وَيُنَجِّى اللّٰهُ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْۖ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوْۤءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Wa yunajjillāhul-lażīnattaqau bimafāzatihim, lā yamassuhumus-sū'u wa lā hum yaḥzanūn(a).
Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangannya sehingga mereka tidak disentuh oleh azab dan tidak bersedih.
Dan pada hari itu Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan dan keberhasilan mereka. Hal itu mereka peroleh karena telah mengikuti petunjuk Allah. Mereka tidak disentuh sedikit pun oleh azab dan mereka pun tidak pula bersedih hati.
Kemudian Allah menerangkan keadaan orang-orang yang beriman dan bertakwa. Pada hari Kiamat, mereka diselamatkan Allah dari huru-hara bahaya yang mengancam pada hari itu. Dengan pertolongan Allah dan amal saleh di dunia, mereka dapat mengatasi segala kesulitan dan menyelamatkan diri dari segala macam bahaya, sampai mereka masuk surga di mana segala macam kesulitan dan kesedihan berakhir. Muka mereka putih berseri-seri karena merasa gembira dan bahagia sebagai tersebut pada ayat:
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ ٣٨ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَة ٌ ۚ ٣٩ (عبس)
Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria. (‘Abasa/80: 38-39)
Wujūhuhum Muswaddah وُجُوْهُهُمْ مُّسْوَدَّةٌ (az-Zumar/39: 60)
Kata wujūhuhum yang berarti wajah-wajah mereka terdiri dari wujūh dan ḍamīr hum. Kata wujūh adalah bentuk jamak dari wajhun yang berarti wajah/muka. Hum berarti mereka.
Sedangkan kata muswaddah terambil dari sawād, yaitu warna dasar yang serupa dengan warna arang atau sesuatu yang hangus. Kata ini digunakan juga sebagai kiasan, dalam arti buruk, sedih, dan lain-lain yang mengandung makna negatif. Kalaupun kehitaman dipahami dalam arti hakiki, maka tentu saja ia bukan dalam pengertian warna kulit sebagaimana halnya di dunia ini, tetapi kehitaman itu adalah akibat hangus terbakar di api neraka. Atas dasar itu pula, kita tidak dapat berkata bahwa ayat ini merendahkan orang-orang yang berkulit hitam, karena hitam dan putihnya warna kulit ditetapkan Allah untuk kepentingan makhluk itu sendiri, antara lain agar dia dapat beradaptasi dengan lingkungan dimana ia atau leluhurnya lahir.




































