Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 59 - Surat Az-Zukhruf (Perhiasan dari Emas)
الزّخرف
Ayat 59 / 89 •  Surat 43 / 114 •  Halaman 493 •  Quarter Hizb 50.25 •  Juz 25 •  Manzil 6 • Makkiyah

اِنْ هُوَ اِلَّا عَبْدٌ اَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنٰهُ مَثَلًا لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

In huwa illā ‘abdun an‘amnā ‘alaihi wa ja‘alnāhu maṡalal libanī isrā'īl(a).

Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami anugerahkan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai pelajaran (tanda kekuasaan Kami) bagi Bani Israil.

Makna Surat Az-Zukhruf Ayat 59
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Lalu Allah menunjukkan kepada mereka bahwa dia, yaitu Isa, tidak lain hanyalah seorang hamba, bukan tuhan seperti keyakinan orang-orang Nasrani, yang Kami berikan nikmat kenabian kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh pelajaran yang sangat mengagumkan bagi Bani Israil, baik yang hidup pada masa Isa maupun yang sesudahnya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menegaskan bahwa Nabi Isa sesungguhnya adalah hamba-Nya, bukan anak-Nya dan bukan Tuhan. Ia telah dikaruniai kemuliaan, yaitu menjadi nabi yang menyampaikan ajaran-ajaran Allah dalam kitab Injil. Di samping itu Nabi Isa dijadikan-Nya sebagai contoh bagi Bani Israil tentang bukti kekuasaan-Nya, bahwa Allah menciptakan sesuatu melalui proses yang tidak wajar, yaitu menciptakan manusia tanpa ayah. Dengan mengemukakan contoh itu, Bani Israil dan siapa pun sesudahnya tidak boleh memandangnya sebagai anak Tuhan dan mengangkatnya sebagai tuhan.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaṣiddūn يَصِدُّوْنَ (az-Zukhruf/43: 57)

Kalimat yaṣiddūn merupakan fi‘il muḍāri‘ yang berasal dari akar kata ṣadda-yaṣuddu-ṣaddan yang berarti berpaling dari sesuatu. Arti awalnya adalah tali yang melingkari sesuatu. Dari kata ini kemudian muncul makna penolakan, pencegahan atau menghalang-halangi. Ṣaddahu ‘anil-amr, berarti ia mencegah dan menghalang-halangi untuk melakukan sesuatu. Penolakan juga bisa diungkapkan dengan memalingkan muka karena merasa enggan bertemu (fa anta lahū taṣaddā). Kata ṣadda-yaṣiddu berarti tertawa karena merasa aneh bercampur dengan rasa kaget. Kalimat ṣadda-yaṣiddu ini mengandung arti meremehkan. Iżā qaumuka minhu yaṣiddun berarti ketika kaummu bersorak, merasa kaget dan heran. Kalimat ini juga mengandung arti bertepuk tangan, al-Anfāl/8: 35 (illā mukāan wa taṣdiyah), karena telapak tangan satu sama lainnya saling menghalangi sehingga menimbulkan suara. Aṣ-ṣadīd artinya air nanah yang terdapat antara daging dan kulit yang bercampur dengan darah. Dalam Ibrāhīm/14: 16, dijelaskan bahwa penghuni neraka akan meminum air nanah yang bau. Aṣ-ṣadd juga berarti gunung, karena gunung bisa menghalangi pandangan mata.

Pada ayat ini Allah menjelaskan sikap kaum Quraisy ketika putera Maryam yaitu Isa dijadikan perumpamaan. Ketika Rasulullah membacakan di hadapan kaum Quraisy Surah al-Anbiyā’/21: 98 yang artinya, “Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” Tiba-tiba seorang Quraisy bernama Abdullah ibn Za‘bari menanyakan kepada Rasulullah, seandainya begitu berarti Isa yang disembah kaum Nasrani juga menjadi kayu bakar Jahanam. Seketika Nabi terdiam dan mereka pun menertawakan beliau. Apa yang mereka pertanyakan sebetulnya hanyalah untuk mencari-cari perselisihan dengan Nabi Muhammad.

2. Khaṣimūn خَصِمُوْنَ (az-Zukhruf/43: 58)

Kata ini adalah bentuk jamak dari kata khaṣim yang berasal dari akar kata khaṣama-yakhṣimu-khaṣm an yang berarti bermusuhan, berbantah-bantahan dan pertengkaran. Kata khaṣim bisa digunakan untuk bentuk mufrad, muṡanna atau jama‘. Kata ini mengandung arti pertentangan dan upaya untuk saling mengalahkan. Khāṣama melibatkan dua pihak yang bermusuhan. Rajul khaṣimun artinya seseorang yang suka bertentangan. Al-Khiṣm (dengan kasrah) menandakan permusuhan itu sudah mengakar. Khuṣmu berarti sisi atau sudut, bentuk jamaknya adalah akhṣām. Kata khasim adalah kata kerja yang tidak membutuhkan obyek. Berbeda dengan khaṣīm, khasim adalah yang mengetahui permusuhan walaupun dia tidak memusuhi. Sedangkan khaṣīm (dengan mād) adalah yang memusuhi orang lain. Khaṣama juga berarti memberikan potongan harga, seakan-akan pembeli memotong harga yang ditawarkan penjual.

Kata khaṣim (tanpa alif) menandakan bahwa merekalah yang memulai permusuhan dan pertengkaran. Maksud dari ayat ini sebagaimana dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa kaum Quraisy selain bertanya mengenai posisi Nabi Isa juga menanyakan tentang perbandingan antara Tuhan yang mereka sembah dengan Nabi Isa. Mana yang lebih baik antara keduanya? Tuhan mereka atau Isa. Tentunya apa yang dipertanyakan ini hanyalah akal-akalan mereka untuk membantah ajaran Muhammad. Padahal mereka juga tahu bahwa Isa tidak mengetahui bahwa dia dijadikan sembahan kaum Naṣrani, dan tidak pula rela dijadikan sembahan. Posisi Nabi Isa seperti yang dijelaskan Al-Qur’an hanyalah seorang hamba yang diberikan anugerah kenabian oleh Allah swt, tidak lebih dari itu. Adapun beliau lahir tanpa seorang bapak merupakan bukti kekuasaan Allah untuk Bani Israil.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto