Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 32 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 32 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 470 •  Quarter Hizb 47.75 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

وَيٰقَوْمِ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِۙ

Wa yā qaumi innī akhāfu ‘alaikum yaumat-tanād(i).

Wahai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan (siksaan) hari saling memanggil.667)

Makna Surat Gafir Ayat 32
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Orang yang beriman itu melanjutkan penjelasannya, “Dan sadarilah, wahai kaumku! Sesungguhnya aku benar-benar khawatir terhadapmu akan siksaan yang akan diturunkan pada hari saling memanggil, yakni ketika setiap orang berteriak meminta tolong.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Setelah laki-laki beriman itu memperingatkan kaumnya mengenai siksaan di dunia, ia melanjutkan peringatannya tentang dahsyatnya peristiwa hari Kiamat dan siksaan di akhirat. Pada waktu kiamat terjadi, bumi ini bergoncang hebat sehingga manusia berlarian ke sana ke mari sambil berteriak-teriak meminta tolong. Akan tetapi, siapakah yang akan menolong pada waktu itu karena setiap manusia mengalami peristiwa yang sama dan dirisaukan oleh nasib masing-masing.

Mengenai yaum at-tanād itu (hari panggil-memanggil), terdapat beberapa pendapat ulama:

a. Hari Kiamat, dinamakan demikian karena manusia pada waktu itu berteriak meminta bantuan orang lain sambil berlarian ke sana ke mari menyaksikan bumi bergoncang dan terbelah-belah dengan dahsyatnya.

b. Hari ketika orang-orang kafir di akhirat dihadapkan kepada neraka Jahanam, lalu mereka gempar berlarian ke sana sini untuk menghindar-kan diri, tetapi malaikat mencegat dan menghalau mereka kembali ke Padang Mahsyar itu untuk dijebloskan ke dalam neraka.

c. Hari ketika malaikat menimbang amal manusia. Bila seseorang ternyata berat timbangan amal kebaikannya, orang itu dan orang-orang yang menyaksikannya bersorak-sorak kegirangan menyatakan dengan suara keras bahwa si Fulan bernasib baik, dan sebagainya. Begitu pula ketika seseorang menerima timbangan kebaikannya lebih ringan dari dosanya, ia pun meratap dengan sedihnya, diikuti oleh orang-orang lainnya.

d. Panggil-memangg gil antara penghuni surga dan penghuni neraka tentang apa yang diperoleh masing-masing. Penghuni surga ketika ditanya penghuni neraka apakah sudah memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepada mereka, mereka menjawab dengan mantap bahwa apa yang dijanjikan itu telah mereka nikmati. Di sisi lain, penghuni neraka ketika ditanya hal serupa oleh penghuni surga juga menjawab dengan ucapan yang sama, tetapi dengan suara yang getir, yang menunjukkan bahwa yang mereka peroleh adalah kesengsaraan.

Pada hari Mahsyar, yaitu hari pengadilan Allah, orang-orang kafir telah melihat adanya neraka Jahanam. Oleh karena itu, mereka berlarian ingin menghindar, tetapi para malaikat mencegat dan mengembalikan mereka lagi ke Padang Mahsyar. Pada waktu itu, tidak ada yang bisa menolong orang lain. Jangankan menolong orang lain, menolong dirinya sendiri saja belum tentu mampu. Laki-laki beriman itu memperingatkan kaumnya bahwa ia khawatir sekali peristiwa itu akan menimpa mereka. Bila Fir‘aun yang mereka harapkan, maka ia akan diazab di dalam neraka, tidak akan bisa menolong dirinya, apalagi menolong orang lain pengikut-pengikutnya itu.

Laki-laki beriman itu meminta rakyatnya beriman. Ia khawatir sekali bahwa hati mereka akan tertutup bila mereka tidak mau juga menerima kebenaran. Bila hati sudah tertutup, siapa pun tidak akan mampu membukanya selain Allah.

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaum al-AḤzāb يَوْمَ اْلأَحْزَابِ (Gāfir/40: 30)

Yaum artinya hari, al-aḥzāb merupakan bentuk jamak dari ḥizb. Al-ḥizb adalah sekelompok orang yang mempunyai kekuatan (jama‘atun fīha gilaẓ). Yaumal aḥzāb diartikan sebagai hari (kehancurannya) golongan yang bersekutu. Ayat ini menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada kaum yang durhaka pada masa lalu seperti kaum kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, Samud dan lainnya. Kaum-kaum tersebut berkelompok untuk melawan nabi-nabi mereka

2. Yaum at-Tanād يَوْمَ التَنَاد (Gāfir/40: 32)

At-Tanād patronnya adalah tafā‘ala yang mengandung makna “saling” antara dua pihak. Kata dasarnya nadā-yandū-nadw yang berarti ‘berteriak untuk mengeluh’. Tanādā berarti “panggil-memanggil” untuk meminta pertolongan dari satu sama lainnya. At-Tanād adalah bentuk masdarnya. Dibuangnya ya' karena begitulah tertulis dalam Musḥaf ‘Usmani, dan juga untuk maksud meringankan dalam membacanya.

Yaum at-tanād terjemahannya adalah hari panggil-memanggil. Maksudnya adalah bahwa pada hari itu manusia saling memanggil untuk meminta tolong dari yang lainnya. Akan tetapi, tolong-menolong pada waktu itu tidak mungkin karena manusia sibuk dengan nasibnya masing-masing.

3. Qalb Mutakabbir Jabbār قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (Gāfir/40: 35)

Mutakabbir adalah bentuk kata benda pelaku (isim fā‘il) dari takabbara. Kata dasarnya kabura yang berarti ‘besar’, dijadikan menjadi patron tafa‘‘ala, yaitu dengan menambah ta' dan taḍ‘īf (double) huruf tengahnya (ba'), untuk menghasilkan makna “dipaksa-paksakan melakukan sesuatu”. Jadi, takabbara artinya adalah “memaksa-maksakan membuat atau menganggap diri besar dari orang lain”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “sombong”. Pelaku perbuatan itu disebut mutakabbir ‘orang yang sombong’.

Jabbār adalah patron ṣīgah mubālagah, bentuk kata yang mengandung makna “sangat”, dari jabara ‘memaksa’. Jabbār berarti “orang yang sangat memaksa”. Dengan demikian, qalb mutakabbir jabbār terjemahannya adalah “hati seorang yang amat sombong dan pemaksa”. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah Fir‘aun. Ia sombong sehingga memandang dirinya Tuhan, kejam, dan semena-mena.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto