وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Wa laqad ūḥiya ilaika wa ilal-lażīna min qablik(a), la'in asyrakta layaḥbaṭanna ‘amaluka wa latakūnanna minal-khāsirīn(a).
Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.
Dan ingatlah, sungguh telah diwahyukan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, dan juga telah diwahyukan kepada nabi-nabi yang sebelummu, “Sungguh Aku tegaskan, jika engkau mempersekutukan-Ku dengan yang lain, sebagaimana ajakan mereka kepadamu, niscaya akan hapuslah seluruh amalmu dan tentulah engkau akan termasuk ke dalam kelompok orang yang rugi.
Pada ayat ini, Allah menegaskan kepada Nabi Muhammad saw bahwa Dia telah mewahyukan kepadanya dan nabi-nabi sebelumnya, bahwa sesungguhnya apabila dia mempersekutukan Allah, maka terhapuslah segala amal baiknya yang telah lalu. Inilah suatu peringatan keras dari Allah kepada manusia agar jangan sekali-kali mempersekutukan Allah dengan yang lain, karena perbuatan itu adalah syirik dan dosa syirik itu adalah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah. Bila seseorang mati dalam keadaan syirik akan terhapuslah pahala semua amal baiknya dan dia akan dijerumuskan ke dalam neraka Jahanam sebagaimana tersebut dalam ayat ini:
وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Barang siapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah/2: 217)
Kepada Nabi Muhammad sendiri, Allah memberi peringatan sedangkan dia adalah rasul yang diutus-Nya. Rasul kesayangan-Nya yang tidak mungkin akan mempersekutukan-Nya. Kendati demikian, Allah memberi peringatan juga kepadanya agar jangan sekali-kali terlintas dalam pikirannya untuk menganut agama syirik. Apalagi kepada manusia lainnya tentu peringatan ini harus mendapat perhatian yang serius. Sungguh tidaklah pantas seseorang yang mengetahui betapa besar nikmat Allah terhadapnya, terhadap manusia seluruhnya, akan mengingkari nikmat itu dan melanggar perintah pemberi nikmat itu dengan mempersekutukan-Nya, dengan memohonkan pertolongan kepada berhala, kuburan, pohon, dan sebagainya.
Allah lalu mempertegas perintah-Nya dengan mengeluarkan suatu perintah lagi yaitu hanya Allah sajalah yang harus disembah, hanya kepada-Nya manusia harus mempersembahkan semua amal ibadahnya, dan kepada Allah juga manusia memanjatkan doa dan mengucapkan syukur karena Dialah pemberi nikmat yang sebenarnya, sebagaimana yang dibaca setiap Muslim dalam salat:
قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ١٦٢ (الانعام)
…Sesungg uhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (al-An‘ām/6: 162)
1. Maqālīd مَقَالِيْدُ (az-Zumar/39: 63)
Kata maqālīd adalah bentuk jamak dari miqlād atau miqlid yang berarti kunci. Ada juga yang berpendapat bahwa kata ini tidak memiliki bentuk tunggal dan bahwa ia terambil dari kata taqlīd yang bermakna keharusan.
Penyebutan kata maqālīd pada Surah az-Zumar ayat 63 tersebut adalah sebagai penegasan bahwa Allah yang memiliki segala sesuatu. Dia pula menguasai dan mengendalikan segala persoalan yang berada di langit dan di bumi, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
2. Maṭwiyyāt مَطْوِيَّات (az-Zumar/39: 67)
Kata maṭwiyyāt adalah jamak dari kata maṭwiyyah, isim maf‘ūl (passive participle) dari kata ṭawiya—yaṭwā—ṭayy an yang artinya melipat. Dalam doa perjalanan disebutkan: iṭwi lana al-arḍ, yang berarti dekatkanlah bumi untuk kami dan mudahkanlah perjalanan di atasnya agar jaraknya tidak jauh bagi kami, seolah-olah bumi itu sudah dilipat. Dari kata tersebut terambil kata aṭ-ṭawiyyu yang berarti sumur yang tertutup oleh batu. Kalimat ṭawiya ‘annī amrahu berarti ia menyembunyikan urusannya dariku. Dan yang dimaksud dengan kata maṭwiyyāt di sini adalah bahwa langit-langit itu dilipat oleh Allah pada hari Kiamat. Ada beberapa riwayat tentang penafsiran tentang ayat ini. Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa Allah menggenggam bumi dan langit dengan tangan kanan-Nya. Keterangan lain dari Ibnu ‘Abbās mengatakan bahwa langit dan bumi di tangan Allah itu seperti biji sawi di tangan kalian.




































