Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 31 - Surat Gāfir (Maha Pengampun)
غافر
Ayat 31 / 85 •  Surat 40 / 114 •  Halaman 470 •  Quarter Hizb 47.75 •  Juz 24 •  Manzil 6 • Makkiyah

مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ وَالَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗوَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ

Miṡla da'bi qaumi nūḥiw wa ‘ādiw wa ṡamūda wal-lażīna mim ba‘dihim, wa mallāhu yurīdu ẓulmal lil-‘ibād(i).

(Yakni) seperti kebiasaan kaum Nuh, ‘Ad, Samud, dan orang-orang yang datang setelah mereka (yang ditimpa bencana). Allah tidak menghendaki kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.

Makna Surat Gafir Ayat 31
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Yakni seperti kebiasaan kaum Nuh yang ditenggelamkan banjir besar, kaum Ad yang dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin, kaum Samud yang dimusnahkan dengan gempa bumi yang dahsyat, dan orang-orang atau umat yang datang setelah mereka. Padahal Allah tidak menghendaki terjadi kezaliman sedikit pun terhadap hamba-hamba-Nya.”

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Laki-laki beriman dari keluarga Fir‘aun itu menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia khawatir sekali bila mereka tidak mau beriman dan sebaliknya mengikuti perintah Fir‘aun. Mereka akan mengalami nasib yang sama seperti yang telah menimpa umat-umat terdahulu. Umat-umat itu menentang dan mendustakan para rasul yang diutus Allah, seperti umat Nabi Nuh, Kaum ‘Ad, Samud, dan umat-umat setelahnya. Mereka semua telah dimusnahkan Allah dengan berbagai bencana sebagai azab, dan tidak ada seorang pun yang dapat menangkis atau menyelamatkan diri. Itulah yang dimaksud yaumul aḥzāb dalam ayat ini.

Demikianlah hukuman Allah bagi mereka yang kafir di dunia. Allah tidak bertindak aniaya dengan pemusnahan itu, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri dengan melakukan tindakan-tindakan yang mengakibatkan murka-Nya. Allah baru menjatuhkan hukuman bila rasul telah menyampaikan dakwahnya dengan sempurna, dan mereka tidak dapat diperbaiki lagi setelah dinasihati berkali-kali. Peristiwa itu hendaknya dijadikan pelajaran oleh rakyatnya. Orang itu berharap nasihatnya diterima oleh kaumnya dan mereka beriman kepada Nabi Musa, tidak membangkang apalagi membunuhnya

Isi Kandungan Kosakata

1. Yaum al-AḤzāb يَوْمَ اْلأَحْزَابِ (Gāfir/40: 30)

Yaum artinya hari, al-aḥzāb merupakan bentuk jamak dari ḥizb. Al-ḥizb adalah sekelompok orang yang mempunyai kekuatan (jama‘atun fīha gilaẓ). Yaumal aḥzāb diartikan sebagai hari (kehancurannya) golongan yang bersekutu. Ayat ini menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada kaum yang durhaka pada masa lalu seperti kaum kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad, Samud dan lainnya. Kaum-kaum tersebut berkelompok untuk melawan nabi-nabi mereka

2. Yaum at-Tanād يَوْمَ التَنَاد (Gāfir/40: 32)

At-Tanād patronnya adalah tafā‘ala yang mengandung makna “saling” antara dua pihak. Kata dasarnya nadā-yandū-nadw yang berarti ‘berteriak untuk mengeluh’. Tanādā berarti “panggil-memanggil” untuk meminta pertolongan dari satu sama lainnya. At-Tanād adalah bentuk masdarnya. Dibuangnya ya' karena begitulah tertulis dalam Musḥaf ‘Usmani, dan juga untuk maksud meringankan dalam membacanya.

Yaum at-tanād terjemahannya adalah hari panggil-memanggil. Maksudnya adalah bahwa pada hari itu manusia saling memanggil untuk meminta tolong dari yang lainnya. Akan tetapi, tolong-menolong pada waktu itu tidak mungkin karena manusia sibuk dengan nasibnya masing-masing.

3. Qalb Mutakabbir Jabbār قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ (Gāfir/40: 35)

Mutakabbir adalah bentuk kata benda pelaku (isim fā‘il) dari takabbara. Kata dasarnya kabura yang berarti ‘besar’, dijadikan menjadi patron tafa‘‘ala, yaitu dengan menambah ta' dan taḍ‘īf (double) huruf tengahnya (ba'), untuk menghasilkan makna “dipaksa-paksakan melakukan sesuatu”. Jadi, takabbara artinya adalah “memaksa-maksakan membuat atau menganggap diri besar dari orang lain”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “sombong”. Pelaku perbuatan itu disebut mutakabbir ‘orang yang sombong’.

Jabbār adalah patron ṣīgah mubālagah, bentuk kata yang mengandung makna “sangat”, dari jabara ‘memaksa’. Jabbār berarti “orang yang sangat memaksa”. Dengan demikian, qalb mutakabbir jabbār terjemahannya adalah “hati seorang yang amat sombong dan pemaksa”. Yang dimaksud dalam ayat ini adalah Fir‘aun. Ia sombong sehingga memandang dirinya Tuhan, kejam, dan semena-mena.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto