran-Nya, lalu Allah mengatakan bahwa apakah mereka dengan keadaan yang demikian itu hanya menunggu saja kedatangan hari Kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak, tanpa mereka mengetahui sebelumnya, sedang mereka tidak menyadarinya karena mereka selalu sibuk dengan pertengkaran mereka?

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini membantah kaum musyrikin Mekah yang salah memahami Surah al-Anbiyā’/21: 98, bahwa orang yang menyembah selain Allah akan bersama sembahannya itu nanti masuk neraka. Nabi Isa disembah, karena itu, menurut mereka, juga akan masuk neraka bersama mereka yang menyembahnya. Allah telah membantahnya dengan menjelaskan tentang Nabi Isa secara panjang lebar dalam ayat-ayat di atas. Nabi Isa memang disembah, tetapi yang menyembahnya adalah mereka yang sesat. Oleh karena itu Nabi Isa tidak akan masuk neraka. Yang akan masuk neraka adalah mereka yang sesat. Begitu juga orang-orang sesat yang menyembah berhala-berhala, yaitu kaum musyrikin Mekah. Mereka bersama sesembahan mereka itu yang akan masuk neraka.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bila kaum musyrikin Mekah itu tetap tidak mau menerima penjelasan yang begitu gamblang, Allah bertanya apakah mereka tidak akan menyesal. Sebab kiamat pasti datang, dan bila datang ia akan terjadi secara tiba-tiba pada saat mereka terlena oleh kenikmatan duniawi. Sebelum terlambat, di sini Allah meminta mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad dan agama yang didakwahkannya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaṣiddūn يَصِدُّوْنَ (az-Zukhruf/43: 57)

Kalimat yaṣiddūn merupakan fi‘il muḍāri‘ yang berasal dari akar kata ṣadda-yaṣuddu-ṣaddan yang berarti berpaling dari sesuatu. Arti awalnya adalah tali yang melingkari sesuatu. Dari kata ini kemudian muncul makna penolakan, pencegahan atau menghalang-halangi. Ṣaddahu ‘anil-amr, berarti ia mencegah dan menghalang-halangi untuk melakukan sesuatu. Penolakan juga bisa diungkapkan dengan memalingkan muka karena merasa enggan bertemu (fa anta lahū taṣaddā). Kata ṣadda-yaṣiddu berarti tertawa karena merasa aneh bercampur dengan rasa kaget. Kalimat ṣadda-yaṣiddu ini mengandung arti meremehkan. Iżā qaumuka minhu yaṣiddun berarti ketika kaummu bersorak, merasa kaget dan heran. Kalimat ini juga mengandung arti bertepuk tangan, al-Anfāl/8: 35 (illā mukāan wa taṣdiyah), karena telapak tangan satu sama lainnya saling menghalangi sehingga menimbulkan suara. Aṣ-ṣadīd artinya air nanah yang terdapat antara daging dan kulit yang bercampur dengan darah. Dalam Ibrāhīm/14: 16, dijelaskan bahwa penghuni neraka akan meminum air nanah yang bau. Aṣ-ṣadd juga berarti gunung, karena gunung bisa menghalangi pandangan mata.

Pada ayat ini Allah menjelaskan sikap kaum Quraisy ketika putera Maryam yaitu Isa dijadikan perumpamaan. Ketika Rasulullah membacakan di hadapan kaum Quraisy Surah al-Anbiyā’/21: 98 yang artinya, “Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” Tiba-tiba seorang Quraisy bernama Abdullah ibn Za‘bari menanyakan kepada Rasulullah, seandainya begitu berarti Isa yang disembah kaum Nasrani juga menjadi kayu bakar Jahanam. Seketika Nabi terdiam dan mereka pun menertawakan beliau. Apa yang mereka pertanyakan sebetulnya hanyalah untuk mencari-cari perselisihan dengan Nabi Muhammad.

2. Khaṣimūn خَصِمُوْنَ (az-Zukhruf/43: 58)

Kata ini adalah bentuk jamak dari kata khaṣim yang berasal dari akar kata khaṣama-yakhṣimu-khaṣm an yang berarti bermusuhan, berbantah-bantahan dan pertengkaran. Kata khaṣim bisa digunakan untuk bentuk mufrad, muṡanna atau jama‘. Kata ini mengandung arti pertentangan dan upaya untuk saling mengalahkan. Khāṣama melibatkan dua pihak yang bermusuhan. Rajul khaṣimun artinya seseorang yang suka bertentangan. Al-Khiṣm (dengan kasrah) menandakan permusuhan itu sudah mengakar. Khuṣmu berarti sisi atau sudut, bentuk jamaknya adalah akhṣām. Kata khasim adalah kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Berbeda dengan khaṣīm, khasim adalah yang mengetahui permusuhan walaupun dia tidak memusuhi. Sedangkan khaṣīm (dengan mād) adalah yang memusuhi orang lain. Khaṣama juga berarti memberikan potongan harga, seakan-akan pembeli memotong harga yang ditawarkan penjual.

Kata khaṣim (tanpa alif) menandakan bahwa merekalah yang memulai permusuhan dan pertengkaran. Maksud dari ayat ini sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa kaum Quraisy selain bertanya mengenai posisi Nabi Isa juga menanyakan tentang perbandingan antara Tuhan yang mereka sembah dengan Nabi Isa. Mana yang lebih baik antara keduanya? Tuhan mereka atau Isa. Tentunya apa yang dipertanyakan ini hanyalah akal-akalan mereka untuk membantah ajaran Muhammad. Padahal mereka juga tahu bahwa Isa tidak mengetahui bahwa dia dijadikan sembahan kaum Naṣrani, dan tidak pula rela dijadikan sembahan. Posisi Nabi Isa seperti yang dijelaskan Al-Qur’an hanyalah seorang hamba yang diberikan anugerah kenabian oleh Allah swt, tidak lebih dari itu. Adapun beliau lahir tanpa seorang bapak merupakan bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto