وَيُرِيْكُمْ اٰيٰتِهٖۖ فَاَيَّ اٰيٰتِ اللّٰهِ تُنْكِرُوْنَ
Wa yurīkum āyātih(ī), fa ayya āyātillāhi tunkirūn(a).
Dia memperlihatkan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepadamu, maka tanda-tanda (kebesaran) Allah manakah yang kamu ingkari?
Dan Dia telah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya kepadamu. Lalu tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang mana lagi yang kamu ingkari?” Melalui ayat ini diharapkan manusia menyadari keberadaan Allah sebagai Tuhan satu-satunya yang layak dipertuhankan, disembah, dan dimintai pertolongan-Nya.
Demikianlah Allah memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Sebenarnya tidak ada satu pun di antara tanda-tanda itu yang tidak dapat dilihat atau tidak sesuai dengan akal pikiran, sehingga tidak ada jalan bagi manusia untuk mengingkarinya. Jika mereka mengingkarinya, maka alasan keingkaran itu hanyalah alasan yang dicari-cari.
Manāfi‘ مَنَافِعُ (Gāfir/40: 80)
Kata manāfi‘ adalah bentuk jamak yang artinya beberapa manfaat. Bentuk mufradnya ialah manfa‘ah. Berasal dari fi‘il nafi‘a-yanfa‘u-naf‘an- manfa‘atan yang artinya: bermanfaat, berfaedah, dan berguna. Ungkapan pada ayat 80 yaitu: walakum fīhā manāfi‘ artinya “dan kamu memiliki beberapa manfaat dari hewan-hewan ternak tersebut”. Hal ini dijelaskan Allah supaya manusia menyadari berbagai nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada manusia pada hewan-hewan ternak yaitu untuk kendaraan, mengangkut barang-barang, dagingnya untuk dimakan, bulunya untuk pakaian, dan lain-lain. Pada ayat 80 ini juga disebutkan berbagai manfaat dari laut, udara, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Sungguh jika kita menghitung-hitung nikmat Allah pastilah tidak akan terhitung (Surah Ibrāhīm/14: 34 dan an-Naḥl/16: 18). Maka sangat tidak pantas jika manusia tidak menyadarinya dan masih belum mau bersyukur kepada-Nya.
















































