وَنَجَّيْنَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ ࣖ
Wa najjainal-lażīna āmanū wa kānū yattaqūn(a).
Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.
Setelah menjelaskan azab yang ditimpakan kepada kaum ‘Ad dan Samud yang mendurhakai nabinya masing-masing, Allah lalu menjelaskan keadaan Nabi Hud dan Nabi Saleh beserta para pengikutnya. Allah berfirman, “Dan Kami selamatkan kedua nabi itu, Nabi Hud dan Nabi Saleh, beserta orang-orang beriman yang menjadi pengikut keduanya karena mereka adalah orang-orang yang senantiasa bertakwa dengan melaksanakan segala yang Kami perintahkan dan meninggalkan apa yang Kami larang.
Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman diselamatkan Allah dari azab itu. Mereka tidak ditimpa malapetaka dan bencana yang dahsyat itu karena keimanan dan ketakwaan mereka kepada-Nya.
1. Ṣā‘iqah صَاعِقَةً (Fuṣṣilat/41: 13)
Ṣā‘iqah berarti suara hempasan benda keras. Biasanya terjadi pada benda-benda langit. Menurut Ragib al-Aṣfahānī, Al-Qur’an menggunakan kata ṣā‘iqah dalam tiga makna, yaitu kematian, siksa, dan api yang menyambar dari langit. Dalam ayat ini, kata ṣā‘iqah bisa berarti ketiga makna tersebut karena petir berarti suara yang sangat keras mengandung api yang bisa menjadi siksaan dan menyebabkan kematian.
2. Naḥisāt نَحِسَاتٍ (Fuṣṣilat/41: 16)
Naḥisāt adalah bentuk jamak dari naḥs yang berarti sial atau lawan dari kata beruntung. Kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan ufuk yang memerah sehingga tampak bagaikan kobaran api tanpa asap. Dari makna ini, lahir makna lain yaitu tidak bahagia atau sial. Pada ayat ini dinyatakan bahwa hari-hari dijatuhkannya siksaan bagi orang-orang musyrik dan kafir merupakan hari-hari yang penuh kesialan bagi mereka.















































