Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 18 - Surat Fāṭir (Pencipta)
فاطر
Ayat 18 / 45 •  Surat 35 / 114 •  Halaman 436 •  Quarter Hizb 44.5 •  Juz 22 •  Manzil 5 • Makkiyah

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗوَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰىۗ اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ

Wa lā taziru wāziratuw wizra ukhrā, wa in tad‘u muṡqalatun ilā ḥimlihā lā yuḥmal minhu syai'uw wa lau kāna żā qurbā, innamā tunżirul-lażīna yakhsyauna rabbahum bil-gaibi wa aqāmuṣ-ṣalāh(ta), wa man tazakkā fa innamā yatazakkā linafsih(ī), wa ilallāhil-maṣīr(u).

Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika seseorang yang (dibebani dengan) dosa yang berat (lalu) memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu tidak akan dipikulkan sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan632) hanya orang-orang yang takut kepada Tuhannya (sekalipun) tidak melihat-Nya dan mereka yang menegakkan salat. Siapa yang menyucikan dirinya sesungguhnya menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Hanya kepada Allah tempat kembali.

Makna Surat Fatir Ayat 18
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Pada hari Kiamat setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang dibebani berat dosanya memanggil orang lain untuk membantu memikul bebannya itu, tidak akan dipikulkan sedikit pun, meskipun yang ia panggil itu kaum kerabatnya, apalagi bila ia bukan kerabatnya (Lihat Surah ‘Abasa/80: 34-37). Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya sekalipun mereka tidak melihat-Nya atau ketika mereka sedang menyendiri, dan demikian pula mereka yang melaksanakan salat secara baik dan sempurna syarat dan rukunnya. Dan barang siapa menyucikan dirinya dari syirik dan maksiat dengan menjalankan salat dan takut kepada Allah, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali segala urusan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Pada ayat ini, Allah menerangkan kedahsyatan hari Kiamat. Pada hari itu setiap orang memikul dosanya masing-masing. Seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Jika ada yang merasa dosanya berat sekali, lalu meminta bantuan kepada orang lain untuk memikul sebagian dosanya, maka dosa itu tidak akan dipukulkan kepada yang diminta, sekalipun itu kaum kerabatnya, seperti ayah, anak, dan lain sebagainya. Setiap orang di hari Kiamat itu sibuk dengan urusannya masing-masing memikirkan dan merenungkan apa gerangan yang akan menimpa dirinya. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَ ا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ ٣٣ (لقمٰن)

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. (Luqmān/31: 33)

Ayat lain menjelaskan:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ ٣٤ وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ ٣٥ وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ ٣٦ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ ٣٧ (عبس)

Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya. (‘Abasa/80: 34-37)

Dalam tafsir al-Qurṭubī diriwayatkan dari Ikrimah bahwa seorang bapak menggantungkan harapan kepada anaknya di hari Kiamat dan berkata, “Wahai anakku! Bagaimana aku sebagai bapakmu,” lalu anak itu memujinya dengan pujian yang baik. Bapak itu berkata lagi kepada anaknya, “Wahai anakku! Aku benar-benar memerlukan dari amal baikmu sekalipun hanya seberat zarah, supaya aku selamat dari keadaanku sebagaimana yang engkau lihat.” Anaknya menjawab, “Wahai bapakku! Alangkah sedikitnya yang engkau minta, tetapi aku sendiri khawatir terhadap diriku sebagaimana bapak khawatir terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, saya tidak dapat memberikan apa-apa barang sedikit pun.” Kemudian ia beralih kepada istrinya yang menggantungkan harapannya dan berkata, “Wahai Fulanah! Bagaimanakah aku sebagai suamimu?” Lalu dipuji-pujinya suaminya itu dengan pujian yang baik. Berkatalah suami itu kepada istrinya, “Aku meminta kepadamu satu saja dari amal baikmu, semoga dengan pemberianmu aku selamat dari keadaanku, sebagaimana yang kamu saksikan ini.” Istrinya menjawab, “Alangkah sedikitnya yang engkau minta, namun aku tidak bisa memberikannya karena aku khawatir juga seperti apa yang engkau khawatirkan.”

