اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا مُسْلِمِيْنَۚ
Allażīna āmanū bi'āyātinā wa kānū muslimīn(a).
(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang muslim.
Orang-orang yang tidak takut dan tidak bersedih hati itu ialah orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami yang tertulis yang dibawa oleh para rasul utusan Kami serta yang terhampar di alam ini, dan mereka berserah diri dengan sepenuhnya kepada Allah dengan melaksanakan ajaran-ajaran-Nya.
Dalam ayat ini diterangkan tentang hamba-hamba yang diseru Allah pada hari itu, yaitu hamba-hamba yang telah beriman kepada ayat-ayat-Nya, yang jiwanya telah tunduk dan patuh kepada-Nya, yang melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.
Dala m Tafsir Ibnu Kaṡīr disebutkan bahwa al-Mu‘tamir bin Sulaiman dari ayahnya berkata, “Pada waktu terjadinya hari Kiamat, ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya, tidak ada seorang pun yang tidak merasa takut dan khawatir serta bingung. Ketika itu, terdengarlah suara, “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada yang perlu kamu takuti dan khawatirkan pada hari ini dan janganlah kamu risau hati.” Setelah mendengar itu, semua manusia mengharapkan agar ia termasuk hamba-hamba Allah yang dimaksud dalam seruan itu, terdengar lagi seruan yang kedua, “Wahai orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, yang tunduk dan berserah diri kepada Allah.” Mendengar seruan itu, maka orang-orang yang beriman bergembira dan hilanglah kesedihan, ketakutan dan kebingungan mereka. Sedangkan orang-orang kafir berputus asa.
1. Al-Akhillā’u اَلأَخِلاَّءُ (az-Zukhruf/43: 67)
Kata al-akhillā’u adalah bentuk jamak dari kata khalīl, yaitu teman akrab yang persahabatannya telah masuk ke relung hati masing-masing, atau kekasih. Kata lain yang seasal dengan khalīl disebut 3 kali dalam Al-Qur’an, yakni pada Surah al-Furqān/25: 28, an-Nisā'/4:125 dan al-Isrā’/17: 73.
Kata khalīl berasal dari kata al-khullah yang berarti celah, yakni ruang kosong yang terdapat di antara dua benda, atau yang berarti fakir, yakni orang yang sangat membutuhkan. Seseorang yang mempunyai kebutuhan menunjukkan adanya celah-celah kekosongan dalam hidupnya yang mendorong dia berusaha keras menutupinya, atau membutuhkan orang lain yang dapat membantu untuk menutupinya. Kekosongan di sini adalah kekosongan jasmani dan rohani. Kekosongan jasmani dapat ditutupi dengan materi, sedangkan kekosongan rohani hanya dapat ditutupi dengan siraman rohani, seperti kasih sayang, cinta dan sebagainya. Dari sinilah lahir istilah khalīl yang diartikan sebagai “kekasih.”
Kata khalīl yang diambil dari kata khullah, juga dipergunakan untuk pengertian “kekasih yang sejati”. Kasih seperti ini hanya dimiliki Allah dan orang-orang yang tertentu yang telah mendapat petunjuk dari Allah. Nabi Ibrahim diangkat Allah sebagai khalīl (an-Nisā'/4:125), karena cintanya yang sejati kepada Allah. Karena cinta sejatinya itulah, Nabi Ibrahim berjuang menyiarkan agama tauhid, rela dibakar oleh raja Namrud, bahkan rela mengorbankan anak kandungnya. Cintanya kepada Allah menghapuskan cintanya kepada selain Allah.
2. Biṣiḥāfin بِصِحَافٍ (az-Zukhruf/43: 71)
Kata ṣiḥāf adalah jamak dari ṣaḥfah yang secara literal berarti sesuatu yang terbentang secara lebar dan luas. Karena itu permukaan tanah disebut aṣ-ṣaḥīf. Aṣ-ṣaḥfah juga berarti piring besar, bahkan juga wajah, lembaran atau kertas yang digunakan untuk menulis disebut aṣ-ṣaḥīfah.
Kata ṣiḥaf yang berbentuk jamak dari aṣ-ṣaḥfah disebut satu kali dalam Al-Qur’an, yang berarti piring-piring besar (az-Zukhruf/43: 71). Ayat tersebut berbicara dalam konteks kenikmatan yang diberikan Allah kepada penghuni surga.







































