
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Berjalan di hutan cemara
Langkahku terasa kecil dan lelah
Makin dalam lagi
Ku ditelan fatamorgana
Makna lirik lagu ini menggambarkan perjalanan seseorang yang sedang berada dalam situasi y... tampilkan semua
Tebing tanah basah di pinggir jalan setapak
Seperti garis wajah-Mu teduh dan kasih
Makin dalam lagi
Ku dicekam kerinduan
Makna lirik lagu ini menggambarkan perasaan mendalam akan kerinduan dan kecintaan yang tul... tampilkan semua
Kabut putih melintas di jalanku
Jarak pandangku dua langkah ke depan
Ada seberkas cahaya
Menembus rimbun dedaunan
Makna lirik lagu ini menggambarkan perjalanan hidup yang penuh dengan ketidakpastian dan t... tampilkan semua
Sanggupkah menerangi jalanku?
Dan aku berharap
Kapankah kiranya
Sampai di puncak sana?
Makna lirik lagu ini mencerminkan kerinduan dan harapan seseorang untuk menemukan jalan da... tampilkan semua
Aku ′kan bertanya, "Siapa diriku?"
Aku 'kan bertanya, "Siapakah Kamu?"
Aku ′kan bertanya, "Siapa mereka?"
Aku 'kan bertanya, "Siapakah kita?"
Makna lirik lagu ini menggambarkan pencarian jati diri dan eksistensi individu dalam konte... tampilkan semua
Lagu "Berjalan Di Hutan Cemara" yang dipopulerkan oleh Ebiet G. Ade merupakan salah satu karya yang menyentuh hati. Melalui liriknya yang puitis, ia mengajak pendengar untuk merenungi perjalanan hidup yang penuh makna. Dalam artikel ini, kita akan mengupas makna dan pesan yang terkandung dalam lirik lagu tersebut.
Makna dari Perjalanan
Diawali dengan gambaran tentang "berjalan di hutan cemara", lirik ini menciptakan suasana yang tenang namun penuh tantangan. "Langkahku terasa kecil dan lelah" menggambarkan bagaimana setiap individu sering merasa terasing dan lelah dalam perjalanan hidupnya. Ini bisa diartikan sebagai pencarian jati diri di tengah suka dan duka yang menghadang.
Fatamorgana sebagai Simbol Harapan
Dalam lirik, "ku ditelan fatamorgana", terdapat simbolisme yang dalam. Fatamorgana mencerminkan hal-hal yang ilusif dan tidak selalu nyata. Penggambaran ini dapat berarti harapan yang sering kali tampak menjauh atau sulit dijangkau, meskipun kita terus berjalan menuju tujuan. Kita diingatkan bahwa perjalanan tidak selalu sejalan dengan harapan yang kita miliki.
Kedalam dan Kerinduan
Konsep kedalaman semakin diperkuat dengan frasa "makin dalam lagi ku dicekam kerinduan". Di sini, kerinduan bisa dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap perjalanan yang kita jalani. Kerinduan bukan hanya kepada seseorang, tetapi juga bisa mengenai cita-cita, impian, dan kenangan yang telah berlalu.
Kesadaran dan Pertanyaan Eksistensial
Kemudian, muncul kabut putih yang melintas di jalannya, yang menyimbolkan kebingungan dan ketidakpastian. "Jarak pandangku dua langkah ke depan" menggambarkan keterbatasan pandangan kita dalam menghadapi masa depan. Kita tidak selalu bisa melihat jelas apa yang ada di depan, tetapi seberkas cahaya yang "menembus rimbun dedaunan" memberikan harapan.
Pertanyaan-pertany aan eksistensial yang diajukan dalam lirik, seperti "Siapa diriku?", "Siapakah Kamu?", dan "Siapakah kita?", menunjukkan sebuah pencarian. Pencarian akan jati diri, makna hubungan, dan tempat kita dalam masyarakat. Dalam setiap perjalanan, pertanyaan-pertanyaan ini sering kali muncul, mencerminkan kerinduan untuk memahami arti kehidupan yang lebih dalam.
Kesimpulan
Lagu "Berjalan Di Hutan Cemara" mengajak kita untuk merenungkan hidup dengan segala tantangan, kerinduan, dan pencarian jati diri. Setiap liriknya memiliki kedalaman yang mampu menyentuh emosi pendengar. Dengan segala simbolisme yang ada, Ebiet G. Ade berhasil menciptakan sebuah karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga kaya akan makna, membangkitkan rasa ingin tahu tentang diri dan hubungan kita dengan dunia.
























