اَلَآ اِنَّهُمْ فِيْ مِرْيَةٍ مِّنْ لِّقَاۤءِ رَبِّهِمْ ۗ اَلَآ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍ مُّحِيْطٌ ࣖ
Alā innahum fī miryatim mil liqā'i rabbihim, alā innahū bikulli syai'im muḥīṭ(un).
Ketahuilah, sesungguhnya mereka dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ketahuilah, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.
Allah lalu mengingatkan Nabi Muhammad dengan menyatakan, “Ingatlah, sesungguhnya mereka dalam keraguan, yakni tidak meyakini tentang pertemuan dengan Tuhan mereka kelak di hari Kiamat. Ingatlah pula, sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu dengan ilmu dan kekuasaan-Nya.”
Ayat ini menerangkan keragu-raguan mereka tentang adanya hari kebangkitan dan hari pembalasan, karena menurut mereka, mustahil orang yang telah mati dapat hidup kembali dan mustahil pula tubuh-tubuh yang telah hancur-luluh bersama tanah itu dapat dikumpulkan, dikembalikan seperti semula dan dapat hidup kembali. Karena keragu-raguan itulah mereka menjadi tidak mampu memperhatikan kebenaran Al-Qur’an dan kerasulan Muhammad saw.
Pada akhir ayat ini Allah memperingatkan orang-orang musyrik dengan peringatan yang keras bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Karena itu Dia akan memberikan balasan dengan seadil-adilnya kepada hamba-hamba-Nya.
1. Al-Āfāq
Kata al-āfāq dalam Al-Qur’an disebut sekali, dalam bentuk plural (jamak). Mufradnya (al-ufuq) disebutkan dua kali, yaitu dalam Surah an-Najm/53: 7 dan Surah at-Takwīr/81: 23. Dalam literatur tafsir, al-āfāq pada Surah Fuṣṣilat/41: 53 ini sekurangnya mengandung lima macam pengertian Pertama, yang dimaksud adalah seantero bumi; kedua, maksudnya semua kejadian atas takdir Allah yang terjadi pada umat terdahulu; ketiga, menjaga planet bumi dalam keadaan mengorbit di angkasa dalam keadaan stabil; keempat, adalah ayat-ayat yang terdapat di langit, seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang; kelima, jejak sejarah para pendusta agama pada masa-masa yang lalu. Tetapi yang paling umum dipahami adalah seantero alam. Dengan pengertian yang terakhir berarti bahwa bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Tuhan akan ditampakkan-Nya, antara lain, di seantero alam ciptaan Allah, baik yang dekat maupun jauh.
2. Muḥīṭ مُحِيْط (Fuṣṣilat/41: 54)
Pada akhir ayat sebelumnya ditegaskan bahwa Tuhan menjadi saksi atas segala sesuatu. Pada akhir ayat 54 ini disebutkan Muḥīṭ yang menunjuk kepada Zat Tuhan. Kata tersebut berasal dari aḥāṭa-yaḥīṭu-muḥ īṭan yang artinya “meliputi”, atau menjangkau. Kalau Tuhan meliputi segala sesuatu, maka itu berarti ia menjangkau dan mengetahui segala sesuatu. Tidak ada suatu apa pun yang luput dari pengetahuan dan jangkauan Tuhan. Kalau pada ayat sebelumnya (ayat 53) Tuhan menjadi saksi atas segala sesuatu, maka pada ujung ayat terakhir surah ini lebih dikuatkan bahwa hal tersebut karena Tuhan memang meliputi atau menjangkau segala sesuatu. Tidak satu hal pun yang lepas dari liputan Tuhan.

