وَقَالَ الَّذِيْٓ اٰمَنَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوْنِ اَهْدِكُمْ سَبِيْلَ الرَّشَادِۚ
Wa qālal-lażī āmana yā qaumittabi‘ūni ahdikum sabīlar-rasyād(i).
Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku! Aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.
Dan orang yang beriman yang menyembunyikan keimanan di hadapan Fir’aun itu berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah aku dengan sungguh-sungguh, niscaya aku nanti akan menunjukkan kepada kalian jalan yang benar yang diridai Allah.
Sekalipun kaum Fir‘aun menentangnya, namun orang yang beriman kepada Musa itu tetap menyeru kaumnya agar mengikuti Nabi Musa. Ia berkata, “Wahai kaumku, jika kamu mengikuti seruanku dan kamu memercayai apa yang telah aku sampaikan, berarti kamu mengikuti jalan yang lurus yang menuju kepada kebahagiaan hidup abadi di akhirat nanti dan berarti pula kamu telah memeluk agama Allah yang disampaikan oleh Musa.
Ayat ini memberikan petunjuk kepada orang-orang yang beriman agar selalu menyampaikan agama Allah kepada manusia dan mengajak mereka ke jalan yang lurus dengan cara yang baik, sekalipun orang-orang kafir mengingkarinya. Hal ini termasuk salah satu tugas yang dipikulkan Allah kepada setiap orang yang beriman. Mereka hendaklah tabah dan sabar melakukan dakwah itu seperti yang telah dilakukan oleh orang yang beriman yang mengikuti seruan Musa.
1. Sabīl ar-Rasyād سَبِيْلَ الرَّشَادِ (Gāfir/40: 38)
Sabīl artinya jalan (biasa). Berbeda dengan ṣirāṭ yaitu jalan yang lebar dan bebas hambatan. Bisa diibaratkan dengan jalan utama atau jalan tol, itu adalah ṣirāṭ, sedangkan jalan-jalan lebih kecil di samping kiri dan kanannya yang bermuara kepadanya adalah sabīl. Dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa sabīl itu banyak. Ada sabīl Allāh ‘jalan Allah’, sabīl Gāfirīn “jalan orang Mukmin’, sabīl al-mujrimīn ‘jalan orang berdosa, sabīl aṭ-Ṭāgūt ‘jalan setan’, dan sebagainya. Bila Anda menempuh jalan, tempuhlah sabīl Allāh atau sabīl Gāfirīn karena kedua jalan itu bermuara pada ṣirāṭ mustaqīm ‘jalan lurus’ yang lebar dan bebas hambatan yang pasti menyampaikan ke surga.
Ar-Rasyād adalah maṣdar dari rasyada-yarsyudu-rusydan-ras yādan artinya “benar”, “lurus”. Dengan demikian, sabīl ar-rasyād maksudnya adalah jalan untuk mencapai kebenaran, petunjuk, kebaikan, dan sebagainya. Itu adalah ucapan seorang keluarga Fir‘aun yang beriman mengajak rakyatnya agar beriman kepada apa yang didakwakan Nabi Musa.
2. An-Najāh النَّجٰوةِ (Gāfir/40: 41)
Kata an-Najāh berasal dari kata naja yanjū yang arti asalnya adalah terpisah dari sesuatu atau terselamatkan. Najā fulān berarti si fulan telah selamat dari sesuatu yang membahayakannya. An-Najwah atau an-najāh adalah tempat yang sangat tinggi yang karena ketinggiannya terpisah dari daerah sekitarnya. Dinamakan demikian karena dataran yang tinggi bisa menyelamatkan dari bahaya banjir.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap kaum yang beriman kepada Allah dari umat Nabi Musa walaupun terjadi intimidasi dan tekanan dari kaum Fir‘aun. Mereka tetap mengajak dan menyeru kaum Fir‘aun dan pengikutnya untuk masuk ke dalam ajaran tauhid. Mereka merasa heran karena sebenarnya apa yang mereka serukan merupakan jalan yang lurus untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat. Keselamatan yang bisa menghindarkan seseorang dari siksaan api neraka dan murka Allah dan menghantarkan seseorang menuju jalan keabadian surgawi. Dalam konteks ini, sang mukmin merasa heran karena begitu jelas dan demikian bermanfaat ajakannya, namun mereka menolaknya bahkan mengajak kepada ajakan yang bertolak belakang. Seruan kaum Fir‘aun untuk menyembah berhala adalah jalan kesesatan dan kesengsaraan yang akan membawanya ke dalam neraka.















































