وَمَا ظَلَمْنٰهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْا هُمُ الظّٰلِمِيْنَ
Wa mā ẓalamnāhum wa lākin kānū humuẓ-ẓālimīn(a).
Tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi mereka adalah orang-orang zalim (terhadap dirinya).
Dan dengan siksaan yang mereka dapatkan itu, tidaklah Kami menzalimi atau menganiaya mereka sedikit pun, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri sehingga mereka mendapatkan azab itu.
Dalam ayat ini diterangkan apa sebabnya mereka ditimpa azab itu, Allah menyatakan, “Kami tidak bermaksud menganiaya orang-orang kafir dengan mengazab mereka, karena Kami telah memberikan peringatan yang cukup kepada mereka selama hidup di dunia, tetapi mereka tidak menghiraukannya sedikitpun. Bahkan mereka mendustakan rasul-rasul yang Kami utus kepada mereka dan menganiaya para rasul itu walaupun telah dikemukakan bukti-bukti yang cukup kepada mereka. Karena tindakan mereka itulah, mereka diazab, ini berarti bahwa mereka sendirilah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
Mublisūn مُبْلِسُوْنَ (az-Zukhruf/43: 75)
Kata mublisūn adalah isim fa‘il dalam bentuk jamak dari mublis, dari fi‘il (kata kerja) ablasa yang berarti duka cita, putus asa dan bingung. Kata mublisūn dan yang seakar dengannya disebutkan 5 kali dalam Al-Qur’an, yaitu dalam Surah ar-Rūm/30: 12, 49, al-An‘ām/6: 44, al-Mu'minūn/23: 77 dan az-Zukhruf/43: 75.
Surah az-Zukhruf/43: 75 tersebut berbicara dalam konteks siksaan terhadap para pendurhaka yang mantap kedurhakaannya ketika mereka berada dalam wadah siksaan neraka Jahanam yang meliputi seluruh totalitasnya dan yang akan mereka alami selama-lamanya, tidak akan dihentikan atau diringankan siksa itu dari mereka dan akhirnya mereka didalamnya lunglai tidak mampu melakukan apa pun, karena mereka semua telah berputus asa.
















































