
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Zaman berubah perilaku tak berubah
Orang berubah tingkah laku tak berubah
Wajah berubah kok menjadi lebih susah
Manusia berubah, berubah-rubah
Makna lirik lagu ini menggambarkan realitas perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia... tampilkan semua
Gandhi yang dicari yang ada komedi
Revolusi dinanti yang datang Azhari
Lembaga berdiri berselimut korupsi
Wibawa menjadi alat melindungi diri
Makna lirik lagu ini menggambarkan keresahan masyarakat terhadap kondisi sosial dan politi... tampilkan semua
Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian
Agama sebagai topeng yang menjijikkan
Kemiskinan merajalela
Yang kaya makin rakus saja
Hukum dan kesehatan diperjualbelikan
Makna lirik lagu ini mencerminkan kritik sosial yang tajam terhadap kondisi masyarakat, di... tampilkan semua
Kesaksian tergusur oleh kepentingan ngawur
Pemerintah keasyikan berpolitik (ngawur)
Partai politik sibuk menuhankan uang (ngawur)
Ada rakyat yang lapar makan daun dan arang
Makna lirik lagu ini mencerminkan kritik tajam terhadap kondisi sosial dan politik di suat... tampilkan semua
Televisi sibuk mencari iklan
Sementara banyak yang tunggu giliran
Rakyat dan sang jelata
Menatap dengan mata kosong
Di mana aku?
Apa ditelan Tsunami?
Makna lirik lagu ini mencerminkan kritik sosial terhadap keadaan masyarakat yang terabaika... tampilkan semua
Lagu "Rubah" yang diusung oleh Iwan Fals merupakan sebuah karya yang sarat dengan kritik sosial terhadap perubahan zaman dan kondisi masyarakat yang semakin kompleks. Melalui liriknya, Iwan Fals mengupas tuntas berbagai isu yang mencerminkan pergeseran nilai dan moral di tengah masyarakat kita. Mari kita telaah lebih dalam makna dan pesan yang terkandung dalam lirik-liriknya.
Perubahan Zaman dan Tak Berubahnya Perilaku
Baris pertama lagu ini secara tegas menyatakan, "Zaman berubah perilaku tak berubah". Ungkapan ini menggambarkan fenomena di mana meskipun banyak perubahan eksternal yang terjadi di dalam masyarakat, nilai dan perilaku individu justru tampak stagnan. Iwan Fals menyoroti bahwa apa yang terlihat di luar tidak mencerminkan perubahan yang seharusnya terjadi di dalam diri manusia. Hal ini menuntut kita untuk berpikir kritis mengenai kesenjangan antara apa yang kita lihat dan realitas yang ada.
Kritik Terhadap Kepemimpinan dan Korupsi
Lirik yang menyebut "Lembaga berdiri berselimut korupsi" dan "Wibawa menjadi alat melindungi diri" menunjukkan kekecewaan Iwan terhadap lembaga-lembaga pemerintah yang seharusnya melindungi rakyat, namun malah justru menjadi sarang korupsi. Dalam hal ini, Iwan menggarisbawahi bahwa kepercayaan terhadap institusi pemerintahan sedang dalam kondisi yang memprihatinkan. Ini adalah panggilan untuk kesadaran kolektif kita sebagai masyarakat agar lebih kritis dan berani menuntut pertanggungjawaban.
Masalah Pendidikan dan Agama
Selanjutnya, lirik yang menyebutkan "Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian" menyoroti kondisi pendidikan yang terabaikan, menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap sektor ini yang sering kali diabaikan oleh para penguasa. Agama juga diangkat dalam bentuk kritik, dengan ungkapan "Agama sebagai topeng yang menjijikkan", yang menunjukkan bahwa nilai spiritualitas sering diperalat untuk kepentingan individu atau kelompok.
Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial
Kemiskinan yang merajalela di tengah masyarakat adalah isu lain yang tidak luput dari sorotan. Iwan Fals menekankan bahwa "Ada rakyat yang lapar makan daun dan arang", menggambarkan betapa parahnya kondisi sebagian besar masyarakat yang terpinggirkan. Lagu ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kesenjangan sosial yang ada, di mana suara rakyat kecil sering kali terabaikan.
Peran Media dan Politisi
Dalam liriknya, Iwan juga mencermati peran media yang lebih fokus pada "Televisi sibuk mencari iklan", dibandingkan dengan realitas yang dihadapi rakyat. Media seharusnya berfungsi sebagai alat kontrol sosial, tetapi dalam lagu ini, ia digambarkan sebagai entitas yang mengejar keuntungan daripada menyuarakan kebenaran. Politisi juga mendapat sorotan tajam, di mana Iwan menyatakan bahwa "Partai politik sibuk menuhankan uang", menegaskan bahwa kepentingan pribadi sering kali lebih didahulukan daripada kepentingan rakyat.
Patah Hati dan Keresahan Rakyat
Secara keseluruhan, lirik-lirik dalam lagu “Rubah” merefleksikan patah hati dan keresahan rakyat yang merasa diabaikan. Ungkapan "Di mana aku? Apa ditelan Tsunami?" menunjukkan kebingungan dan ketidakberdayaan, seolah menanyakan di mana keberadaan suara mereka di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang serba tidak pasti.
Kesimpulan
Dengan segala kritik yang mahal ini, Iwan Fals berhasil menciptakan lirik yang berani, tajam, dan penuh makna. Lagu “Rubah” tidak hanya sekadar hiburan, tetapi merupakan sebuah panggilan untuk refleksi dan aksi. Ini adalah pengingat bagi kita semua untuk lebih peka dan proaktif dalam menghadapi tantangan zaman, serta tidak melupakan suara-suara kecil yang berjuang di tengah kesulitan hidup. Iwan Fals, melalui lagu ini, mengajak kita untuk menggali lebih dalam pencarian makna dan keadilan dalam kehidupan.










































