اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Innal-lażīna qālū rabbunallāhu ṡummastaqāmū tatanazzalu ‘alaihimul-malā'ikatu allā takhāfū wa lā taḥzanū wa absyirū bil-jannatil-latī kuntum tū‘adūn(a).
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian tetap (dalam pendiriannya), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Pada ayat-ayat yang lalu telah dijelaskan adanya teman-teman bagi para pendurhaka yang menjerumuskan mereka ke dalam neraka, maka pada ayat-ayat berikut disajikan kebalikan dari itu, yakni orang-orang beriman yang bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Sesungguhnya orang-orang beriman yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka bermohon kepada Allah agar meneguhkan pendirian mereka beristikamah dalam hidup, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka yang akan menjadi teman mereka dengan berkata, “Janganlah kamu merasa takut menghadapi masa datang, dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu melalui Rasul-Nya.”
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang mengatakan dan mengakui bahwa Tuhan Yang Menciptakan, Memelihara, dan Menjaga kelangsungan hidup, Memberi rezeki, dan yang berhak disembah, hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, kemudian mereka tetap teguh dalam pendiriannya itu, maka para malaikat akan turun untuk mendampingi mereka pada saat-saat diperlukan. Di antaranya pada saat mereka meninggal dunia, di dalam kubur, dan dihisab di akhirat nanti, sehingga segala kesulitan yang mereka hadapi terasa menjadi ringan.
Dalam hadis Nabi saw diterangkan bahwa teguh dalam pendirian itu merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seorang mukmin:
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ الثَّقَفِيّ: إِنَّ رَجُلًا قَالَ: يَارَسُوْلَ اللّٰهِ مُرْنِيْ بِأَمْرٍ فِى اْلإِسْلَامِ لَا اَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ: قُلْ اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ. قُلْتُ: فَمَا أَتَّقِيْ؟ فَأَوَي إِلَى لِسَانِهِ. (رواه مسلم)
Sufyan bin ‘Abdullāh aṡ-Ṡaqafī meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Ya Rasulullah, perintahkan kepadaku tentang Islam suatu perintah yang aku tidak menanyakan lagi kepada orang selain engkau.” Rasulullah menjawab, “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian teguhkanlah pendirianmu.” Aku berkata, “Apa yang harus aku jaga?” Maka Rasulullah mengisyaratkan kepada lidahnya sendiri. (Riwayat Muslim)
Menurut Abu Bakar, yang dimaksud dengan perkataan “istiqāmah” ialah tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.
Kepada orang yang beriman dan berpendirian teguh dengan tidak mempersekutukan-Nya, Allah menurunkan malaikat yang menyampaikan kabar menggembirakan, memberikan segala yang bermanfaat, menolak kemudaratan, dan menghilangkan duka cita yang mungkin ada padanya dalam seluruh urusan duniawi maupun urusan ukhrawi. Dengan demikian, dadanya menjadi lapang dan tenteram, tidak ada kekhawatiran pada diri mereka. Sedangkan kepada orang-orang kafir, datang setan yang selalu menggoda mereka, sehingga menjadikan perbuatan buruk indah menurut pandangan mereka.
Wakī‘ dan Ibnu Zaid berpendapat bahwa para malaikat memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman pada tiga keadaan yaitu, ketika mati, di dalam kubur, dan di waktu kebangkitan.
Kepada orang-orang yang beriman itu para malaikat mengatakan agar mereka tidak usah khawatir menghadapi hari kebangkitan dan hari perhitungan nanti. Mereka juga tidak usah bersedih hati terhadap urusan dunia yang luput dari mereka seperti yang berhubungan dengan keluarga, anak, harta, dan sebagainya.
Menurut ‘Aṭā', yang dimaksud dengan “allā takhāfū wa lā taḥzanū” ialah: janganlah kamu khawatir bahwa Allah tidak memberi pahala amalmu, sesungguhnya kamu itu diterima Allah, dan janganlah kamu bersedih hati atas perbuatan dosa yang telah kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah mengampuninya.
Ayat ini selanjutnya menjelaskan bahwa para malaikat mengatakan kepada orang-orang beriman agar bergembira dengan surga yang telah dijanjikan para rasul. Mereka pasti masuk surga, dan kekal di dalamnya.
1. Istaqāmū اِسْتَقَامُوْا (Fuṣṣilat/41: 30)
Istaqāmū adalah fi‘il māḍī untuk orang banyak dari kata qāma yang diikutkan wazan istaf‘ala. Asalnya adalah istaqāma, dari kata dasar (qaf-waw-mim) yang artinya berdiri. Setelah di i‘lāl (diproses secara ilmu ṣaraf) jadilah istaqāmū. Huruf tambahannya adalah sin dan ta'. Kata jadiannya (maṣdarnya) adalah “istiqāmah” Adanya huruf tambahan ini menjadikan arti istaqāmū menjadi: berusaha sekuat tenaga untuk tetap berdiri tegak, terus menerus, konsisten. Kata “istiqāmah” artinya jalan yang lurus, tidak berbelok-belok. Kebenaran disebut juga dengan jalan yang lurus (ṭarīq mustaqīm). Kebalikannya adalah ṭarīq mu‘wajj atau jalan yang berkelok-kelok. Dalam kaitan ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang yang akan berbahagia di akhirat adalah orang yang telah berikrar dengan keimanannya dan terus berusaha sekuat tenaga agar keimanannya berdiri tegak, terus-menerus dan konsisten, tidak tergoyahkan oleh cobaan hidup.
2. Tasytahī تَشْتَهِيْ (Fuṣṣilat/41: 31)
Bentuk muḍāri‘ dari fi‘il māḍī “isytahā”. Kata dasarnya (syin-ha-huruf illat). Kata jadiannya “syahwah” artinya sesuatu yang diingini yaitu adanya kecenderungan jiwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang diinginkan bisa benar dan bisa juga tidak demikian. Yang benar adalah jika badan akan terganggu jika tidak mendapatkannya sebagaimana keinginan seseorang terhadap makan dan minum. Yang tidak benar adalah jika badan tidak akan terganggu jika tidak mendapatkannya seperti keinginan terhadap lawan jenis, mendapatkan anak, harta yang melimpah dan lain sebagainya (Surah Āli ‘Imrān/3: 14). Pada konteks ayat yang sedang kita tafsirkan ini Allah menjanjikan kepada penghuni surga segala apa yang diinginkan oleh mereka dari kenikmatan lahiriah maupun maknawi.

