ذٰلِكَ جَزَاۤءُ اَعْدَاۤءِ اللّٰهِ النَّارُ لَهُمْ فِيْهَا دَارُ الْخُلْدِ ۗجَزَاۤءً ۢبِمَا كَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ
Żālika jazā'u a‘dā'illāhin-nāru lahum fīhā dārul-khuld(i), jazā'am bimā kānū bi'āyātinā yajḥadūn(a).
Itulah neraka, balasan (bagi) musuh-musuh Allah. Mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami.
Demikianlah, siksa yang seburuk-buruknya itu merupakan balasan terhadap musuh-musuh Allah yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkaran mereka yang terus menerus terhadap ayat-ayat Kami.
Balasan bagi orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan bagi musuh-musuhnya ialah api neraka. Mereka kekal di dalamnya dan azab itu mereka rasakan terus-menerus. Mereka tidak dapat menghindarinya lagi.
Kemudian Allah menerangkan bahwa mereka berada di neraka Jahanam kekal selama-lamanya, sebagai balasan terhadap perbuatan mereka mengingkari ayat-ayat Allah sewaktu di dunia.
Qayyaḍnā قَيَّضْنَا (Fuṣṣilat/41: 25)
Kata ini diterjemahkan dengan beberapa pengertian antara lain: Kami telah tetapkan, Kami utus, Kami pasrahkan, Kami berikan peluang, Kami membikin penyebab, kami persiapkan dan lain sebagainya. Akar katanya adalah (qaf-ya’-ḍaḍ). Al-Qayḍ artinya kulit telur yang ada di luar dan kering. Sebagaimana diketahui bahwa kulit telur sebelah luar betul-betul telah mencengkeram isi telur yang ada di bawahnya dari semua sudut. Dari pengertian ini maka arti sepotong ayat di atas ialah bahwa Allah telah memberikan peluang, atau menetapkan bagi orang-orang kafir, qurana’ (teman-teman) yang menjadikan mereka memandang bagus pekerjaan yang buruk. Pemberian peluang atau kesempatan tersebut sangat luas sehingga qurana’ tadi mempunyai keleluasaan yang begitu luas sehingga bisa menguasai dan mencengkeram orang kafir tersebut, sebagaimana kulit telur menguasai telur yang ada di dalamnya.

