Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 49 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 49 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 472 •  Quarter Hizb 48 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَقَالَ الَّذِيْنَ فِى النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوْا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ الْعَذَابِ

Wa qālal-lażīna fin-nāri likhazanati jahannamad‘ū rabbakum yukhaffif ‘annā yaumam minal-‘ażāb(i).

Orang-orang yang berada di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga (neraka) Jahanam, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab atas kami sehari saja.”

Makna Surat Gafir Ayat 49
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Setelah para penghuni neraka itu menyadari bahwa ketetapan Allah tidak bisa diubah dan siksa yang diterima oleh seseorang tidak dapat diringankan oleh orang lain, maka mereka kemudian menoleh kepada para penjaga neraka. Dan orang-orang yang berada dalam neraka, apakah itu yang menjadi pemimpin ataupun pengikut, berkata kepada para malaikat penjaga-penjaga neraka Jahanam, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu dengan sungguh agar Dia, Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Pemberi Maaf itu, meringankan azab-Nya atas kami walaupun hanya sehari saja.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah orang-orang musyrik yang sedang dalam neraka itu tidak berhasil mendapatkan pertolongan dari para pemimpinnya, maka mereka mohon pertolongan kepada penjaga neraka dengan mengatakan, “Wahai penjaga neraka (Malaikat Malik), mohonkanlah kepada Allah agar Dia meringankan siksa yang telah ditimpakan-Nya kepada kami ini. Seandainya keringanan itu dapat diberikan kepada kami dengan mengembalikan kami ke dunia untuk hidup dan beribadah, maka kembalikanlah kami barang sesaat, mudah-mudahan hal ini dapat mengurangi penderitaan kami.”

Isi Kandungan Kosakata

1. Yataḥājjūna يَتَحاَجُّوْنَ (Gāfir/40: 47)

Kalimat yataḥājjūna merupakan bentuk muḍāri’ yang berasal dari kata ḥājja yang berarti bermaksud atau menuju. ḥaji menjadi istilah untuk ziarah menuju Baitullah dengan cara-cara tertentu yang telah disyariatkan. ḥujjah adalah dalil atau alasan yang jelas yang ditujukan kepada lawan bicara dengan maksud mengalahkannya. Dinamakan ḥujjah karena dalam kata itu terkandung maksud. At-Taḥājj adalah permusuhan atau perselisihan. Iḥtajja bi asy-syai' berarti menjadikannya sebagai hujjah. Al-Muḥājjah adalah meminta lawannya untuk menjawab bantahannya. Dalam Al-Qur’an, kata ḥājja dalam arti meminta dalil (hujjah) terulang sebanyak 20 kali, selebihnya kata ini diulang dalam arti melaksanakan ibadah haji. ḥājja juga diartikan dengan memeriksa dan mengobati dalamnya luka. Bentuk kata kerja ḥājja menunjukkan adanya dua pihak yang saling mengajukan ḥujjah atau dalil dan alasan untuk membantah dan menyalahkan rekannya.

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menceritakan keadaan kaum kafir Mekah kelak di akhirat jika mereka tetap menyembah berhala. Pada ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kaum musyrik akan mendapatkan azab kubur setiap pagi dan petang. Azab selanjutnya adalah mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat nanti. Mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala. Pada saat itulah mereka berbantah-bantahan antara rakyat dan pemimpinnya yang dahulu disembah dan diagung-agungkan. Mereka meminta pertanggungjawaban para penguasa untuk menyelamatkannya dengan alasan merekalah yang dahulu menjadikannya mendapatkan siksaan seperti sekarang ini. Akan tetapi, tidak ada artinya perselisihan tersebut karena mereka yang berkuasa saat di dunia tidak memiliki kekuatan untuk menghindarkan dirinya dari siksaan api neraka. Jawaban para penguasa adalah sekarang tidak ada perbedaan di antara mereka dengan pengikutnya, karena sama-sama ada dalam neraka. Seandainya mereka dapat menyelamatkan diri atau mengurangi siksa yang sedang menimpa ini, tentu mereka akan melakukan dan mengusahakannya untuk diri sendiri lebih dahulu. Akan tetapi, sekarang mereka berada dalam posisi yang sama, berbeda pada saat di dunia dahulu.

2. Mugnūn مُغْنُوْنَ (Gāfir/40: 47)

Kalimat mugnūn merupakan bentuk jamak dari kata mugni yang berarti merasa cukup. Kata ini berasal dari bentuk dasar yang terdiri dari huruf gain, nūn, dan ya'. Ada beberapa macam pengertian dari kata ini, yaitu pertama, tidak membutuhkan sesuatu sama sekali atau tidak menggantungkan kebutuhannya kepada yang lain. Sifat ini hanyalah untuk Allah. Salah satu Asmā' al-ḥusnā adalah al-Ganiyy wa al-Mugniyy (Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi Kekayaan). Dari sini lahir kata gāniyah sebutan untuk wanita yang tidak kawin dan merasa berkecukupan hidup di rumah orang tuanya atau merasa cukup hidup sendirian tanpa bersuami. Kedua, sedikit sekali kebutuhannya atau merasa cukup. Ketiga, yang terpenuhi segala kebutuhannya.

Di dalam Al-Qur’an, kata gāniy terulang sebanyak 20 kali. Dua kali menunjuk kepada manusia, sedang selebihnya menjadi sifat Allah. Sedang-kan kata mugniy tidak ditemukan baik yang menunjuk kepada Allah maupun manusia. Akan tetapi, ditemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang menun-jukkan bahwa Allah memberi kecukupan kekayaan (at-Taubah/9: 28, an-Nūr/24: 32-33). Dalam Al-Qur’an dan hadis, kalimat ini tidak selalu diartikan dengan banyaknya harta kekayaan. Dalam hadis yang cukup populer, Nabi saw mengatakan bahwa gina (kekayaan) tidak dinilai dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan hati.

Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap orang-orang yang lemah yang meminta kepada para pemimpinnya dahulu di dunia untuk mencukupkan siksaan dalam arti menghindarkan dari siksa yang mereka terima dengan alasan merekalah yang menjadikannya seperti itu.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto