وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrih(ī), wal-arḍu jamī‘an qabḍatuhū yaumal-qiyāmati was-samāwātu maṭwiyyātum biyamīnih(ī), subḥānahū wa ta‘ālā ‘ammā yusyrikūn(a).
Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya. Padahal, bumi seluruhnya (ada dalam) genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.664) Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Dalam ayat-ayat yang lalu, Allah digambarkan sebagai Pencipta dan Pemilik segala, dan Nabi Muhammad diperintah untuk menolak ajakan orang-orang musyrik Mekah untuk menyembah selain Allah. Ayat-ayat berikut membawa kecaman terhadap orang-orang musyrik tersebut. Dan ketahuilah bahwa dengan ajakan menyekutukan Allah itu, mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi dengan seluruh isi-nya berada dalam genggaman tangan-Nya pada hari Kiamat, dan demikian pula langit dengan seluruh lapisannya digulung oleh Allah dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dari segala apa yang tidak wajar bagi-Nya dan Mahatinggi Dia dari segala apa yang mereka persekutukan dengan-Nya.
Pada ayat ini, Allah mencela perbuatan kaum musyrikin Mekah karena menyembah berhala dan patung, mengingkari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Allah juga mengingatkan betapa besar nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka. Seakan-akan yang berkuasa dan memberi karunia itu adalah patung-patung yang tidak berdaya yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri. Alangkah rendahnya jalan pikiran mereka dengan mengagungkan suatu yang hina dan tak berdaya. Allah selanjutnya menegaskan bahwa bumi ini seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, demikian pula langit tergulung di tangan kanan-Nya. Jika langit dan bumi semuanya berada dalam genggaman-Nya, maka siapakah lagi yang lebih besar, lebih agung, lebih berkuasa dari Allah? Apakah mereka mengagungkan patung-patung itu sedang patung-patung itu adalah sebagian kecil saja dari langit dan bumi? Mengenai ayat ini, Imam al-Bukhārī meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ūd sebuah hadis:
جَاءَ حَبْرٌ مِنَ الْأَحْبَارِ إِلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ إِنَّا نَجِدُ أَنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ يَجْعَلُ السَّمٰوَاتِ عَلَى أُصْبُعٍ وَاْلأَرَضِيْن َ عَلَى أُصْبُعٍ وَالشَّجَرَ عَلَى أُصْبُعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى أُصْبُعٍ وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى أُصْبُعٍ يَقُوْلُ أَنَا الْمَلِكُ. فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيْقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الْاٰيَةَ: وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهِ.
Telah datang salah seorang pendeta kepada Rasulullah saw dan berkata kepadanya, “Hai Muhammad, sesungguhnya aku menemui (dalam kitab kami) bahwa Allah Yang Mahaperkasa meletakkan langit di salah satu jarinya, bumi di jari yang lain, pohon-pohon di jari yang lain, air dan tanah di jari yang lain, dan makhluk-makhluk lainnya di jari yang lain pula, lalu Dia berkata, ‘Akulah raja’.” Rasulullah saw tertawa mendengar kata-kata pendeta itu sehingga kelihatan gerahamnya tanda setuju. Kemudian Nabi saw membaca ayat 67 ini.
Tentang penggambaran langit dan bumi dalam genggaman-Nya, mungkin dapat dipahami dengan makna bahwa alam ini dalam kekuasaan-Nya. Bagaimana hakikat yang sebenarnya dari keadaan bumi yang berada dalam genggaman Allah, kita tidak tahu. Hal itu termasuk masalah-masalah yang gaib, yang harus diterima sebagaimana yang diterangkan Allah. Yang mesti diyakini sepenuhnya adalah Allah tidak dapat diserupakan dengan suatu apa pun. Firman Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (asy-Syūrā/42: 11)
Kemudian Allah menutup ayat ini dengan menyatakan bahwa mempersekutukan Allah dengan makhluk lainnya apalagi dengan sesuatu yang remeh tak berdaya seperti patung-patung itu adalah perbuatan sesat dan menyesatkan. Maha Suci Allah dari segala paham itu dan tidak layak bagi kekuasaan dan keagungan-Nya untuk dipersekutukan dengan yang lain.
1. Maqālīd مَقَالِيْدُ (az-Zumar/39: 63)
Kata maqālīd adalah bentuk jamak dari miqlād atau miqlid yang berarti kunci. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ini tidak memiliki bentuk tunggal dan bahwa ia terambil dari kata taqlīd yang bermakna keharusan.
Penyebutan kata maqālīd pada Surah az-Zumar ayat 63 tersebut adalah sebagai penegasan bahwa Allah yang memiliki segala sesuatu. Dia pula menguasai dan mengendalikan segala persoalan yang berada di langit dan di bumi, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
2. Maṭwiyyāt مَطْوِيَّات (az-Zumar/39: 67)
Kata maṭwiyyāt adalah jamak dari kata maṭwiyyah, isim maf‘ūl (passive participle) dari kata ṭawiya—yaṭwā—ṭayy an yang artinya melipat. Dalam doa perjalanan disebutkan: iṭwi lana al-arḍ, yang berarti dekatkanlah bumi untuk kami dan mudahkanlah perjalanan di atasnya agar jaraknya tidak jauh bagi kami, seolah-olah bumi itu sudah dilipat. Dari kata tersebut terambil kata aṭ-ṭawiyyu yang berarti sumur yang tertutup oleh batu. Kalimat ṭawiya ‘annī amrahu berarti ia menyembunyikan urusannya dariku. Dan yang dimaksud dengan kata maṭwiyyāt di sini adalah bahwa langit-langit itu dilipat oleh Allah pada hari Kiamat. Ada beberapa riwayat tentang penafsiran tentang ayat ini. Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa Allah menggenggam bumi dan langit dengan tangan kanan-Nya. Keterangan lain dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa langit dan bumi di tangan Allah itu seperti biji sawi di tangan kalian.















































