Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 4 - Surat Az-Zumar (Rombongan)
الزّمر
Ayat 4 / 75 •  Surat 39 / 114 •  Halaman 458 •  Quarter Hizb 46.5 •  Juz 23 •  Manzil 6 • Makkiyah

لَوْ اَرَادَ اللّٰهُ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا لَّاصْطَفٰى مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ ۙ سُبْحٰنَهٗ ۗهُوَ اللّٰهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Wa lau arādallāhu ay yattakhiża waladal laṣṭafā mimmā yakhluqu mā yasyā'(u), subḥānah(ū), huwallāhul-wāḥidul-qahhār(u).

Seandainya Allah hendak mengambil (makhluk-Nya sebagai) anak, pasti akan memilih yang Dia kehendaki dari apa yang Dia ciptakan. Maha Suci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.

Makna Surat Az-Zumar Ayat 4
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Sekiranya Allah hendak mengambil anak, sebagaimana anggapan orang-orang musyrik, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya, bukan menuruti apa yang menjadi anggapan orang musyrik. Mahasuci Dia dari segala yang menyerupai-Nya. Dialah Allah Yang Maha Esa tanpa sekutu, Mahaperkasa dalam menciptakan alam raya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Allah menjelaskan dengan lebih rinci perbuatan yang menyebabkan mereka terjerumus ke dalam kesesatan. Allah mengemukakan bahwa sekiranya Dia berkeinginan untuk mengambil anak, tentulah Dia tidak akan mengambil anak seperti yang mereka katakan. Sudah tentu Allah berkuasa memilih anak menurut kehendak-Nya, dan yang dipilih itu tentunya anak lelaki. Akan tetapi, mengapa orang-orang kafir Mekah itu mengatakan bahwa Allah mempunyai anak perempuan, padahal mereka sendiri enggan mempunyai anak perempuan?

Allah berfirman:

اَمْ لَهُ الْبَنٰتُ وَلَكُمُ الْبَنُوْنَۗ ٣٩ (الطور)

Ataukah (pantas) untuk Dia anak-anak perempuan sedangkan untuk kamu anak-anak laki-laki? (aṭ-Ṭūr/52: 39)

Dan firman-Nya:

اَلَكُم الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى ٢١ تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى ٢٢ (النجم)

Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. (an-Najm/53: 21-22)

Anggapan bahwa Allah mempunyai anak bagaimana pun juga bentuknya, adalah termasuk mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain. Hal ini berarti memecah-belah kekuasaan Tuhan. Bagaimana pun juga anak itu tentunya mewarisi kekuasaan dari ayah, dan apabila kekuasaan itu terbagi, maka hilanglah kemahakuasaan Allah. Hal ini tidak bisa terjadi karena Allah yang menciptakan langit dan bumi serta isinya, tentu mempunyai kekuasaan tidak terbatas, sehingga kekuasaan-Nya pun tidak mungkin terbagi-bagi.

Itulah sebabnya maka Allah menandaskan bahwa Mahasuci Dia dari sifat-sifat yang dikemukakan oleh orang-orang musyrik itu. Sebaliknya Allah menandaskan bahwa Dia Maha Esa, tidak beranak dan tidak berbapak. Dia tidak memerlukan sesuatu apa pun, bahkan Dia Maha Mengalahkan. Dia berkuasa menundukkan apa saja yang ada di langit dan di bumi serta seluruh isinya, dan memaksanya tunduk takluk di bawah kekuasaan-Nya dan patuh menurut kehendak-Nya.

Isi Kandungan Kosakata

1. Ad-Dīn al-Khāliṣ الدِّيْنُ الْخَالِصُ (az-Zumar/39: 3)

Kata ad-dīn berarti tunduk, patuh, membalas, atau menghukum, beragama. Kata ini berasal dari fi‘il dāna-yadīnu-dīnan-dinayā tan. Kata ad-dīn, bahkan semua kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sama walaupun dengan bunyi/harakat yang berbeda seperti dīn (agama), atau dain (utang), atau dāna-yadīnu (menghukum), semuanya menggambarkan hubungan dua pihak dimana pihak kedua berkedudukan lebih rendah dibanding dengan pihak pertama, seperti hubungan antara peminjam dan pemberi pinjaman, antara yang dihukum dan yang menghukum, serta antara manusia dan Tuhan yang menurunkan agama.

Sedangkan kata al-khāliṣ berarti yang bersih atau yang murni, dan berasal dari fi‘il khalaṣa-yakhluṣu-khulū an, berarti bersih, tidak bercampur. Kata al-khāliṣ atau al-mukhliṣ sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh menjadi ikhlas, yang biasa diartikan dengan “tulus”.

Dengan demikian, pengertian ad-dīn al-khāliṣ pada Surah az-Zumar ayat 3 adalah kepatuhan yang murni atau tulus dalam beribadah kepada Allah.

2. Zulfā زُلْفَى(az-Zumar/39: 3)

Kata zulfā berarti dekat dan berasal dari fi‘il zalafa-yazlufu-zalfan dan zalīfan. Al-Qur’an menggunakan kata zulfā untuk menggambarkan pengertian dekat. Dekat dalam konsep Al-Qur’an kadang-kadang berkaitan dengan tempat, atau jarak antara dua ruang dan kadang-kadang berkaitan dengan waktu, yaitu jarak antara dua waktu yang berbeda. Akan tetapi, kata zulfā dalam Surah az-Zumar ayat 3 adalah dalam konteks pendekatan manusia kepada Tuhannya, sebagaimana dikatakan oleh orang-orang musyrik, bahwa mereka tidak menyembah berhala-berhala melainkan supaya berhala-berhala itu mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto