Geligi Animasi
Geligi Semua Satu Platform
Ayat 48 - Surat Ibrāhīm (Ibrahim)
ابرٰهيم
Ayat 48 / 52 •  Surat 14 / 114 •  Halaman 261 •  Quarter Hizb 26.75 •  Juz 13 •  Manzil 3 • Makkiyah

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

Yauma tubaddalul-arḍu gairal-arḍi was-samāwātu wa barazū lillāhil-wāḥidil-qahhār(i).

(yaitu) hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit. Mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.

Makna Surat Ibrahim Ayat 48
Isi Kandungan oleh Tafsir Wajiz

Siksa itu akan Allah jatuhkan pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit diganti dengan langit yang lain, dan mereka, yakni manusia, berkumpul di Padang Mahsyar untuk menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa guna mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia.

Isi Kandungan oleh Tafsir Tahlili

Ayat ini menerangkan bahwa waktu pembalasan dan pelaksanaan siksa itu ialah pada hari yang bumi ditukar dengan bumi lain, pada saat Allah menghancurkan langit dan segala yang ada di dalamnya dan menukarnya dengan langit yang lain. Pada waktu itu bumi, bulan, dan segala bintang akan berbenturan, sehingga pecah hancur seperti debu dan beterbangan seperti awan, kemudian terjadilah bumi dan langit yang lain.

Berkata Ibnu ‘Abbās, “Bumi yang lain itu tidak lain adalah bumi yang telah berubah sifatnya dari bumi yang sekarang ini, seperti telah berpindah gunungnya, dan tidak mengalir airnya, dan mati lautnya, tidak berombak dan tidak pula tenang.”

Dari ayat dan riwayat Ibnu ‘Abbās di atas dapat dipahami bahwa nanti pada hari kiamat seluruh semesta ini akan hancur lebur. Masing-masing berbenturan dengan yang lain, sehingga pecah bertaburan dan beterbangan di angkasa beberapa waktu lamanya, kemudian membentuk seperti bentuk bumi dan langit, tetapi ia bukan bumi dan langit yang sekarang ini.

Keadaan manusia pada saat itu dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam hadis ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: أَنَا أَوَّلُ النَّاسِ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هٰذِهِ ýeãيَةِ. قَالَتْ، قُلْتُ أَيْنَ النَّاسُ يَوْمَئِذٍ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: عَلَى الصِّراَطِ (رواه مسلم)

Dari ‘Aisyah ia berkata, “Saya adalah manusia yang pertama kali menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw tentang ayat ini.” ‘Aisyah berkata, “Saya menanyakan, “Dimana manusia ketika itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Di atas ṣirāṭ (jalan lurus).” (Riwayat Muslim)

Isi Kandungan Kosakata

Al-Aṣfād الأَصْفَاد (Ibrāhīm/14: 49)

Kata al-aṣfād dalam Al-Qur’an disebutkan dua kali, masing-masing dalam rangkaian kalimat yang sangat mirip. Pertama dalam ayat ini, dan kedua dalam Surah Ṣād/38: 38. Surah Ṣād/38: 38 menyebut kata al-aṣfād dalam kaitan adanya setan yang terikat dalam belenggu, sedangkan dalam ayat 49 Surah Ibrāhīm, kata al-aṣfād muncul untuk menegaskan bahwa pada hari kiamat dapat dilihat orang-orang yang berdosa secara bersama diikat dengan belenggu. Tentang kata al-aṣfād, terdapat tiga macam pendapat. Pertama, menurut pendapat Ibnu ‘Abbās, Ibnu Zaid, Abu Ubaidah, Ibn Qutaibah, al-Zajjaj, dan Ibn al-Anbari, bahwa yang dimaksud dengannya adalah belenggu (al-aglāl). Kedua, menurut Imam Qatadah, maksudnya adalah rantai pengikat dan belenggu (al-quyud wa al-aglāl). Ketiga, menurut Abu Sulaiman al-Dimasyqi, maksudnya adalah rantai pengikat (al-quyud), wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

Penelusuran

  • Pos
  • Akun
  • Baru
  • Film
  • Musik
  • Berita
  • KBBI
  • Kripto