فَلَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَاۗ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهٖ مُشْرِكِيْنَ
Falammā ra'au ba'sanā qālū āmannā billāhi waḥdahū wa kafarnā bimā kunnā bihī musyrikīn(a).
Ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada Allah saja dan kami ingkar kepada sesembahan yang telah kami persekutukan dengan-Nya.”
Maka ketika mereka umat terdahulu itu melihat betapa berat dan mengerikan azab Kami itu, mereka pun berkata dengan nada bermohon, ‘Kami hanya beriman kepada Allah Yang Maha Esa saja, dan kami ingkar kepada sembahan-sembahan yang dahulu kami sembah dan yang telah kami persekutukan dengan Allah.’
Ayat ini menerangkan watak dan kepercayaan manusia yang sebenarnya kepada Allah. Manusia pada dasarnya mempercayai bahwa Tuhan itu adalah Esa, Dialah Yang Mahakuasa dan yang memberikan nikmat kepada hamba-hamba-Nya. Kepercayaan itu dapat tertutupi oleh keadaan yang mempengaruhi kehidupan manusia. Jika sedang berkuasa, kaya, dan dikuasai oleh hawa nafsunya, mereka lupa kepada Allah, bahkan mencari tuhan-tuhan yang lain yang akan disembah, sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Jika mereka ditimpa bahaya, malapetaka, kesedihan, dan sebagainya, mereka kembali ingat dan menghambakan diri kepada Tuhan yang menciptakannya. Di saat itu pula mereka mengingkari tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.
Banyak contoh dan perumpamaan yang dikemukakan Allah dalam ayat-ayat-Nya sehubungan dengan hal ini. Banyak pula orang-orang yang mem-punyai sifat-sifat yang demikian, seperti Fir‘aun, Karun, dan sebagainya.
Sunnatallāh سُنَّتَ اللّٰهِ (Gāfir/40: 85)
Sunnatullāh artinya ketentuan Allah, hukum Allah, dan ketetapan Allah. Fi‘il sanna-yasunnu-sannan mempunyai banyak arti, antara lain menerangkan atau menjelaskan, mengatur dengan baik, menetapkan dan membuat ketentuan. Pada ayat terakhir Surah Gāfir ini, Allah menegaskan bahwa sunnatullāh atau ketentuan Allah sebagaimana telah berlaku pada hamba-hamba-Nya dan seluruh makhluk-Nya akan tetap berlaku pada siapa pun, yaitu setelah manusia disuruh beriman dan taat pada perintah dan larangan-Nya maka akan diberi balasan kebahagiaan surga bagi orang-orang yang taat dan beriman. Akan tetapi, manusia diazab jika ingkar dan menolak perintah-Nya. Apabila seseorang baru akan beriman setelah melihat datangnya siksa Allah, maka keinginan mereka untuk beriman ditolak karena sudah terlambat. Manusia demikian sudah tidak memiliki waktu lagi untuk melaksanakan perintah Allah dan untuk menghindari larangan-Nya. Demikianlah ketentuan Allah yang berlaku untuk semua hamba-Nya, tanpa kecuali.













































