سَرَابِيْلُهُمْ مِّنْ قَطِرَانٍ وَّتَغْشٰى وُجُوْهَهُمُ النَّارُۙ
Sarābīluhum min qaṭirāniw wa tagsyā wujūhahumun-nār(u).
Pakaian mereka dari cairan (seperti aspal) dan wajah mereka ditutup oleh api neraka.
Pakaian mereka terbuat dari cairan aspal yang mempercepat pembakaran, dan wajah mereka ditutup oleh kobaran api neraka yang menyala-nyala.
Ayat-ayat ini menerangkan keadaan manusia waktu dibangkitkan dari kubur setelah kehancuran dunia. Mereka bangkit dari kubur menuju dan berhenti di hadapan Allah Yang Maha Perkasa untuk menerima keputusan hukuman. Pada hari itu, tidak ada teman akrab yang dapat membantu dan menolong, tidak ada anak dan famili yang dapat menghibur hati dari perasaan gundah yang sedang terasa dan tidak seorangpun yang dapat berlindung diri kepada seseorang pun, kecuali kepada Tuhan Yang Mahakuasa.
Setelah Allah swt menggambarkan kekuasaan dan keperkasaan-Nya pada hari itu, Dia menggambarkan kelemahan dan ketidakberdayaan orang-orang yang berdosa waktu itu dengan menerangkan keadaan mereka yang sedang diazab, yaitu:
1. Orang yang berdosa waktu itu diikat menjadi satu dengan yang lain, mulai dari tangan sampai ke kaki mereka bersama-sama dengan sesembahan mereka waktu hidup di dunia. Keadaan mereka ini menunjukkan kesamaan sikap dan tindakan mereka sewaktu hidup di dunia. Karena sama-sama kafir kepada Allah, maka sepantasnya mereka sama-sama mendapat azab pula, sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:
فَكُبْك بُوْا فِيْهَا هُمْ وَالْغَاوٗنَ ۙ ٩٤ وَجُنُوْدُ اِبْلِيْسَ اَجْمَعُوْنَ ۗ ٩٥ (الشعراۤء)
Maka mereka (sesembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat, dan bala tentara Iblis semuanya. (asy-Syu‘arā/26: 94-95)
2. Mereka memakai pakaian yang terbuat dari aspal. Yang dimaksud oleh ayat ini bukanlah pakaian dalam arti yang sebenarnya, tetapi seluruh tubuh orang-orang yang berdosa waktu itu diliputi oleh aspal panas. Dengan demikian, dapat digambarkan empat macam azab yang sedang diderita oleh orang-orang kafir itu, yaitu aspal panas yang membakar dan menghanguskan tubuh, bergejolaklah api di tubuh, warna hitam yang mengerikan, dan bau daging yang membusuk.
3. Muka mereka dijilat api. Senada dengan ayat ini, firman Allah swt:
يَوْمَ يُسْحَبُوْنَ فِى النَّارِ عَلٰى وُجُوْهِهِمْۗ ذُوْقُوْا مَسَّ سَقَرَ ٤٨ (القمر)
Pada hari mereka diseret ke neraka pada wajahnya. (Dikatakan kepada mereka), “Rasakanlah sentuhan api neraka.” (al-Qamar/54: 48)
Al-Aṣfād الأَصْفَاد (Ibrāhīm/14: 49)
Kata al-aṣfād dalam Al-Qur’an disebutkan dua kali, masing-masing dalam rangkaian kalimat yang sangat mirip. Pertama dalam ayat ini, dan kedua dalam Surah Ṣād/38: 38. Surah Ṣād/38: 38 menyebut kata al-aṣfād dalam kaitan adanya setan yang terikat dalam belenggu, sedangkan dalam ayat 49 Surah Ibrāhīm, kata al-aṣfād muncul untuk menegaskan bahwa pada hari kiamat dapat dilihat orang-orang yang berdosa secara bersama diikat dengan belenggu. Tentang kata al-aṣfād, terdapat tiga macam pendapat. Pertama, menurut pendapat Ibnu ‘Abbās, Ibnu Zaid, Abu Ubaidah, Ibn Qutaibah, al-Zajjaj, dan Ibn al-Anbari, bahwa yang dimaksud dengannya adalah belenggu (al-aglāl). Kedua, menurut Imam Qatadah, maksudnya adalah rantai pengikat dan belenggu (al-quyud wa al-aglāl). Ketiga, menurut Abu Sulaiman al-Dimasyqi, maksudnya adalah rantai pengikat (al-quyud), wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.

















































