تَنْزِيْلُ الْكِتٰبِ مِنَ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ
Tanzīlul-kitābi minallāhil-‘azīzil-ḥakīm(i).
Diturunkannya Kitab (Al-Qur’an) ini (berasal) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Menyambung topik pada bagian akhir Surah Sad tentang posisi Al-Qur’an sebagai peringatan bagi seluruh alam, Allah mengawali Surah az-Zumar dengan penegasan bahwa Al-Qur’an turun dari sisi Allah. Sesungguhnya kitab Al-Qur’an ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Mahaperkasa dalam kerajaan-Nya, dan Mahabijaksana dalam menciptakan sehingga tidak sedikit pun ciptaan-Nya yang sia-sia.
Allah menjelaskan bahwa Al-Qur’an yang bernilai tinggi ini, diturunkan dari sisi Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Disebutkan sifat Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana dalam ayat ini agar tergambar bagi orang yang mendengar atau membacanya bahwa Al-Qur’an itu mengandung petunjuk-petunjuk yang benar. Nilai-nilai kebenarannya tidak dapat disanggah atau dibantah oleh siapa pun juga, dan nilai-nilai kebijaksanaan di dalamnya tidak dapat diragukan.
Bukti-bukti kebenaran bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Allah dan mengandung petunjuk yang benar dijelaskan juga dalam ayat-ayat yang lain.
Allah berfirman:
وَاِنَّه ٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْن َ ۙ ١٩٤ بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِيْنٍ ۗ ١٩٥ (الشعراۤء)
Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa turun oleh ar-Rūh al-Amīn (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (asy-Syu‘arā’/26: 192-195)
Dan firman-Nya:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاۤءَهُمْ ۗوَاِنَّهٗ لَكِتٰبٌ عَزِيْزٌ ۙ ٤١ لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ ٤٢ (فصّلت)
Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika (Al-Qur’an) itu disampaikan kepada mereka (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah Kitab yang mulia, (yang) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang (pada masa lalu dan yang akan datang), yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji. (Fuṣṣilat/41: 41-42)
1. Ad-Dīn al-Khāliṣ الدِّيْنُ الْخَالِصُ (az-Zumar/39: 3)
Kata ad-dīn berarti tunduk, patuh, membalas, atau menghukum, beragama. Kata ini berasal dari fi‘il dāna-yadīnu-dīnan-dinayā tan. Kata ad-dīn, bahkan semua kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama walaupun dengan bunyi/harakat yang berbeda seperti dīn (agama), atau dain (utang), atau dāna-yadīnu (menghukum), semuanya menggambarkan hubungan dua pihak dimana pihak kedua berkedudukan lebih rendah dibanding dengan pihak pertama, seperti hubungan antara peminjam dan pemberi pinjaman, antara yang dihukum dan yang menghukum, serta antara manusia dan Tuhan yang menurunkan agama.
Sedangkan kata al-khāliṣ berarti yang bersih atau yang murni, dan berasal dari fi‘il khalaṣa-yakhluṣu-khulū an, berarti bersih, tidak bercampur. Kata al-khāliṣ atau al-mukhliṣ sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh menjadi ikhlas, yang biasa diartikan dengan “tulus”.
Dengan demikian, pengertian ad-dīn al-khāliṣ pada Surah az-Zumar ayat 3 adalah kepatuhan yang murni atau tulus dalam beribadah kepada Allah.
2. Zulfā زُلْفَى(az-Zumar/39: 3)
Kata zulfā berarti dekat dan berasal dari fi‘il zalafa-yazlufu-zalfan dan zalīfan. Al-Qur’an menggunakan kata zulfā untuk menggambarkan pengertian dekat. Dekat dalam konsep Al-Qur’an kadang-kadang berkaitan dengan tempat, atau jarak antara dua ruang dan kadang-kadang berkaitan dengan waktu, yaitu jarak antara dua waktu yang berbeda. Akan tetapi, kata zulfā dalam Surah az-Zumar ayat 3 adalah dalam konteks pendekatan manusia kepada Tuhannya, sebagaimana dikatakan oleh orang-orang musyrik, bahwa mereka tidak menyembah berhala-berhala melainkan supaya berhala-berhala itu mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.