Kandungan ayat ini sebagai penghibur hati Rasulullah karena dakwahnya yang tidak mendapat sambutan baik dari kaumnya dan mereka tetap keras kepala. Allah menjelaskan bahwa yang dapat menerima nasihat dan peringatan-Nya hanyalah orang-orang yang takut kepada Allah dan azab-Nya yang pedih di hari kemudian, sekalipun mereka tidak melihatnya. Tidak seperti halnya orang-orang yang telah dipatri hatinya oleh Allah sehingga mereka tidak tahu apa-apa. Mereka mengerjakan salat yang diwajibkan sesuai dengan rukun dan syaratnya, mensucikan hati mereka, dan mendekatkan diri kepada Allah. Barang siapa menyucikan dirinya dari syirik, perbuatan dosa, dan kedurhakaan, seperti ria, ujub, dusta, dan menipu, kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Begitu pula sebaliknya, kalau ia berbuat maksiat bergelimang dosa, maka mudaratnya itu kembali kepada dirinya.

Ayat ini ditutup dengan satu penjelasan bahwa semua urusan dikembalikan kepada Allah. Tiap-tiap orang akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Kalau baik akan dibalas dengan baik, begitu pula sebaliknya, kalau amalnya jahat akan dibalas dengan balasan yang setimpal. Firman Allah:

وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ

Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. (al-Anfāl/8: 44)

Isi Kandungan Kosakata

1. Al-Fuqarā’ اَلْفُقَرَاء (Fāṭir/35: 15)

Kata ini merupakan bentuk jamak dari faqīr, yang artinya yang membutuhkan. Orang miskin disebut sebagai faqīr, karena ia membutuhkan sesuatu untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Kata faqīr terambil dari kata al-faqār yaitu tulang punggung. Orang fakir (faqīr) disebut demikian karena tulang punggungnya patah akibat membawa beban yang berat.

Dalam ayat ini, kata tersebut dirangkai dengan kata lain, sehingga membentuk frasa (gabungan kata) antum al-fuqarā', yang artinya “kamulah yang membutuhkan”. Frasa ini mengandung makna pembatasan, yaitu kamu saja yang benar-benar perlu kepada Allah. Namun demikian, pembatasan ini tidak harus dipahami bahwa selain kamu tidak butuh. Hal yang sedemikian ini karena semua makhluk membutuhkan Allah dalam wujud dan kesinambungannya, sedang Allah tidak membutuhkan apa pun, karena wujud-Nya berasal dari Zat-Nya sendiri. Mereka yang dimaksud dalam ayat ini adalah semua makhluk tanpa kecuali, walaupun konteksnya tertuju kepada manusia yang kafir.

Selain itu dapat pula dikatakan bahwa kebutuhan manusia kepada Allah demikian besar, jauh lebih besar daripada kebutuhan makhluk lain. Keperluan manusia kepada Allah sangat banyak karena mereka memang membutuhkannya, apalagi dengan potensinya sebagai makhluk yang diserahi amanah untuk mengelola alam dan isinya ini. Semakin banyak keinginan manusia, semakin banyak pula kebutuhannya, dan itu semua hanya Allah saja yang dapat memenuhinya.

2. Khalqin Jadīd خَلْقٍ جَدِيْدٍ (Fāṭir/35: 16)

Kata khalq berarti penciptaan. Kata ini dan kata lain turunannya dalam Al-Qur’an disebut 261 kali tersebar dalam 75 surah. Dilihat dari pemakaian-nya, kata khalq dalam Al-Qur’an mempunyai pengertian sebagai berikut:

a. Apabila objeknya selain dari alam semesta, kata khalq berarti penciptaan sesuatu dari bahan atau materi yang sudah ada, seperti manusia (Adam dan keturunannya) yang diciptakan Allah dari suatu materi yang sudah ada, misalnya disebutkan bahwa manusia diciptakan dari sari pati tanah, atau dari tanah kering seperti tembikar. Demikian pula halnya iblis dan jin diciptakan Allah dari materi yang sudah ada, misalnya disebutkan bahwa iblis/jin diciptakan Allah dari api, atau dari nyala api. Juga hewan diciptakan Allah dari sesuatu yang sudah ada, yakni dari air.

b. Apabila objeknya alam semesta, maka Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci, apakah ia diciptakan dari bahan atau materi yang sudah ada atau dari ketiadaan.

Jadi kata khalq yang objeknya selain alam semesta titik tekannya adalah penciptaan jasad, seperti jasad manusia diciptakan dari tanah, iblis dan jin dari api, sedangkan kata khalq yang berobjek alam semesta tidak ditemukan petunjuk penekanannya secara tegas. Dengan demikian, kata khalq pada ayat 16 Surah Fāṭir berarti penciptaan jasad manusia dengan bahan atau materi yang sudah ada. Kata jadīd berarti baru. Dari ungkapan di atas, dapat disimpulkan bahwa makna khalq jadīd dalam ayat tersebut adalah penciptaan jasad manusia yang baru dari bahan atau materi yang sudah ada.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto