Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 40 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 40 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 471 •  Quarter Hizb 47.75 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزٰىٓ اِلَّا مِثْلَهَاۚ وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِيْهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Man ‘amila sayyi'atan falā yujzā illā miṡlahā, wa man ‘amila ṣāliḥam min żakarin au unṡā wa huwa mu'minun fa'ulā'ika yadkhulūnal-jannata yurzaqūna fīhā bigairi ḥisāb(in).

Siapa yang mengerjakan keburukan tidak dibalas, kecuali sebanding dengan keburukan itu. Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, akan masuk surga. Mereka dianugerahi rezeki di dalamnya tanpa perhitungan.

Makna Surat Gafir Ayat 40
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Dialog yang terjadi antara Fir’aun dengan salah seorang kaumnya yang beriman secara sembunyi-sembunyi itu, memberi pesan kuat tentang perbuatan baik dan perbuatan jahat. Oleh sebab itu, renungkanlah bahwa barang siapa mengerjakan perbuatan jahat dan berbuat kebinasaan di muka bumi, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan dan beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman dengan sungguh-sungguh, maka mereka akan masuk ke dalam surga atas anugerah Allah, dan mereka diberi rezeki di dalamnya dengan nikmat tidak terhingga.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Orang yang beriman itu menerangkan kepada kaumnya bagaimana besar pengaruh kehidupan dunia seseorang kepada kehidupan akhiratnya. Ia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku, barang siapa yang mengerjakan suatu kejahatan baik laki-laki maupun perempuan, maka ia hanya diazab sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Akan tetapi, barang siapa yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mengikuti perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka ia akan dimasukkan ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Allah membalas iman dan amal saleh mereka dengan pahala yang berlipat ganda dan rezeki yang tiada terhingga.”

Ayat ini menggambarkan keadilan Allah yang sesungguhnya serta sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dia tidak menganiaya hamba-Nya sedikit pun. Jika Dia mengazab hamba-Nya di akhirat nanti, maka azab yang diberikan itu seimbang dengan perbuatan jahat dan ingkar yang telah dilakukannya selama hidup di dunia, tidak dilebihkan sedikit pun. Akan tetapi, jika Dia membalas iman dan amal saleh hamba-Nya, maka Dia membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.

Isi Kandungan Kosakata

1. Sabīl ar-Rasyād سَبِيْلَ الرَّشَادِ (Gāfir/40: 38)

Sabīl artinya jalan (biasa). Berbeda dengan ṣirāṭ yaitu jalan yang lebar dan bebas hambatan. Bisa diibaratkan dengan jalan utama atau jalan tol, itu adalah ṣirāṭ, sedangkan jalan-jalan lebih kecil di samping kiri dan kanannya yang bermuara kepadanya adalah sabīl. Dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa sabīl itu banyak. Ada sabīl Allāh ‘jalan Allah’, sabīl Gāfirīn “jalan orang Mukmin’, sabīl al-mujrimīn ‘jalan orang berdosa, sabīl aṭ-Ṭāgūt ‘jalan setan’, dan sebagainya. Bila Anda menempuh jalan, tempuhlah sabīl Allāh atau sabīl Gāfirīn karena kedua jalan itu bermuara pada ṣirāṭ mustaqīm ‘jalan lurus’ yang lebar dan bebas hambatan yang pasti menyampaikan ke surga.

Ar-Rasyād adalah maṣdar dari rasyada-yarsyudu-rusydan-ras yādan artinya “benar”, “lurus”. Dengan demikian, sabīl ar-rasyād maksudnya adalah jalan untuk mencapai kebenaran, petunjuk, kebaikan, dan sebagainya. Itu adalah ucapan seorang keluarga Fir‘aun yang beriman mengajak rakyatnya agar beriman kepada apa yang didakwakan Nabi Musa.

2. An-Najāh النَّجٰوةِ (Gāfir/40: 41)

Kata an-Najāh berasal dari kata naja yanjū yang arti asalnya adalah terpisah dari sesuatu atau terselamatkan. Najā fulān berarti si fulan telah selamat dari sesuatu yang membahayakannya. An-Najwah atau an-najāh adalah tempat yang sangat tinggi yang karena ketinggiannya terpisah dari daerah sekitarnya. Dinamakan demikian karena dataran yang tinggi bisa menyelamatkan dari bahaya banjir.

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang sikap kaum yang beriman kepada Allah dari umat Nabi Musa walaupun terjadi intimidasi dan tekanan dari kaum Fir‘aun. Mereka tetap mengajak dan menyeru kaum Fir‘aun dan pengikutnya untuk masuk ke dalam ajaran tauhid. Mereka merasa heran karena sebenarnya apa yang mereka serukan merupakan jalan yang lurus untuk menuju keselamatan dunia dan akhirat. Keselamatan yang bisa menghindarkan seseorang dari siksaan api neraka dan murka Allah dan menghantarkan seseorang menuju jalan keabadian surgawi. Dalam konteks ini, sang mukmin merasa heran karena begitu jelas dan demikian bermanfaat ajakannya, namun mereka menolaknya bahkan mengajak kepada ajakan yang bertolak belakang. Seruan kaum Fir‘aun untuk menyembah berhala adalah jalan kesesatan dan kesengsaraan yang akan membawanya ke dalam neraka.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto