قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِيْ عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
Qur'ānan ‘arabiyyan gaira żī ‘iwajil la‘allahum yattaqūn(a).
(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa.
Kitab tersebut yaitu Al-Qur’an yang redaksinya tersusun dalam bahasa Arab; tidak ada kebengkokan atau ajaran yang salah di dalamnya. Kami turunkan Al-Qur’an itu agar mereka bertakwa kepada Allah dan meninggalkan kekafiran.
Allah menjelaskan pada ayat ini bahwa Dia telah membuat bermacam-macam contoh dalam Al-Qur’an seperti menerangkan sejarah beberapa umat terdahulu yang mengingatkan malapetaka yang mereka alami. Contoh dan perumpamaan itu dikemukakan kepada mereka agar mereka mengambil pelajaran darinya, baik yang berhubungan dengan kehidupan dunia maupun yang berhubungan dengan kehidupan di akhirat nanti. Dengan berpedoman kepada Al-Qur’an, mereka dapat meluruskan kembali kepercayaan mereka yang sesat, memperbaiki tata kehidupan mereka yang kacau, sehingga berubah menjadi kehidupan yang beradab.
Tidaklah sukar bagi mereka memahami Al-Qur’an karena diturunkan dalam bahasa Arab, bahasa mereka sendiri. Tidak ada sesuatu yang bertentangan di dalamnya. Isinya jelas dan tegas baik yang berhubungan dengan akidah, hukum, budi pekerti, dan sebagainya. Jika mereka mau beriman dan mengikuti petunjuk Al-Qur’an, pastilah mereka dapat menjaga diri dari malapetaka yang mungkin menimpa mereka dan tentulah mereka akan taat hanya kepada Allah saja.
Mutasyākisūn مُتَشَاكِسُوْن َ (az-Zumar/39: 29)
Kata mutasyākis, bentuk tunggal mutasyākisūn, adalah isim fā‘il dari tasyākasa—yatasyākasu— tasyākusan. Kata tersebut memiliki pola interaktif (saling), dan kata dasarnya adalah syakisa—yasykasu—syaksan . Kata syaks memiliki arti kata perangai yang buruk dan sulit untuk diajak kerjasama, namun menurut sebuah pendapat ia berarti akhlak yang buruk di dalam jual beli dan sejenisnya. Jadi, kata mutasyākisūn di dalam ayat ini berarti orang-orang yang saling bersengketa dengan memperlihatkan akhlak yang buruk. Perumpamaan ini untuk orang yang mengesakan Allah dan orang yang menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah. Orang yang mengesakan Allah akan patuh pada satu zat saja. Sementara orang yang musyrik akan kebingungan dalam memilih mana yang harus diikuti perintahnya.










































