فَلَمَّا جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ فَرِحُوْا بِمَا عِنْدَهُمْ مِّنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ
Falammā jā'athum rusuluhum bil-bayyināti fariḥū bimā ‘indahum minal-‘ilmi wa ḥāqa bihim mā kānū bihī yastahzi'ūn(a).
Ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka. (Pada saat itulah) mereka dikepung oleh (azab) yang dahulu mereka perolok-olokkan.
Mengapa peradaban umat-umat terdahulu itu hancur dan hanya tinggal sejarahnya saja berupa fosil atau tinggalan lainnya? Itu semua tidak lain karena disebabkan oleh kedustaan dan olok-olokan mereka terhadap para rasul yang diutus dari kalangan mereka sendiri. “Maka ketika para rasul yang berasal dari kalangan mereka sendiri, datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata berupa petunjuk dari Allah, mereka membelakangi petunjuk Allah yang dibawa oleh para rasul itu, karena congkak dan sombong, merasa lebih senang dan lebih hebat dengan ilmu yang ada pada mereka, dan karena itu, mereka dikepung oleh azab yang dahulu mereka memperolok-olokkannya.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa kepada umat-umat terdahulu telah datang rasul-rasul yang diutus Allah dengan membawa dalil-dalil dan keterangan-keterangan yang kuat dan nyata. Akan tetapi, mereka tetap mengingkarinya bahkan menentang seruan para rasul itu. Mereka memper-lihatkan kepada para rasul itu betapa kuatnya keyakinan mereka terhadap agama yang mereka anut. Mereka menyangka bahwa ilmu yang mereka peroleh itu adalah ilmu yang tiada tara sehingga mereka memperolok-olokkan para rasul itu. Orang-orang kafir itu akan ditimpa azab yang berat di akhirat.
Ucapan-ucapan mereka itu disebutkan dalam firman Allah:
وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ
… Dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa. (al-Jāṡiyah/45: 24)
Dan firman Allah:
لَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَآ اَشْرَكْنَا وَلَآ اٰبَاۤؤُنَا
…Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami… (al-An‘ām/6: 148)
Sunnatallāh سُنَّتَ اللّٰهِ (Gāfir/40: 85)
Sunnatullāh artinya ketentuan Allah, hukum Allah, dan ketetapan Allah. Fi‘il sanna-yasunnu-sannan mempunyai banyak arti, antara lain menerangkan atau menjelaskan, mengatur dengan baik, menetapkan dan membuat ketentuan. Pada ayat terakhir Surah Gāfir ini, Allah menegaskan bahwa sunnatullāh atau ketentuan Allah sebagaimana telah berlaku pada hamba-hamba-Nya dan seluruh makhluk-Nya akan tetap berlaku pada siapa pun, yaitu setelah manusia disuruh beriman dan taat pada perintah dan larangan-Nya maka akan diberi balasan kebahagiaan surga bagi orang-orang yang taat dan beriman. Akan tetapi, manusia diazab jika ingkar dan menolak perintah-Nya. Apabila seseorang baru akan beriman setelah melihat datangnya siksa Allah, maka keinginan mereka untuk beriman ditolak karena sudah terlambat. Manusia demikian sudah tidak memiliki waktu lagi untuk melaksanakan perintah Allah dan untuk menghindari larangan-Nya. Demikianlah ketentuan Allah yang berlaku untuk semua hamba-Nya, tanpa kecuali.











































