وَسَلٰمٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوْتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا ࣖ
Wa salāmun ‘alaihi yauma wulida wa yauma yamūtu wa yauma yub‘aṡu ḥayyā(n).
Kesejahteraan baginya (Yahya) pada hari dia dilahirkan, hari dia wafat, dan hari dia dibangkitkan hidup kembali.
Karena sifat terpujinya itu, Yahya didoakan agar keselamatan dan kesejahteraan selalu diperuntukkan bagi dirinya serta terhindar dari keburukan dan kekurangan pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali di Padang Mahsyar setelah hari kebangkitan kelak.
Allah menerangkan pahala kebajikan Nabi Yahya itu karena ketaatan dan kesalehannya, keselamatan, kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan ke dunia, dan pada hari ia wafat meninggalkan dunia yang fana ini serta pada hari ia dibangkitkan hidup lagi pada hari Kiamat. Disebutkannya tiga peristiwa ini, karena setiap manusia pada ketiga masa itu sangat membutuhkan rahmat dan karunia Tuhan.
1. Bi quwah بِقُوَّةٍ (Maryam/19:12)
Artinya dengan sungguh-sungguh. Kata quwwah dalam Al-Qur’an kebanyakan memakai isim nakirah kecuali pada tiga tempat saja yang memakai isim makrifat yaitu pada surah aż-Żāriyāt/51:58 (żul quwwah) dan al-Baqarah/2:165 (annal-quwwah) dan al-Qaṣaṣ/28:76 (ulul quwah). Penggunaan kata quwwah dalam isim nakirah mempunyai arti bahwa kekuatan dan keteguhan dalam ha1 yang menjadi bahan pembicaraan itu sedemikian rupa, tak bisa dibayangkan kadarnya. Pada ayat ini Nabi Yahya diperintahkan untuk mengambil kitab Taurat dengan segala keteguhan, kesungguhan dan keyakinan yaitu dengan membacanya secara baik, benar dan serius, lalu memahami maknanya dan mengamalkan isi kandungannya. Seorang yang memegang satu tali dengan kuat dan erat, tidak akan mudah lepas.
2. Ḥanānā حَنَانًا (Maryam/19:13)
Ḥanānā artinya rasa belas kasihan yang mendalam. Kata al-ḥanīn dipergunaan untuk rasa kerinduan yang mendalam, atau belas kasihan. Perasaan ini kadangkala disertai dengan suara yang memelas. Dari sini maka kata al-ḥanīn digunakan untuk rasa belas kasihan sama orang lain, sehingga identik dengan rahmah. Pada ayat ini Nabi Yahya diberi anugerah oleh Allah berupa pemberian hikmah atau pemahaman terhadap kitab Taurat, dan pemahaman yang mendalam terhadap agama selagi masih kanak-kanak, kesucian dan mempunyai rasa belas kasihan kepada orang lain.







































