يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
Yā qaumi innamā hāżihil-ḥayātud-dun-yā matā‘(un), wa innal-ākhirata hiya dārul-qarār(i).
Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.
Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia yang fana ini hanyalah kesenangan sementara yang mudah didapat dan mudah pula lenyap, dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang tidak akan pernah lenyap dan kekal selama-lamanya.”
Pada ayat ini diterangkan bahwa orang yang beriman kepada Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, kehidupan dunia ini adalah kehidupan yang fana, di mana kesenangan serta kebahagiaan yang diperoleh di dalamnya adalah kesenangan dan kebahagiaan yang tidak sempurna serta tidak kekal. Adapun kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal, kesenangan dan kebahagiaan yang diperoleh adalah kesenangan dan kebahagiaan yang sempurna. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali kamu mengingkari Allah dalam kehidupan dunia ini agar kamu terhindar dari siksa-Nya di akhirat nanti.”
1. Sabīl ar-Rasyād سَبِيْلَ الرَّشَادِ (Gāfir/40: 38)
Sabīl artinya jalan (biasa). Berbeda dengan ṣirāṭ yaitu jalan yang lebar dan bebas hambatan. Bisa diibaratkan dengan jalan utama atau jalan tol, itu adalah ṣirāṭ, sedangkan jalan-jalan lebih kecil di samping kiri dan kanannya yang bermuara kepadanya adalah sabīl. Dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa sabīl itu banyak. Ada sabīl Allāh ‘jalan Allah’, sabīl Gāfirīn “jalan orang Mukmin’, sabīl al-mujrimīn ‘jalan orang berdosa, sabīl aṭ-Ṭāgūt ‘jalan setan’, dan sebagainya. Bila Anda menempuh jalan, tempuhlah sabīl Allāh atau sabīl Gāfirīn karena kedua jalan itu bermuara pada ṣirāṭ mustaqīm ‘jalan lurus’ yang lebar dan bebas hambatan yang pasti menyampaikan ke surga.
Ar-Rasyād adalah maṣdar dari rasyada-yarsyudu-rusydan-ras yādan artinya “benar”, “lurus”. Dengan demikian, sabīl ar-rasyād maksudnya adalah jalan untuk mencapai kebenaran, petunjuk, kebaikan, dan sebagainya. Itu adalah ucapan seorang keluarga Fir‘aun yang beriman mengajak rakyatnya agar beriman kepada apa yang didakwakan Nabi Musa.
2. An-Najāh النَّجٰوةِ (Gāfir/40: 41)
Kata an-Najāh berasal dari kata naja yanjū yang arti asalnya adalah terpisah dari sesuatu atau terselamatkan. Najā fulān berarti si fulan telah selamat dari sesuatu yang membahayakannya. An-Najwah atau an-najāh adalah tempat yang sangat tinggi yang karena ketinggiannya terpisah dari daerah sekitarnya. Dinamakan demikian karena dataran yang tinggi bisa menyelamatkan dari bahaya banjir.
Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap kaum yang beriman kepada Allah dari umat Nabi Musa walaupun terjadi intimidasi dan tekanan dari kaum Fir‘aun. Mereka tetap mengajak dan menyeru kaum Fir‘aun dan pengikutnya untuk masuk ke dalam ajaran tauhid. Mereka merasa heran karena sebenarnya apa yang mereka serukan merupakan jalan yang lurus untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat. Keselamatan yang bisa menghindarkan seseorang dari siksaan api neraka dan murka Allah dan menghantarkan seseorang menuju jalan keabadian surgawi. Dalam konteks ini, sang mukmin merasa heran karena begitu jelas dan demikian bermanfaat ajakannya, namun mereka menolaknya bahkan mengajak kepada ajakan yang bertolak belakang. Seruan kaum Fir‘aun untuk menyembah berhala adalah jalan kesesatan dan kesengsaraan yang akan membawanya ke dalam neraka.

















































