رَفِيْعُ الدَّرَجٰتِ ذُو الْعَرْشِۚ يُلْقِى الرُّوْحَ مِنْ اَمْرِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلَاقِۙ
Rafī‘ud-darajāti żul-‘arsy(i), yulqir-rūḥa min amrihī ‘alā may yasyā'u min ‘ibādihī liyunżira yaumat-talāq(i).
(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki ʻArasy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari Kiamat).
Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Dialah Yang Mahatinggi derajat-Nya, dan Dia pula yang memiliki ‘Arsy, dan yang menurunkan wahyu yakni Al-Qur’an dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya untuk menjadi rasul-Nya, agar rasul itu memperingatkan manusia tentang hari pertemuan, yaitu hari Kiamat.
Pada ayat ini, Allah menyebutkan tiga kemuliaan dan keagungan-Nya, sesudah menyebutkan pada ayat sebelumnya tanda-tanda kebesaran dan keesaan-Nya.
a. Mahatinggi derajat-Nya. Allah jauh lebih Tinggi dan lebih Agung dari segala yang ada. Sebab, segala sesuatu yang selain Allah berhajat kepada-Nya dan tidak sebaliknya. Dia itu azali dan abadi, tidak mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir. Dia mengetahui segala sesuatu, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:
۞ وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ
Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. (al-An‘ām/6: 59)
b. Mempunyai ‘Arasy. Allah memiliki ‘Arasy dan Dia yang mengatur-Nya. Dia-lah yang menguasai alam benda dan yang bukan benda.
c. Menurunkan wahyu. Allah menurunkan wahyu-Nya berisi perintah, baik berupa suruhan atau pun larangan kepada yang dikehendaki-Nya dan menyampaikan hukum-hukum-Nya kepada yang dikehendaki-Nya. Hal seperti itu dinyatakan pula pada ayat lain sebagaimana firman Allah:
يُنَزِّلُ الْمَلٰۤىِٕكَة َ بِالرُّوْحِ مِنْ اَمْرِهٖ عَلٰى مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖٓ اَنْ اَنْذِرُوْٓا اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاتَّقُوْنِ ٢ (النحل)
Dia menurunkan para malaikat membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, (dengan berfirman) yaitu, “Peringatkanlah (hamba-hamba-Ku), bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (an-Naḥl/16: 2)
Dan firman-Nya:
وَاِنَّ ٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ ١٩٣ عَلٰى قَلْبِكَ لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْن َ ۙ ١٩٤ (الشعراۤء)
Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang dibawa turun oleh Ar-RūḤ Al-Amīn (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. (asy-Syu‘arā'/26: 192-194)
Allah menurunkan wahyu untuk memperingatkan manusia tentang adanya hari Kiamat, yaitu ketika yang menyembah dengan yang disembah bertemu, membereskan segala sesuatunya, segala sangkut pautnya yang belum selesai di dunia.
1. Maqt Allāh مَقْتُ الله (Gāfir/40: 10)
Kata yang terambil dari maqata-yamqutu-maqtan. Akar katanya (mim-qaf-ta’) yang berarti jelek, buruk. Pada zaman Jahiliah menikahi istri bapak disebut dengan “nikah maqt”, karena hal ini sangat dibenci dan dimurkai Allah. Al-Asfahanī mengartikan al-maqt dengan kebencian yang sangat terhadap orang yang melakukan sesuatu keburukan.
2. Yaum al-Talāq يَوْمَ التَّلَاق (Gāfir/40: 15)
Yaum berarti hari. Talāq bentuk maṣdar dari talāqā-yatalāqi-talāqiya n, mengikuti wazan tafā‘ala. Yang mempunyai arti adanya dua orang yang bekerja sama dalam satu hal. Jika kemasukan lam ta‘rif dikatakan at-talāqi. Kemudian ya’ nya dibuang, jadinya at-talāq. Kata ini berakar pada (lam-qaf-huruf illat ya’) yang berarti bertemu. Sehingga makna at-talāq adalah saling bertemu. Maksudnya adalah hari Kiamat. Al-Qur’an tidak menyebutkan pertemuan antara siapa dan siapa. Oleh sebab itu, para mufasir mempunyai lahan untuk menyatakan pendapatnya. Menurut mereka, sebagaimana kata al-Khazin, pertemuan itu antara penghuni langit dan bumi, atau antara Allah dan makhluk-Nya, atau yang menyembah dan yang disembah, atau seseorang dengan amalnya, atau yang menzalimi dan yang dizalimi, dan semua makna tersebut memungkinkan.
3. Bārizūn بَارِزُوْنَ (Gāfir/40: 16)
Bentuk isim fa‘il yang fi‘il maḍinya baraza. Akar katanya (ba’-ra’-za’) yang artinya keluar, mencuat, tampak dan lain sebagainya. Kata al-barāz artinya tanah lapang karena orang yang ada di sini akan tampak. Tabarraza artinya buang air besar di tanah lapang. Pada ayat ini digambarkan bahwa manusia pada hari Kiamat akan keluar dari kuburnya masing-masing dalam keadaan terbuka jelas bagi siapapun, tidak tertutupi oleh suatu apa pun.









































