قَالَ اِنَّمَا يَأْتِيْكُمْ بِهِ اللّٰهُ اِنْ شَاۤءَ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُعْجِزِيْنَ
Qāla innamā ya'tīkum bihillāhu in syā'a wa mā antum bimu‘jizīn(a).
Dia (Nuh) menjawab, “Sesungguhnya hanya Allah yang akan mendatangkannya (azab) kepadamu jika Dia menghendaki dan sekali-kali kamu tidak akan dapat melepaskan diri (darinya).
Mendengar jawaban kaumnya, Dia (Nabi Nuh) menjawab, “Hanya Allah yang berwenang dan kuasa akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan dapat melepaskan diri dari azab Allah, ketika azab itu datang.
Pada ayat ini, Allah menerangkan jawaban Nabi Nuh a.s. terhadap tantangan kaumnya yang kafir itu, dengan memberikan penjelasan bahwa urusan mendatangkan azab itu tidak berada dalam kekuasaannya, melainkan dalam kekuasaan Allah Yang Mahakuasa, yang menciptakan alam semesta ini dan berbuat segala sesuatu menurut iradah-Nya. Mereka semestinya tidak perlu tergesa-gesa, bahkan tidak wajar meminta dipercepat datangnya azab Allah itu, sebab apabila azab itu datang sebagaimana yang mereka minta, niscaya mereka tidak akan mampu menolak dan mencegahnya. Sebaliknya, permintaan yang wajar dari mereka ialah supaya azab Allah itu tidak datang. Untuk itu, hendaklah mereka beriman kepada Allah dan mematuhi perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, sebagaimana yang disampaikan kepada mereka.
Jidāl جِدَال (Hūd/11: 32)
Terambil dari kata jadl yaitu saling mengatasi dalam menyampaikan pendapat untuk memperoleh kemenangan. Dalam surah Hūd/11: 32, Allah menceritakan bagaimana sambutan umat Nabi Nuh atas argumentasi yang disampaikannya supaya mereka beriman. Pertama, ia memiliki bukti kenabiannya dari Allah dan membawa rahmat bagi mereka, tetapi mereka membutakan mata mereka. Kedua, ia tidak meminta upah atas pekerjaannya menyeru mereka untuk beriman, karena itu mengapa mereka tidak mau beriman. Ketiga, ia tidak akan mungkin mengusir pengikut-pengikutnya yang beriman yang dikatakan mereka sebagai orang-orang rendahan itu, karena sesungguhnya merekalah yang bodoh karena tidak mau beriman. Keempat, ia memang tidak punya kekayaan, tidak mengetahui yang ghaib, dan bukan malaikat. Kelima, ia tidak percaya bahwa orang-orang yang mereka pandang hina itu tidak akan memperoleh kemuliaan dari Allah. Semua argumentasi itu dipandang oleh umatnya yang kafir itu hanya sebagai bantahan.









































