لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْـًٔا اِدًّا ۙ
Laqad ji'tum syai'an iddā(n).
Sungguh, kamu benar-benar telah membawa sesuatu yang sangat mungkar.
Wahai orang kafir yang berkeyakinan demikian, sadarlah bahwa sesungguhnya kamu telah membawa sesuatu yang sangat mungkar dan bertetangga dengan akal sehat dan hati nurani.
Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak baik mereka itu dari kaum musyrik Mekah, orang Yahudi, orang Nasrani maupun penganut agama lain, adalah orang-orang yang sesat karena telah mengucapkan ucapan yang sangat tidak menyenangkan dan telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah. Perkataan itu sangat mungkar, tidak dapat diterima oleh akal dan sangat bertentangan dengan sifat-sifat Allah Yang Maha Esa, Maha Pencipta, Mahakuasa dan Mahaperkasa. Allah sangat murka terhadap mereka karena kelancangan mulut mereka merendahkan martabat Yang Mahatinggi seakan-akan Allah disamakan dengan manusia dan makhluk-makhluk-Nya yang lain yang membutuhkan keturunan yang akan melanjutkan kelangsungan eksistensinya di kemudian hari dan yang akan menolong membantunya di kala ia telah menjadi lemah tak berdaya. Padahal Dia-lah Yang Hidup Kekal, senantiasa berdiri sendiri tidak memerlukan pertolongan atau bantuan dari selain-Nya, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
اَللّٰه لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ ٢
Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus-mengurus (makhluk-Nya). (Āli ‘Imrān/3: 2)
Allah mencela mereka dengan keras dan mengatakan bahwa mereka dengan ucapan seperti itu telah mengatakan sesuatu yang sangat mungkar sekali, ucapan yang tidak sepatutnya keluar dari mulut makhluk-Nya yang diciptakan-Nya sendiri, makhluknya yang telah dianugerahi-Nya akal dan pikiran agar dia dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil.
1. Iddā اِدًّا (Maryam/19: 89)
Lafal ادّا (dengan hamzah dibaca kasroh) berarti perkara yang mengerikan, juga berarti bencana atau malapetaka besar. Tetapi lafal yang hampir sama yaitu ادّا (dengan hamzah dibaca fathah) berarti kemenangan, kekuatan atau sesuatu yang hebat dan dahsyat. Fi’il atau kata kerja, ادّ- يؤد - اِدّا او اَدّا artinya menyusahkan atau meresahkan hati. Dalam ayat 89 surah Maryam ini maksudnya orang-orang yang berpendapat bahwa Allah mempunyai anak adalah sampai pada puncak kedurhakaan yang me-ngakibatkan malapetaka yang sangat besar karena merupakan perkara yang sangat mungkar. Dalam ayat-ayat berikutnya terutama ayat 90 digambarkan seperti langit hampir pecah, bumi hampir terbelah dan gunung-gunung seakan runtuh. Apalagi jika menuduh Allah memiliki anak perempuan, padahal orang kafir Quraisy sangat tidak senang jika memiliki anak perempuan, maka tuduhan mereka betul-betul sudah sangat keterlaluan dalam memperolok-olokkan Tuhan, sangat bertentangan dengan akal sehat.
3.Haddan هَدًّا (Maryam/19: 95)
هَدَّا (haddan), terdiri dari tiga huruf, د د هـ. Dari pecahan tiga huruf ini muncul kata هَدَّا (haddan) artinya pecah menjadi berkeping-keping, atau runtuhnya suatu benda yang berat atau besar. الهِدَّة (al-hiddah) suara jatuhnya benda tersebut, seperti pada Maryam/19: 90. الهِدُّ (al-hidda) artinya pengecut dan هَدَّدَ (haddada) artinya mengancam.
Dalam Maryam/19: 88 telah dijelaskan perkataan mereka bahwa Allah memiliki anak. Maka dalam ayat ini dijelaskan dampak dari perkataan tersebut, yaitu hampir saja bumi yang mereka pijak terbelah dan gunung-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka menyatakan bahwa ar-Raḥman Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.



























