لِيَجْزِيَ اللّٰهُ كُلَّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Liyajziyallāhu kulla nafsim mā kasabat, innallāha sarī‘ul-ḥisāb(i).
(Demikian itu) agar Allah memberi balasan kepada setiap orang atas apa yang dia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha Cepat perhitungan(-Nya).
Itu semua dilakukan agar Allah terbukti memberi balasan kepada setiap orang durhaka terhadap apa yang telah dia usahakan di dunia. Sungguh, Allah Mahacepat perhitungan-Nya, Mahatepat, dan Mahaadil.
Allah swt melakukan yang demikian itu pada hari kiamat adalah untuk memberi pembalasan kepada manusia terhadap apa yang pernah mereka kerjakan selama hidup di dunia. Mereka memperoleh pahala atau siksa neraka sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Pada hari itu, Allah swt menghisab dengan cepat hamba-Nya.
Al-Aṣfād الأَصْفَاد (Ibrāhīm/14: 49)
Kata al-aṣfād dalam Al-Qur’an disebutkan dua kali, masing-masing dalam rangkaian kalimat yang sangat mirip. Pertama dalam ayat ini, dan kedua dalam Surah Ṣād/38: 38. Surah Ṣād/38: 38 menyebut kata al-aṣfād dalam kaitan adanya setan yang terikat dalam belenggu, sedangkan dalam ayat 49 Surah Ibrāhīm, kata al-aṣfād muncul untuk menegaskan bahwa pada hari kiamat dapat dilihat orang-orang yang berdosa secara bersama diikat dengan belenggu. Tentang kata al-aṣfād, terdapat tiga macam pendapat. Pertama, menurut pendapat Ibnu ‘Abbās, Ibnu Zaid, Abu Ubaidah, Ibn Qutaibah, al-Zajjaj, dan Ibn al-Anbari, bahwa yang dimaksud dengannya adalah belenggu (al-aglāl). Kedua, menurut Imam Qatadah, maksudnya adalah rantai pengikat dan belenggu (al-quyud wa al-aglāl). Ketiga, menurut Abu Sulaiman al-Dimasyqi, maksudnya adalah rantai pengikat (al-quyud), wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb.
















































